Kolom Husba Phada | Percik Hikmah Kopi Subuh

  • Whatsapp
Perbanyak ngopi, jalin silaturahmi (dok: Istimewa)

Yang terpenting, kita terus hidup, terus berjalan, terus menyeduh hari, meski tak selalu manis. Karena, seperti kopi, hidup tak perlu selalu manis untuk bisa membuat kita terjaga.

PELAKITA.ID – Selepas salat subuh di salah satu masjid dalam lingkungan perumahan Bukit Baruga, kami bersepakat untuk menuju sebuah warkop di Jalan Daeng Sirua.

Di sana telah tersaji racikan kopi khas, ditemani aneka kudapan tradisional yang beragam.

Sembari menyeruput kopi dan menikmati kue-kue tradisional, percakapan kami mengalir penuh canda dan tawa, sesekali juga diselingi obrolan serius.

Pilihan ke warkop bukan karena kopi tidak tersedia di rumah, atau karena kue sarapan tak ada. Melainkan karena ada kerinduan untuk membangun silaturahmi, menebalkan kebersamaan, sekaligus berbagi rezeki.

Tradisi ngopi selepas subuh ini terbangun agar ikatan jamaah tetap terjaga.

Di masjid, jamaah membangun hablun minallah; di warkop, mereka merawat hablun minannas. Secangkir kopi bukan hanya menghadirkan kenikmatan rasa, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi, perekat persaudaraan.

Kopi pahit, misalnya, tak sekadar minuman—ia simbol keberanian. Keberanian menelan kenyataan, menerima getir, gagal, atau kecewa.

Yang terpenting, kita terus hidup, terus berjalan, terus menyeduh hari, meski tak selalu manis. Karena, seperti kopi, hidup tak perlu selalu manis untuk bisa membuat kita terjaga.

Budaya ngopi pagi sejatinya adalah warisan sosial dan kultural yang tak ternilai.

Ia menyimpan nilai kerja sama, gotong royong, ruang ekspresi bebas, bahkan bentuk perlawanan terhadap ritme hidup yang serba cepat.

Saat kita memilih berhenti sejenak, duduk, dan menikmati kopi, sejatinya kita sedang memberi ruang bagi diri untuk hadir secara utuh, sekaligus membuka pintu percakapan dengan sesama.

Kopi, yang dahulu hanya dianggap minuman sederhana, kini menjelma sebagai medium sosial yang membentuk identitas kolektif.

Menjaga budaya ini tetap hidup bukan semata soal menjaga cita rasa, melainkan juga menjaga koneksi antarmanusia—hangat seperti uap kopi itu sendiri.

Begitulah sosodara, ngopi bermakna ada ruang jeda dan ketenangan yang perlu kita teguk bersama. Lalu dia menjadi perekat sosial – Secangkir kopi menghadirkan percakapan, memperkuat silaturahmi, dan menciptakan rasa kebersamaan yang mengurangi rasa terhimpit dan kesepian.

Ngopi adalah simbol keteguhan – sekali lagi, rasa pahit kopi menjadi metafora keberanian menghadapi kenyataan hidup, mengajarkan bahwa kepahitan pun bisa dinikmati bila kita ikhlas menjalaninya.

Penulis: Husba Phada, Penikmat Kopi Subuh