PELAKITA.ID – Di negeri itu, hukum berjalan bagai drama tanpa akhir. Setiap babak penuh sandiwara, setiap tokoh memainkan peran sesuai naskah, sementara rakyat hanya menjadi penonton yang menunggu klimaks.
Negeri itu disebut orang sebagai Negeri Seribu Dalih, karena di sanalah alasan menjadi mata uang paling berharga—lebih kuat dari logika, bahkan kadang lebih sakti dari hukum itu sendiri.
Di negeri ini, OTT—Operasi Tangkap Tangan—sudah menjadi tontonan rutin. Bagi aparat, ia adalah bukti kerja keras. Bagi media, ia bahan utama headline. Bagi rakyat, ia menjadi hiburan sekaligus ironi. Dari waktu ke waktu terdengar kabar: seseorang tertangkap basah, tangan masih menggenggam amplop, koper berisi uang, atau rekening belum sempat disembunyikan. Sorak sorai pun meledak: “Akhirnya ada yang ditangkap!” Namun, sorakan itu cepat reda, berganti gumaman sinis: “Mari kita tunggu, dalih apa yang keluar kali ini.”
Negeri Seribu Dalih memang istimewa. Begitu tertangkap, seorang tokoh besar jarang benar-benar jatuh. Mereka punya jurus yang sudah hafal di luar kepala. Ada yang tiba-tiba sakit, mendadak stroke, lalu masuk rumah sakit mewah. Kamera menyorot tubuh lemah di atas kursi roda, lengkap dengan infus di tangan. Publik terbelah: ada yang iba, ada yang geli, karena tahu sakit itu sering hanya sakit akal-akalan.
Ada pula jurus Religiusitas Mendadak. Saat sidang berlangsung, terdakwa rajin membawa kitab suci, membacanya khusyuk di ruang tunggu. Media menyorot, publik berkomentar, seolah religiusitas itu bisa menghapus dosa korupsi bernilai miliaran. Padahal rakyat tahu: agama bukan kosmetik untuk menutupi kerakusan.
Jurus lain adalah air mata. Sang tokoh menangis tersedu-sedu di hadapan hakim, seakan dirinya korban konspirasi besar. Publik yang dulu pernah tertipu kini hanya berkata: “Ah, tangis buaya. Air mata bisa dibeli, tapi kebenaran tidak.”
Lucunya, di Negeri Seribu Dalih, mereka yang ditangkap karena uang miliaran kerap berakhir dengan hukuman ringan. Sementara rakyat kecil yang melakukan kesalahan sepele justru dihukum berat. Seorang ibu yang mencuri beras demi anaknya langsung dipenjara tanpa sidang panjang.
Seorang petani yang menebang pohon di hutan untuk bertahan hidup dijerat pasal berlapis. Sedangkan pejabat yang menggerogoti anggaran pendidikan, kesehatan, atau bencana, justru menikmati sel tahanan mewah dengan fasilitas lengkap. Timbangan keadilan seolah dibuat miring: ringan untuk yang besar, berat untuk yang kecil.
Namun, OTT di Negeri Seribu Dalih tidak selalu muram. Ada kisah-kisah yang justru membuat rakyat terharu. Seorang rakyat jelata, hidup pas-pasan, justru “tertangkap” oleh kebaikannya.
Ia ketahuan selalu membantu tetangga tanpa pamrih, berbagi makanan meski sedikit, dan tetap jujur meski hidup serba kekurangan. “Barang bukti”-nya bukan koper uang, melainkan doa-doa tulus dari orang miskin yang ia tolong. OTT semacam ini jarang diliput media, tapi abadi di hati rakyat.
Sayangnya, kisah seperti itu semakin langka. Negeri Seribu Dalih lebih ramai dengan OTT penuh drama. Setelah gegap gempita penangkapan, biasanya kasus melambat.
Sidang bertele-tele, dalil hukum berlapis, hingga akhirnya vonis ringan dijatuhkan. Rakyat hanya bisa mengelus dada: “OTT hanyalah episode sinetron. Awalnya seru, ujungnya membosankan.”
Tetapi sejatinya, kisah OTT ini tidak hanya soal mereka yang tertangkap. Ia adalah cermin bagi kita semua. Bukankah setiap manusia bisa tergelincir oleh kerakusan? Bukankah setiap kita bisa terjerat oleh tangan sendiri? Bedanya hanya soal skala: ada yang korupsi anggaran negara, ada yang korupsi waktu kerja, ada yang mencuri miliaran, ada pula yang mencuri kepercayaan.
Karena itu, sebelum Negeri Seribu Dalih berubah menjadi negeri tanpa harapan, sudah seharusnya kita memulai OTT terhadap diri sendiri. Tangkap tangan kita sebelum menyentuh yang bukan haknya. Tangkap lidah kita sebelum mengucap kebohongan. Tangkap hati kita sebelum diracuni iri dan dengki.
OTT terhadap diri sendiri adalah operasi paling jujur, karena dilakukan oleh nurani, bukan aparat. Ia tak butuh kamera tersembunyi, tak butuh penyadapan, tak butuh surat perintah. Ia hanya butuh keberanian untuk bercermin, mengakui kesalahan, dan berjanji memperbaikinya.
Jika rakyat berani melakukan OTT terhadap dirinya, jika pejabat berani mengekang tangannya sendiri, jika aparat berani menolak godaan dalih, maka Negeri Seribu Dalih bisa berubah menjadi Negeri Seribu Harapan. Negeri di mana hukum tak lagi sandiwara, OTT tak lagi tontonan, dan keadilan benar-benar hadir tanpa dalih.
Karena sejatinya, negeri ini tidak kekurangan aturan. Yang kurang hanyalah keberanian untuk hidup tanpa alasan.









