Sejaran dan Kutub Pemikiran Marxisme dalam Diskursus Pembangunan

  • Whatsapp
Karl Marx (ilustrasi)

Ketika Karl Marx menyusun teorinya tentang sejarah dan masyarakat, ia melihat bahwa perjalanan manusia pada dasarnya adalah perjalanan penguasaan terhadap hal-hal material.

PELAKITA.ID – Ada sesi dan materi Studi Pembangunan menarik yang dipaparkan Guru Besar Sosiologi Pertanian Unhas yang juga ketua program studi S3 Ilmu Pembangunan Unhas, Prof Dr Ir Darmawan Salman, M.S terkait sejarah, asal usul pemikiran dan ‘keberlanjutan’ Marxisme dalam Diskursus Pembangunan, dulu dan sekarang.

Penulis mengutip saripati sejarah, menawarkan contoh, makna dan bagaimana Marxisme bekerja di periode Karl Marx hingga mewujud sayap-sayap penguat yang disebut Prof Darmawan sebagai terori pendukung. Bagus untuk menjadi referensi sekaligus perbandingan dengan sejumlah arus pemikiran utama pembangunan dunia.

Jadi begini…Ketika Karl Marx menyusun teorinya tentang sejarah dan masyarakat, ia melihat bahwa perjalanan manusia pada dasarnya adalah perjalanan penguasaan terhadap hal-hal material.

Sejarah, bagi Marx, bukan sekadar kisah tentang raja, perang, atau penemuan besar, melainkan tentang tata produksi—bagaimana manusia menghasilkan, mendistribusikan, dan mengelola kebutuhan hidupnya.

Di sinilah konsep historisisme material lahir. Setiap formasi sosial, kata Marx, terbentuk dari susunan tata produksi yang terdiri dari kekuatan produksi (alat, teknologi, dan sumber daya), orientasi produksi (tujuan dari proses produksi), dan hubungan sosial di dalamnya (siapa bekerja untuk siapa, dengan kondisi seperti apa).

Inbox
Karl Marx (1818–1883) adalah seorang filsuf, ekonom, sejarawan, teoritikus politik, dan sosialis revolusioner asal Jerman. Ia paling dikenal sebagai penulis Das Kapital, di mana ia mengembangkan analisis kritis tentang kapitalisme serta implikasinya terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.

Ilustrasi relasi kuasa di sektor kelautan-perikanan

Kapitalisme dan Pertentangan Kelas

Dalam kerangka itu, kapitalisme dipahami sebagai tata produksi dengan kekuatan berbasis teknologi maju dan modal besar. Orientasi produksinya bukan sekadar pemenuhan kebutuhan, melainkan akumulasi profit.

Hubungan sosialnya terbangun antara majikan (borjuis) dan pekerja (proletar).

Di titik ini, konflik kelas tak terhindarkan. Kelas borjuis menguasai alat produksi dan menikmati nilai lebih dari hasil kerja, sementara proletar hanya menerima upah dari tenaganya.

Relasi ini menciptakan eksploitasi yang, menurut Marx, hanya bisa diakhiri dengan perlawanan dan perubahan sistem menuju tatanan yang lebih adil bagi kelas pekerja.

Warisan Pemikiran Marxis dalam Diskursus Pembangunan

Meski Marx hidup di abad ke-19, gagasannya terus bergema dalam diskursus pembangunan abad ke-20, terutama di Amerika Latin.

Banyak pemikir di kawasan itu menilai teori pembangunan modernisasi yang dominan di negara-negara maju tidak relevan bagi negara berkembang.

Kritik utama diarahkan pada pembagian kerja internasional: negara berkembang menghasilkan produk primer (pertanian, tambang), sementara negara maju menguasai produk sekunder (industri).

Perdagangan internasional pun berlangsung tidak seimbang. Nilai tukar produk primer jauh lebih rendah, membuat negara pertanian tertinggal dari negara industri.

ECLA (Economic Commission for Latin America) misalnya, menegaskan bahwa pola ini harus diubah agar negara-negara Amerika Latin tidak semakin termiskinkan.

Dari sinilah lahir strategi Industri Substitusi Impor, yakni membangun industri dalam negeri agar tidak terus bergantung pada produk impor.

Teori-Teori Pendukung: Dari Spin-Off hingga Sistem Dunia

Beberapa teori lahir dari semangat Marxis, memberi warna pada diskursus pembangunan:

Teori Spin-Off (Johan Galtung): perbedaan efek kemajuan antara pertanian dan industri membuat negara agraris semakin tertinggal, sementara negara industri melaju pesat.

Misalnya, banyak negara di Afrika Sub-Sahara yang masih mengandalkan komoditas primer seperti kakao atau kopi. Meski menjadi produsen utama dunia, nilai tambah tetap dinikmati negara industri yang mengolah bahan mentah itu menjadi produk siap konsumsi seperti cokelat atau kopi instan.

Akibatnya, petani di negara penghasil tetap miskin, sementara keuntungan besar justru mengalir ke perusahaan multinasional.

Teori Inti-Pinggiran (Andre Gunder Frank): negara inti menghisap surplus negara pinggiran lewat perdagangan tidak adil dan bantuan yang penuh jebakan.

Contoh jelas bisa dilihat pada hubungan Amerika Latin dengan Amerika Serikat di abad ke-20. Negara-negara Amerika Latin mengekspor bahan mentah murah seperti minyak, gula, atau biji-bijian, lalu mengimpor barang industri dengan harga tinggi dari AS.

Aliran surplus pun bergerak ke utara, sementara negara-negara di selatan tetap kesulitan keluar dari jerat ketergantungan.

Teori Ketergantungan (Dos Santos): ketergantungan modal, teknologi, dan SDM pada negara maju menciptakan lingkaran eksploitasi yang sulit diputus.

Indonesia, misalnya, masih sangat bergantung pada investasi asing di sektor pertambangan. Teknologi canggih untuk mengolah nikel atau tembaga umumnya dimiliki perusahaan asing, dan tenaga ahli pun sering didatangkan dari luar negeri.

Sementara itu, keuntungan besar dari sektor ini kerap kembali ke negara asal investor, bukan sepenuhnya dinikmati rakyat di daerah penghasil tambang.

Teori Pemutusan Hubungan (Samir Amin): satu-satunya jalan keluar adalah memutus hubungan dengan negara inti, mengelola sumber daya secara mandiri, dan menghapus rezim yang berpihak pada kepentingan luar.

Contoh ekstrem dari gagasan ini adalah kebijakan autarki di bawah Presiden Sukarno pada awal 1960-an. Indonesia kala itu mencoba berdikari dengan membangun industri sendiri, menasionalisasi perusahaan asing, serta menjauh dari blok Barat.

Meski kemudian menghadapi tantangan ekonomi besar, eksperimen ini menunjukkan upaya nyata untuk lepas dari ketergantungan.

Teori Pembangunan Bergantung (Cardoso & Evans): meski dieksploitasi, negara berkembang tetap bisa mencapai kemajuan tertentu dalam kerangka ketergantungan.

Brasil pada dekade 1970-an sering dijadikan contoh. Meski berhubungan erat dengan modal dan teknologi dari Amerika Serikat, Brasil berhasil membangun sektor industri baja, otomotif, dan pesawat terbang.

Artinya, ketergantungan tidak selalu mematikan, asalkan negara mampu memanfaatkan ruang yang ada untuk memperkuat basis industrinya.

Teori Sistem Dunia (Immanuel Wallerstein): dunia tidak hanya terdiri atas inti dan pinggiran. Ada negara semi-inti yang bisa bergerak naik, seperti Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura.

Korea Selatan menjadi bukti paling nyata. Dari negara miskin pascaperang 1950-an, Korea Selatan berhasil naik kelas menjadi negara industri baru (NICs) berkat strategi industrialisasi yang agresif, dukungan negara, serta integrasi cerdas ke pasar global.

Kini, Korea Selatan bahkan sudah masuk kelompok inti dengan perusahaan raksasa global seperti Samsung dan Hyundai.

Agenda Marxis dalam Pembangunan

Dari teori-teori itu, tampak jelas garis pemikiran Marxis: masalah pembangunan bukan sekadar soal keterbelakangan internal, melainkan juga ketidakadilan struktural dalam hubungan internasional.

Negara berkembang kerap terjebak dalam ketergantungan pada modal, teknologi, dan pasar negara maju.

Agenda yang diajukan sederhana namun radikal: membangun kemandirian, mengelola sumber daya secara berdaulat, dan keluar dari jerat sistem perdagangan global yang timpang.

Bagi sebagian pemikir, ini berarti revolusi sosial-politik; bagi yang lain, cukup dengan mengelola ketergantungan secara cerdas agar tetap ada ruang bagi pembangunan nasional.

Spirit Perjuangan Marxisme yang Terus Hidup

Hari ini, di tengah globalisasi dan neoliberalisme, wacana Marxis dalam pembangunan masih relevan.

Ketika negara-negara berkembang berjuang keluar dari ketimpangan struktural, teori-teori Marxis memberi lensa kritis: bahwa pembangunan bukan semata persoalan teknis, tetapi juga politik kekuasaan global.

Marxisme, dengan segala variasinya, terus menjadi sumber inspirasi untuk membayangkan pembangunan yang lebih adil—pembangunan yang tidak sekadar melayani akumulasi modal, tetapi sungguh-sungguh mengangkat martabat manusia.

Pembaca sekalian, ada beberapa hal menarik diperbincangkan, semisal kutub pemikiran pembangunan apa yang diadopsi Indonesia setelah masuk Reformasi, juga apakah sesungguhnya spirit di balik munculnya BRICS yang fenomenal itu.

Mungkin anda tahu jawabannya?

___
Denun
Sorowako, 8 September 2025

Tulisan ini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis, karya pengembangan penulisnya, sesuai materi kelas yang dipaparkan oleh Prof Dr Darmawan Salman, M.S.