PELAKITA.ID – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 114 Universitas Hasanuddin (UNHAS) melaksanakan kegiatan sosialisasi mengenai Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak, sekaligus memperkenalkan pemanfaatan obat herbal sebagai alternatif penanganan.
Kegiatan ini berlangsung pada Rabu (23/7) di Desa Tondongkura, Kecamatan Tondong Tallasa, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.
Mengusung tema “Sosialisasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Penggunaan Obat Herbal sebagai Upaya Penanganan Ternak di Desa Tondongkura”, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap bahaya PMK, sekaligus memperkenalkan solusi pengobatan alami yang mudah diakses oleh peternak desa.
Acara ini dihadiri oleh Sekretaris Desa Tondongkura, para peternak lokal, ketua dusun, ketua RT dan RW, serta tokoh masyarakat. Antusiasme peserta tampak tinggi, terlihat dari keaktifan mereka dalam sesi diskusi dan berbagi pengalaman seputar kasus ternak yang pernah mengalami gejala PMK.

Materi utama disampaikan oleh Rizka Aulia, mahasiswa dari Fakultas Peternakan UNHAS, yang menjelaskan secara menyeluruh mengenai PMK—mulai dari definisi, cara penularan, gejala klinis, hingga dampaknya terhadap produktivitas ternak, khususnya penurunan produksi susu dan kondisi fisik hewan.
Selain edukasi seputar penyakit, Rizka juga memperkenalkan sejumlah bahan herbal yang dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif awal, seperti:
-
Bawang putih: bersifat antibakteri dan antivirus
-
Kunyit: sebagai antiinflamasi
-
Daun seledri: untuk meningkatkan daya tahan tubuh ternak
-
Garam: sebagai antiseptik alami
“Penggunaan obat herbal bukan pengganti pengobatan medis utama, tapi bisa menjadi langkah awal yang sangat membantu, khususnya bagi peternak yang kesulitan mengakses obat kimia. Selain mudah didapat, bahan-bahan herbal ini juga aman dan terjangkau,” ujar Rizka.
Ia juga menekankan pentingnya langkah-langkah pencegahan seperti menjaga kebersihan kandang, mengisolasi ternak yang sakit, serta pemberian pakan yang higienis, sebagai bagian dari manajemen kesehatan ternak yang berkelanjutan.
Sesi tanya jawab berjalan dinamis. Para peternak tak hanya mengajukan pertanyaan, tetapi juga menyampaikan masukan agar kegiatan serupa dilengkapi dengan demonstrasi langsung penggunaan ramuan herbal di kandang ternak.
Muktamar, Sekretaris Desa Tondongkura, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif mahasiswa UNHAS. Menurutnya, informasi seperti ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat, mengingat PMK dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak kecil.
“Kami sangat berterima kasih atas kegiatan ini. Edukasi seperti ini penting untuk mencegah penyebaran penyakit dan menjaga kelangsungan usaha peternakan masyarakat. Harapannya, sosialisasi semacam ini terus berlanjut secara berkala,” tuturnya.
Kegiatan ini mencerminkan kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menghadapi persoalan riil di tingkat desa, sekaligus menunjukkan bahwa solusi lokal yang berbasis kearifan dan sumber daya setempat masih sangat relevan dalam menghadapi tantangan peternakan modern.
i









