Catatan Denun | Ancoe Amar dan Monolog Hukum Mencuci Piring

  • Whatsapp
Pementasan ini akan dibawakan oleh Syam Ancoe Amar dari Teater Kedai, Depok, Jawa Barat. Acara akan diselenggarakan pada: Sabtu, 25 Oktober 2025. 21.00–22.00 WITA. Aula Benteng Rotterdam, Makassar
  • Kita perlu menghidupkan kembali pertanyaan paling dasar: apa yang sebenarnya kita bersihkan setiap kali mencuci piring? Diri yang kotor? Pikiran yang penuh? Atau mungkin dosa-dosa kecil yang kita biarkan menumpuk tanpa pernah benar-benar kita basuh?
  • Sebuah Renungan tentang Diri, Tanggung Jawab, dan Kesadaran Kecil yang Terlupakan_

PELAKITA.ID – Dalam kehidupan sehari-hari, mencuci piring sering dianggap sebagai pekerjaan sepele—rutinitas rumah tangga yang tak perlu dipikirkan terlalu dalam. Namun di tangan Rizal Iwan, kegiatan sederhana itu menjelma menjadi metafor tajam tentang tanggung jawab, kebersihan batin, dan kesadaran sosial.

Melalui naskah monolog berjudul “Hukum Mencuci Piring”, ia mengajak penonton merenungkan bagaimana tindakan kecil bisa menjadi cermin dari cara manusia memaknai kehidupan.

Monolog ini akan dipentaskan oleh Syam Ancoe Amar, aktor teater dari Teater Kedai, Depok, Jawa Barat, yang dikenal karena kemampuannya mengolah emosi dan menghadirkan keintiman di atas panggung.

Dalam pementasan berdurasi sekitar satu jam ini, Ancoe Amar yang di DNA-nya mengalir semangat Sulawesi ini ingin menghidupkan sosok yang bergulat dengan suara hatinya sendiri—tentang dosa yang menempel, tentang kebersihan yang tak hanya fisik, tetapi juga spiritual.

“Mencuci piring” di sini bukan sekadar aktivitas domestik, melainkan ritual pembersihan diri. Ia menjadi hukum batin yang menguji kesadaran manusia terhadap tanggung jawab sekecil apapun—baik kepada sesama, kepada lingkungan, maupun kepada dirinya sendiri.

Naskah ini menyingkap absurditas modern: betapa manusia sering menunda membersihkan kekacauan yang diciptakannya, baik di dapur rumah maupun di ruang pikirannya.

Disutradarai dan dibawakan Ancoe Amar dalam bingkai Festival Kala Monolog di Aula Benteng Rotterdam, Makassar, Sabtu 25 Oktober 2025 (pukul 21.00–22.00 WITA), pertunjukan ini menjadi bagian dari upaya Kala Teater dan Makassar Teater Network (MTN) untuk merayakan keberagaman ekspresi teater monolog di Indonesia.

Dengan dukungan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan, serta berbagai komunitas seni, pementasan ini menghadirkan pertemuan antara teks, tubuh, dan ruang reflektif yang memancing tafsir.

Pihak pendukung, antara lain:

  • Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia

  • MTN (Makassar Teater Network)

  • Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan

  • Kala Teater

  • Festival Kala Monolog

Bagi Syam Ancoe Amar sebagaimana disampaikan ke penulis, teater bukan sekadar medium berekspresi, melainkan cara untuk berdialog dengan nurani.

”Kita perlu menghidupkan kembali pertanyaan paling dasar: apa yang sebenarnya kita bersihkan setiap kali mencuci piring? Diri yang kotor? Pikiran yang penuh? Atau mungkin dosa-dosa kecil yang kita biarkan menumpuk tanpa pernah benar-benar kita basuh?” tanyanya.

Bagi Ancoe, “Hukum Mencuci Piring” bukan sekadar pertunjukan—ia adalah pengakuan sunyi dan ritual perenungan bagi siapa pun yang merasa pernah menunda pekerjaan kecil, namun penting, dalam hidupnya.

___
Denun

Sorowako, 23 Oktober 2025