Buku tentangnya bukan hanya biografi, melainkan sebuah jendela: membuka mata kita bahwa persatuan Indonesia lahir dari keberanian kolektif, bukan hadiah yang datang begitu saja.
PELAKITA.ID – Saya mendapat kehormatan dan kebanggaan menerima buku Ajoeba Wartabone (1894–1957): Sekali ke Djokja, Tetap ke Djokja, karya Basri Amin, langsung dari cucu beliau, H. Pulu Niode.
Dengan penuh haru ia berbisik:
“Kakek saya sejak tahun 1926 sampai 1928 sudah bersekolah di Jakarta. Tulisan-tulisan beliau kala itu sudah berbicara tentang kebangsaan.”
Kisah singkat itu membuat kita terdiam. Dari sebuah kota kecil di Gorontalo, lahir seorang putra bangsa yang berpikir jauh melampaui zamannya. Ia tidak hanya menulis untuk Gorontalo, tetapi untuk Indonesia yang saat itu masih berupa gagasan.
Ia bersuara, melangkah, dan memastikan bahwa meski datang dari tepi negeri, suaranya ikut menguatkan pusat.
Kini, delapan dekade setelah Indonesia merdeka, pantaslah kita menengok kembali jejak dari Timur Nusantara—jejak yang ikut menjaga persatuan di masa-masa sulit perjalanan bangsa.
Jejak Seorang Nasionalis
Kehidupan dan pemikiran Ajoeba Wartabone (1894–1957) adalah salah satu contohnya. Sebagai pemimpin daerah sekaligus nasionalis, ia hadir dalam Konferensi Denpasar, Desember 1946, ketika Belanda berusaha menata ulang Indonesia Timur menjadi Negara Indonesia Timur (NIT).
Setahun kemudian, dalam sidang Parlemen NIT di Makassar, April 1947, Ajoeba melahirkan sebuah pernyataan historis yang abadi:
“Sekali ke Djokja, Tetap ke Djokja.”
Ungkapan itu menegaskan keberpihakannya pada Republik di tengah situasi politik yang terpecah. Djokja—ibu kota Republik saat Jakarta dikuasai Belanda—bukan sekadar kota, melainkan simbol perlawanan, kesetiaan, dan keberanian.
Perjalanan hidup Ajoeba ini didokumentasikan secara mendalam dalam buku hampir 500 halaman karya Basri Amin, diterbitkan oleh Diomedia. Buku tersebut juga mendapat sambutan istimewa dari Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, Ketua Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia.

Djokja, Simbol Kesetiaan
Bagi Ajoeba, Djokja bukan hanya tempat, melainkan jantung bangsa yang berdetak di tengah keterpurukan. Dari alun-alun hingga lorong kampungnya, Djokja menjadi rumah bagi republik muda.
Maka ketika ia berseru “Sekali ke Djokja, Tetap ke Djokja,” sesungguhnya ia sedang menyatakan cinta kepada republik dengan bahasa yang sederhana, tapi paling tajam.
Keputusan Ajoeba untuk berpihak pada Republik tentu bukan perkara mudah. Di hadapannya terbentang rayuan, ancaman, bahkan jalan aman yang bisa saja ia tempuh. Namun ia memilih jalan berisiko demi satu kata: persatuan.
Refleksi: Suara dari Pinggiran
Sejarah Indonesia sering kali ditulis dari pusat. Akibatnya, nama-nama dari daerah terlambat kita kenal. Padahal, tanpa suara dari timur dan barat, dari utara dan selatan, Indonesia bisa saja terpecah.
Ajoeba Wartabone adalah satu dari sekian banyak tokoh daerah yang kini mulai dihidupkan kembali dalam ingatan kolektif.
Buku tentangnya bukan hanya biografi, melainkan sebuah jendela: membuka mata kita bahwa persatuan Indonesia lahir dari keberanian kolektif, bukan hadiah yang datang begitu saja.
Delapan puluh tahun setelah merdeka, kita diingatkan: bangsa ini berdiri bukan hanya karena nama-nama besar yang tercatat di buku sekolah, melainkan juga berkat mereka yang suaranya lahir dari pinggiran, dari jauh di timur, namun tetap menyala untuk republik.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah buah dari semangat bersama—dari keberanian untuk bersatu.
Nantikan pembahasan buku ini di Ubud Writers & Readers Festival, 1 November 2025.
Redaksi









