Pelakita Travel | Desa Nikkel Luwu Timur Melaju Bersama Lumbung Wisata

  • Whatsapp
Warga Nikkel, Sapri di depan si'e yang akan diganti dengan lumbung wisata (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Siang itu, seorang pria berusia sekitar 70 tahun melangkah di jalan beton selebar dua setengah meter. Ia membawa setangkai buah yang penulis duga sebagai patikala.

“Iye, ini untuk kapurung,” kata pria yang mengaku bernama Sapri.

Di seberang Sapri tampak Zainuddin, warga Desa Nikkel, berdiri di depan bangunan mungil yang oleh Sapri disebut si’e.

Zainuddin adalah satu dari enam warga Nikkel yang mendapat manfaat dari program revitalisasi fungsi si’e atau lumbung, hasil kerja sama Pemerintah Desa Nikkel melalui BUMDes Tepoasa dengan PT Vale.

Rumah kecil itu, dalam tradisi masyarakat Toraja atau Luwu, dikenal sebagai bandala, tempat penyimpanan padi hasil panen. Dalam bahasa Indonesia, kita menyebutnya lumbung.

Sapri menunjukkan lumbung miliknya yang berada di ujung barisan enam lumbung. Menurut data, ada sekitar 20 lumbung di kawasan itu.

Pemandangan di Desa Nikkel (dok: Pelakita.ID)
Memeriksa progress pembangunan lumbung (dok: Pelakita.ID)

Selama bertahun-tahun lumbung-lumbung ini tetap eksis dan menjadi andalan petani untuk mengamankan hasil panen mereka.

Keberadaan si’e selama ini terkesan acak dan kurang teratur. Namun, jika ditata dan dilengkapi fasilitas pendukung, ia berpotensi menjadi destinasi wisata yang indah dipandang mata.

Apalagi letaknya berada dalam lanskap desa yang masih menyisakan hamparan sawah, danau, dan perbukitan.

Dalam kunjungan lain, penulis menyaksikan langsung kondisi lumbung di sejumlah titik sembari menikmati pemandangan indah antara bukit, sawah, dan danau.

Dua anak tampak bermain di pematang, bersepeda, lalu jongkok sambil memasukkan tangan ke sela pematang.

“Lagi bikin apa?” tanya Alwi Chaidir, konsultan teknik The COMMIT Foundation untuk program Lumbung Wisata.

“Belut, Om,” jawab salah satunya. Belut menjadi salah satu target anak-anak saat bermain di sawah. Mereka tidak hanya menangkap, tetapi juga kerap mengonsumsinya.

“Ini salah satu alasan mengapa Lumbung Wisata penting untuk dikembangkan,” tambah Alwy.

Bersama, berbagi peran, kunci pembangunan Lumbung Wisata Desa Nikkel (dok: Pelakita.ID)

***

Pembaca sekalian, sejak 2017, setiap kali menuju Sorowako, penulis selalu melintas dari Poros Pontada menuju jantung kota, terminal bus, atau bandara, tanpa pernah belok ke Desa Nikkel.

Padahal ada yang istimewa di sana. Suasana perdesaan khas Nikkel dengan sawah, sungai kecil, tepi danau, jalan setapak, dan barisan rumah mungil yang warga sebut lumbung.

Zainuddin, salah satu warga, tampak fokus menyelesaikan pekerjaannya di lumbung. Sapri pun mengaku senang lumbung miliknya diperbaiki sehingga bisa kembali digunakan.

Konsep pengelolaan Lumbung Wisata tidak mengubah fungsi dan kepemilikan lumbung. Nantinya, lumbung akan dikelola BUMDes Tepoasa sebagai destinasi wisata.

Selain membangun 22 unit lumbung, program ini juga melengkapi kawasan dengan jalur trekking beton.

Siang itu, penulis menyaksikan Pak Safar dari PT Vale, Ashar Karateng dari the COMMIT Foundation, Hasim Yopi ketua BPD Nikkel serta ketua Bumdes Tepoasa, Muhammad Jismal memeriksa bangunan yang sedang dikerjakan Zainuddin dan kawan-kawan.

Mereka nampak antusias melihat perkembangan pembangunan lumbung.

Secara perlahan bangunan lumbung semakin mendekati wujud yang direncanakan (dok: Alwi Chaidir)

Dari titik ini, pengunjung bisa menikmati pemandangan barisan lumbung, hamparan sawah, tepi danau, dan perbukitan.

Koordinator PKPM Terfokus (Pengembangan Kawasan dan Perdesaan Mandiri) di lingkar tambang PT Vale, Denny Patandung, mengapresiasi gagasan serta partisipasi masyarakat Nikkel.

Menurutnya, Lumbung Wisata adalah terobosan yang menggabungkan potensi wisata, pertanian, dan budaya desa.

“Kita bersama-sama mengembangkan potensi Desa Nikkel. Hadirnya BUMDes Tepoasa dan dukungan Pemerintah Desa serta PT Vale melalui asistensi Pak Safar diharapkan membuat Desa Wisata Nikkel semakin maju dan menjadi destinasi unggulan di Luwu Timur,” ujar Denny.

Asik sekali, bukan?

___
Penulis: Kamaruddin Azis