PELAKITA.ID – Bulukumba, 31 Agustus 2025 — Di tengah arus zaman yang kerap melunturkan semangat kebersamaan, pemuda desa memilih jalan berbeda.
Mereka merespon bulan Agustus bukan dengan hura-hura kosong, melainkan lewat gerakan yang menegaskan: merdeka bukan sekadar kata, melainkan ruang hidup yang harus dijaga.
SSB Batugarumbing memimpin barisan dengan menghadirkan “Merespon Agustus: Sebab Seni Juga Merdeka.” Sebuah parade alternatif yang merangkai simpul-simpul masyarakat desa agar tidak tercerabut dari akar.
Dari Rumah Buku SaESA yang menebar literasi di tikungan sunyi, Rosalia Merch yang menyediakan ruang santai nan liar, hingga Mammiri Silele yang menyalakan nyala karya. RUMKO menggoyangkan layangan, Sekolah Anak Desa menyuntikkan pendidikan alternatif, Siring Bambu menghadirkan ruang kolaborasi, dan berbagai komunitas lain turut menyulam semangat kemerdekaan.
Kehadiran mereka adalah jawaban: bahwa pemuda tak boleh tunduk pada sistem yang berusaha membungkam. Obor kemerdekaan harus terus menyala agar desa tidak mati dalam kesenyapan.

“Ini bukan pesta kebencian,” tegas Muh. Alif Dermawan, Ketua Umum SSB Batugarumbing. “Kita hadir menebar kedamaian. Love in peace.” Ucapannya mengalir di antara tawa anak-anak yang sibuk membuka lembar buku.
Sementara itu, Aedil dari Siring Bambu mengingatkan dengan lantang: “Pemuda adalah jantung gerakan desa. Tanpa mereka, desa hanyalah makam yang menunggu bunga terakhir.”
Sorak sorai anak-anak kecil yang berlarian, bahkan balita dari taman kanak-kanak, menandai bahwa semangat ini menular lintas usia. Seorang ayah berucap lirih namun penuh harap, “Jangan sampai kegiatan seperti ini dipadamkan oleh sistem. Biarlah ia tumbuh, menghidupkan desa.”
Dari pelapak Rosalia Merch, Abib menutup dengan kalimat sederhana namun penuh daya dorong: “Kalau anu baik ji, gass mi!”
Kemeriahan ini bukan sekadar parade, melainkan tanda: pemuda desa masih ada, masih berani, dan masih bersuara.
Penulis Musakkir Satu Pena
