Oleh: Mustamin Raga
Penulis Buku “Suara dari Pelukan Kabut”
PELAKITA.ID – Di antara deru kendaraan dan debu pagi yang belum reda, terdengar suara parau namun penuh semangat menyusup di sela-sela pagar rumah:
“Juku… juku beru… juku beru sambalu…”
Itulah suara penjual ikan keliling — suara yang mungkin terdengar sumbang bagi telinga yang terbiasa hening, namun bagi sebagian ibu rumah tangga, itu adalah tanda datangnya protein untuk anak-anak mereka.
Seorang pria atau perempuan tangguh, dengan sepeda motor, gerobak kecil, atau sekadar tas besar di tangan, membawa laut ke darat — membawa hasil bumi biru ke pintu-pintu rumah.
Mereka bukan nelayan, bukan pula pembudidaya. Mereka tidak tercatat dalam kolom-kolom strategis dokumen kebijakan. Dalam berita perikanan, mereka jarang disorot. Dalam anggaran bantuan sosial, tak ada kode kegiatan untuk mereka. Dalam struktur formal, mereka tak memiliki asosiasi.
Namun dalam kehidupan nyata, mereka adalah urat nadi distribusi protein laut ke perut rakyat. Mereka penjual ikan — pejuang ekonomi mikro yang tak tercatat, simpul penting dalam rantai pasok yang kerap dilupakan.
Yang Datang Lebih Pagi dari Matahari
Pukul enam pagi, mereka sudah tiba di pasar ikan. Dengan modal seadanya — hasil pinjaman atau tabungan kecil yang tak pernah utuh — mereka menawar ikan terbaik. Mereka tahu apa yang paling dicari para ibu: bandeng tanpa duri, kembung segar, atau tongkol yang tak terlalu amis.
Plastik-plastik berisi ikan diikat di stang motor, atau dikemas dalam ember berisi es. Lalu mereka mulai berkeliling. Suara mereka harus lebih keras dari klakson mobil, tapi lebih lembut dari radio yang menyala di ruang keluarga.
Setiap pintu yang terbuka adalah harapan.
Setiap tatapan sinis adalah tantangan.
Setiap tawar-menawar adalah adu logika dan empati.
Dan setiap transaksi, sekecil apa pun, adalah penyambung hidup.
Mereka menjual tanpa etalase.
Tanpa kemasan mewah.
Tanpa aplikasi online.
Tanpa promo bank.
Mereka menjual dengan suara, dengan tenaga, dan dengan keberanian.
Tentang Peran yang Tak Pernah Dihitung
Penjual ikan keliling adalah penggerak distribusi informal yang sejatinya sangat strategis. Mereka menyebarkan protein laut ke wilayah yang tak dijangkau supermarket, memastikan keluarga menengah ke bawah tetap memiliki akses terhadap sumber gizi penting.
Mereka juga membantu menjaga kestabilan harga di tingkat konsumen — menjadi stabilisator mikro dalam ekonomi pangan laut.
Namun betapa ironis, sistem tidak memberi mereka tempat.
Anggaran besar disusun untuk pembudidaya dan eksportir.
Bantuan disalurkan ke koperasi nelayan dan kelompok pengolah.
Sertifikasi dan pelatihan diberikan kepada yang punya izin.
Sementara mereka — yang tak punya waktu menulis proposal bantuan, tak kuasa membuat laporan kegiatan, dan tak memiliki pendamping organisasi — hanya bisa berharap dari hasil jualan hari ini.
Yang Hidupnya Pas-Pasan tapi Tak Pernah Berhenti
Sebagian besar hidup dalam kekurangan. Banyak di antara mereka adalah kepala keluarga yang bergantung pada penghasilan harian yang tidak menentu. Harga ikan bisa naik turun, cuaca bisa mengganggu pasokan, dan konsumen bisa beralih ke makanan cepat saji.
Namun mereka tetap bertahan. Karena hidup bukan tentang kepastian, melainkan keberanian untuk terus mencoba.
Karena anak-anak mereka harus tetap sekolah.
Karena dapur sendiri pun harus tetap mengepul.
Kadang, saat dagangan tak laku, mereka pulang dengan sisa ikan untuk makan malam — dan sedikit rasa kecewa.
Tapi esok hari mereka kembali lagi, dengan semangat yang sama, teriakan yang sama, dan harapan yang belum padam.
Mereka yang Tak Tercatat tapi Nyata
Jika distribusi adalah bagian dari keadilan, maka penjual ikan keliling adalah pelaku keadilan pangan yang sesungguhnya. Jika pemerataan adalah cita-cita pembangunan, maka merekalah aktor lapangan yang bekerja tanpa pengakuan.
Mungkin sudah saatnya mereka dilihat — diberi tempat dalam struktur kebijakan, disediakan akses pelatihan, subsidi, atau perlindungan sosial.
Dibantu dengan teknologi sederhana yang bisa mereka gunakan.
Didengarkan ceritanya. Dihitung jasanya. Dicatat namanya.
Sebab mereka tidak menuntut fasilitas, mereka hanya ingin hidup lebih layak. Dan selama ini, mereka telah bekerja — jauh lebih keras dari banyak yang dilayani.
Dalam simfoni besar pembangunan perikanan, suara mereka mungkin tak nyaring.
Namun justru dalam kesenyapan itulah mereka menjaga keseimbangan.
Kita mungkin tak mengingat nama mereka,
tetapi tubuh kita yang sehat karena ikan yang mereka antar
adalah bukti tak terbantahkan bahwa peran mereka nyata.
Mereka bukan tokoh utama dalam berita,
tapi pahlawan dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka tak tercatat dalam lembar APBN,
tapi tertulis dalam sejarah dapur-dapur rakyat kecil.
Dan sejarah, sering kali, dimulai dari suara kecil yang terus berulang:
“Juku… juku beru sambalu…”
Malino, 11 Oktober 2025
