PELAKITA.ID – Penulis menerima kutipan kalimat atraktif dari Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa dari sahabat Muliadi Saleh. Bang Mul – begitu sapaan penulis, menuliskan Resep Bahagia Sang Rektor: Dari Hati yang Memimpin, Bukan Sekadar Mengatur.
Muliadi Saleh, penulis, pemikir, dan penggerak literasi kebudayaan dan konsultan politik sukses untuk sejumlah Kepala Daerah di Sulsel dan Sulbar ini menuliskan pengalamannya saat menyaksikan Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa memberikan sambutan di acara Perkumpulan Insinyur Indonesia (PII) di Hotel Claro.
Dia merekam, dia mencatat. Di tengah khidmatnya prosesi Wisuda Universitas Hasanuddin, 15 Juli 2025, suara tenang dan reflektif Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc.—yang akrab disapa Prof. JJ—menyapa ribuan wisudawan dan orang tua mereka dengan sesuatu yang tidak biasa, bagi Bang Mul.
Dia bilang, itu bukan deretan data atau capaian lembaga, melainkan sepotong petuah sederhana namun dalam: Resep Bahagia.
“Jika engkau ingin bahagia selama satu jam, tidurlah dan biarkan dunia berjalan tanpa dirimu. Jika engkau ingin bahagia selama satu hari, pergilah memancing. Tapi jika engkau ingin bahagia seumur hidup, bantulah orang lain.”
Bagi sosok alumni atau Insinyur Sosial Ekonomi Pertanian Unhas angkatan 88 itu, ungkapan itu bukan sekadar kata-kata.
“Ungkapan ini mencerminkan jati diri kepemimpinan Prof. JJ, yang tidak hanya berperan sebagai administrator kampus, tetapi juga penjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam dunia akademik,” sebut Bang Muliadi.
Bahagia Bukan Hanya Tentang Diri Sendiri
Dalam dunia yang makin pragmatis, ukuran bahagia sering kali dikaitkan dengan materi, status, dan pencapaian pribadi. Namun bagi Prof. JJ, kebahagiaan sejati justru datang ketika seseorang melampaui kepentingan dirinya sendiri, dan mulai hadir bagi orang lain.
Bang Mul menyebut, nilai ini sangat relevan bagi seorang Rektor Universitas Negeri sebesar Unhas, yang memimpin bukan hanya dengan otoritas formal, tetapi juga dengan keteladanan dan empati.
Menyampaikan filosofi tentang kebahagiaan dalam momen sakral seperti wisuda adalah pesan simbolik bahwa keberhasilan sejati alumni bukan hanya diukur dari jabatan atau kekayaan, tetapi sejauh mana mereka bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Dikatakan, sebagai seorang ilmuwan kelautan dengan reputasi internasional, Prof. JJ sangat memahami bahwa ilmu pengetahuan tanpa nilai adalah kehilangan arah. Maka dalam kepemimpinannya, kampus bukan hanya menjadi pusat akademik, tetapi juga taman pengabdian sosial dan ekosistem nilai luhur.
Memberi, menolong, dan berbuat bagi sesama—itulah semangat yang ia tanamkan dalam tata kelola kampus dalam kebijakan tridarma perguruan tinggi, dalam program pengembangan desa binaan, dan dalam pemberdayaan alumni dan kemitraan sosial.
Di era ketika universitas kerap terjebak dalam birokrasi dan obsesi pada peringkat, Prof. JJ justru mengajak seluruh civitas akademika untuk kembali pada akar: ilmu yang berpihak pada kemanusiaan.
Resep bahagia itu bukan sekadar nasihat. Ia mencerminkan nilai dasar kepemimpinan bahwa tanggung jawab rektor bukan hanya mengelola sistem, tetapi menghidupkan makna dalam kehidupan kampus.
Bahwa tugas seorang pemimpin perguruan tinggi bukan hanya mencetak lulusan, tetapi menginspirasi generasi yang sadar akan tanggung jawab sosialnya.
Di mata Bang Mul, Prof. JJ adalah cerminan bahwa pemimpin kampus bisa bersuara lembut namun berdampak luas.
Dia harus bisa menyentuh hati sambil tetap berpikir strategis. Dan bisa menanamkan kebahagiaan sebagai visi kepemimpinan, bukan sebagai jeda dari rutinitas administratif.
Bang Mul melanjutkan. Resep bahagia sang rektor mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati adalah energi yang menular. Ia bukan milik pribadi, tetapi tumbuh subur ketika dibagikan. Di ruang kelas, di laboratorium, di desa binaan, di antara masyarakat pesisir, dan di tengah dinamika bangsa.
Sebagai Rektor, kata Bang Mul, Prof. JJ telah menunjukkan bahwa memimpin dengan hati, memberi dengan tulus, dan membimbing dengan makna—itulah cara terbaik untuk membuat Unhas tidak hanya menjadi universitas besar, tetapi juga universitas yang membahagiakan dan membanggakan.
Karena akhirnya, seperti pesan beliau: “Bahagia seumur hidup? Bantulah orang lain.”
Dan di sinilah letak keberanian seorang pemimpin: menempatkan kebahagiaan orang lain sebagai bagian dari tugas mulia dirinya.
Penulis Denun









