Penulis Rustan Rewa, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Tolitoli, Pengurus IKA Unhas dan KKSS Tolitoli.
PELAKITA.ID – Hari ini, genap tujuh tahun sejak bencana dahsyat melanda Palu, Sigi, dan Donggala—atau yang kini dikenal sebagai Pasigala.
Gempa bumi dan tsunami pada 28 September 2018 bukan hanya meninggalkan luka mendalam, tetapi juga jejak cerita haru, duka, sekaligus kekuatan iman dan kebersamaan
Ketika itu saya masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian di Tolitoli. Malam itu saya terbangun untuk melaksanakan salat tahajud.
Seusai salat, saya mencoba menyalakan televisi. Ternyata ada berita gempa di Mamuju. Spontan saya mencoba menghubungi keluarga di Palu, namun sambungan telepon tidak bisa terhubung.
Saya lalu menyampaikan kepada istri, “Mari kita tenang dan berdoa. Semoga semua yang terjadi ini berada dalam lindungan Allah SWT.” Malam itu saya tidak bisa tidur nyenyak, hanya bisa berharap kabar baik.
Keesokan paginya, Sabtu, saya menghadap Pak Sekda untuk meminta izin menuju Palu.
Beliau berpesan, “Tolong siapkan kebutuhan siap saji, isi mobilmu dengan aqua, bensin, dan perlengkapan lain sebagai persiapan.” Saya jawab dengan mantap, “Insyaallah, Pak Sekda.”
Setelah berpamitan dan menenangkan keluarga, saya juga mengajak teman-teman kantor untuk mendampingi perjalanan. Alhamdulillah, kami berangkat dari Tolitoli, dan pada Minggu pagi akhirnya kami sudah tiba di Kota Palu.
***
Saya, masih mengingat jelas hari-hari penuh kecemasan itu. Waktu itu, menjelang subuh, saya dan beberapa rekan sedang berada di Toboli. Kami sempat ragu untuk melanjutkan perjalanan menuju Kota Palu.
Warga sekitar memberi peringatan, agar hati-hati jika hendak masuk ke kota tanpa pengawalan. Situasi masih mencekam. Mobil yang melintas dikabarkan berisiko tinggi, terutama di sekitar Mamboro.
Saya kemudian berkata kepada sopir, Pak Syamsuddin Dani, “Kalau begitu mari kita berhenti dulu. Kita shalat subuh di Puncak Kebun Kopi.” Alhamdulillah, saya masih bisa menunaikan shalat subuh di sana, dengan hati penuh doa untuk keselamatan perjalanan.
Selesai shalat, kami kembali berdiskusi. Akhirnya saya meminta izin untuk menggantikan sopir, mengambil alih kemudi agar bisa melanjutkan perjalanan memasuki Palu.
Sebelum berangkat, saya berpesan kepada rekan-rekan, “Jika nanti ada yang menahan kita di jalan, diam saja.
Semua yang ada di dalam mobil ini sudah kita siapkan sebagai bagian dari rezeki untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana.” Dengan niat tulus itu, kami melanjutkan perjalanan, mengucapkan Bismillah.
Saat memasuki Mamboro, saya melihat mobil di depan kami diberhentikan. Hati saya berdebar. Namun, saya berbisik kepada Pak Yudi, “Insha Allah, kita aman, kita berserah diri pada yang di atas.”
Benar saja, kami bisa melanjutkan perjalanan tanpa hambatan berarti.
Tujuan utama saya saat itu adalah Masjid Kampus Universitas Tadulako (Untad). Di tempat itu, saya mendapat kabar anak saya ikut berlindung saat tsunami menerjang.

Ketika bertemu dengannya, saya hanya bisa menangis penuh rasa syukur. Anak saya selamat karena pada saat itu ia sedang menunaikan shalat magrib di masjid tersebut.
Dengan perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kami dipertemukan kembali dalam keadaan selamat.
Bagi saya, pengalaman itu bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Di tengah ketakutan, Allah memberikan kekuatan.
Di tengah ancaman, kami berserah diri. Allah memberi perlindungan. Dan di tengah bencana, saya menyaksikan bagaimana masyarakat saling menolong, berbagi, dan menguatkan.
Kini, tujuh tahun telah berlalu. Luka memang belum sepenuhnya hilang, tetapi kisah ini saya tuliskan untuk mengingatkan kembali: betapa rapuhnya kita di hadapan takdir, sekaligus betapa kuatnya doa, ikhtiar, dan kebersamaan dalam menghadapi ujian.
Semoga para korban yang telah berpulang mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan kita yang masih diberi kehidupan terus menjaga ingatan ini sebagai pelajaran berharga.
Editor Denun









