Menari Bersama Pacu Jalur | Tradisi, Identitas dan Masa Depan Wisata Bahari Indonesia

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

Erving Goffman dalam teori dramaturgi juga menegaskan bahwa interaksi sosial ibarat panggung sandiwara. Dalam konteks pariwisata, masyarakat lokal tampil sebagai aktor yang memerankan identitas budayanya di hadapan wisatawan sebagai penonton.

Oleh: Prof. Andi Adri Arief, S.Pi., M.Si
Guru Besar Sosiologi Perikanan Universitas Hasanuddin

PELAKITA.ID – Bocah laki-laki bersetelan teluk belanga, tanjak, dan kacamata hitam itu berdiri dengan kaki sedikit tertekuk di haluan sampan panjang.

Kedua tangannya menari pelan: menepuk-nepuk udara bergantian, menggulung sejenak sebagai transisi, lalu mengayun depan-belakang seirama dengan deru dayung puluhan pria dewasa di belakangnya.

Togak Luan: Tarian Sederhana yang Menembus Dunia

Inilah tarian Togak Luan, penari haluan pacu jalur, tradisi mendayung perahu panjang di Sungai Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Tarian sederhana itu kini viral di TikTok dan media sosial global, diparodikan banyak orang di dunia. Akun-akun olahraga raksasa seperti NFL, AC Milan, PSG, hingga Formula 1 menirukan gerakannya, menyebutnya tren “aura farming” karena memancarkan karisma sederhana namun memukau.

Maskot AC Milan menirukan persis gerakan sang bocah, sedangkan PSG membandingkan selebrasi Neymar, Hakimi, Matuidi, dan Barcola dengan koreografi Togak Luan.

Makna Tradisi Pacu Jalur bagi Masyarakat Kuansing

Fenomena viral Togak Luan pacu jalur menawarkan refleksi mendalam di tengah banjir konten digital yang sering kali dangkal.

Tradisi lokal ternyata memiliki daya tarik global yang luar biasa, bukan hanya dari aspek estetika geraknya, tetapi juga kedalaman makna budaya yang dikandungnya.

Pacu jalur bukan sekadar lomba mendayung, melainkan ritual kolektif yang memadukan spiritualitas, solidaritas sosial, serta penghormatan masyarakat Melayu Kuansing kepada sungai sebagai sumber hidup.

Togak Luan (anak joki) sendiri bukan sekadar maskot atau penari hias. Ia adalah penanda posisi jalur di arena pacu sekaligus penyemangat bagi para pendayung untuk menuntaskan balapan dengan kehormatan.

Tradisi, Makna, dan Kohesi Sosial

Dalam perspektif sosiolog Emile Durkheim, tradisi dan ritual seperti pacu jalur merupakan mekanisme sosial yang menumbuhkan integrasi dan kohesi komunitas.

Durkheim menegaskan bahwa masyarakat bukan sekadar kumpulan individu, melainkan realitas yang memiliki karakteristiknya sendiri. Tradisi menjadi perekat struktur sosial dan menciptakan sense of belonging bagi setiap anggota masyarakat.

Oleh karenanya, ketika tradisi seperti tari Togak Luan menjadi viral, ia membawa serta makna kohesi sosial tersebut, meskipun audiens global mungkin hanya memahami lapisan terluarnya.

Teori interaksionisme simbolik yang dikemukakan Herbert Blumer juga relevan menjelaskan fenomena ini. Blumer menekankan bahwa manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang dimiliki sesuatu itu bagi mereka.

Gerakan Togak Luan, bagi masyarakat Kuansing, adalah simbol kemenangan, kehormatan, dan harga diri kolektif. Namun, ketika masuk ruang global media sosial, makna itu bertransformasi menjadi simbol “keren” atau “cool”, sebuah reinterpretasi yang menuntut tanggung jawab kultural untuk tetap menjembatani pemahaman audiens global pada makna aslinya.

Dalam ranah ekonomi-politik budaya, Raymond Williams mengingatkan bahwa budaya adalah sesuatu yang biasa (ordinary). Budaya adalah keseharian yang menyimpan nilai ekonomi, sosial, dan politik sekaligus.

Pacu jalur adalah budaya masyarakat Kuansing yang dapat dikonversi menjadi modal ekonomi pariwisata dan modal sosial yang memperkuat kohesi masyarakatnya.

Namun, relasi kuasa yang timpang dalam pengelolaan wisata berbasis tradisi harus diwaspadai agar manfaat ekonominya tidak hanya dinikmati oleh segelintir elite pengelola, melainkan juga oleh masyarakat adat pemilik tradisi itu sendiri.

Pariwisata sebagai Fenomena Sosial

Dalam teori sosiologi pariwisata, John Urry melalui konsep The Tourist Gaze (1990) menekankan bahwa pariwisata adalah proses sosial di mana wisatawan mengonstruksi, menata, dan mengonsumsi tempat-tempat tertentu berdasarkan imajinasi dan simbol yang melekat pada tempat tersebut.

Tarian Togak Luan dan pacu jalur menjadi menarik karena menampilkan gaze (cara pandang) tentang keotentikan tradisi Melayu Kuansing yang eksotis dan berbeda dari keseharian wisatawan.

Erving Goffman dalam teori dramaturgi juga menegaskan bahwa interaksi sosial ibarat panggung sandiwara. Dalam konteks pariwisata, masyarakat lokal tampil sebagai aktor yang memerankan identitas budayanya di hadapan wisatawan sebagai penonton.

Namun, Goffman mengingatkan bahwa di balik panggung depan (front stage) yang menampilkan tarian Togak Luan, ada panggung belakang (back stage) yang menyimpan realitas keseharian masyarakat dengan berbagai persoalan strukturalnya.

Oleh karena itu, Chris Rojek (1997) mengkritik industri pariwisata modern sebagai bentuk commodification of culture, ketika tradisi lokal direduksi menjadi komoditas untuk konsumsi wisatawan global. Ia menekankan pentingnya kesadaran kritis agar pariwisata berbasis tradisi tidak mengorbankan makna substantif tradisi tersebut.

Tradisi Lokal sebagai Fondasi Identitas Wisata Bahari

Fenomena viral tarian Togak Luan pacu jalur menunjukkan bahwa tradisi lokal bukan hanya atraksi tambahan, melainkan fondasi narasi wisata bahari Indonesia yang khas, beridentitas, dan berbeda dari destinasi negara lain.

Tradisi seperti pacu jalur menegaskan bahwa laut dan sungai bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang budaya dan spiritualitas masyarakat pesisir.

Tradisi menjadi sarana edukasi nilai-nilai luhur seperti gotong royong, sportivitas, penghormatan pada alam, dan solidaritas sosial. Tradisi juga memperluas rantai ekonomi kreatif melalui pertunjukan tari, fesyen tradisional, kuliner khas, hingga paket wisata budaya terpadu yang melibatkan pelaku UMKM lokal.

Kompleksitas Pengembangan Wisata Bahari Berbasis Tradisi

Namun, kompleksitas pengembangan wisata bahari berbasis tradisi menuntut kesiapan ekosistem yang tidak sederhana. Infrastruktur transportasi, kebersihan sungai/laut, kompetensi SDM pariwisata, serta sinergi antar pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi faktor krusial keberlanjutan wisata tradisi.

Selain itu, proses komersialisasi budaya yang berlebihan tanpa konservasi nilai akan menimbulkan cultural trivialization, di mana tradisi hanya menjadi gimmick wisata tanpa makna yang mendalam. Distribusi manfaat ekonomi juga kerap tidak adil, karena masyarakat adat sering kali hanya menjadi penonton di kampung sendiri, sementara keuntungan utama diraih investor luar.

Teori glokalisasi Roland Robertson menekankan bahwa globalisasi tidak menghapus lokalitas, melainkan melahirkan adaptasi budaya lokal dalam ruang global.

Fenomena viral tari Togak Luan pacu jalur adalah bukti bagaimana praktik tradisi lokal mampu menembus batas global tanpa kehilangan akar lokalnya, selama diiringi narasi edukasi budaya yang kuat.

Globalisasi adalah intensifikasi kesadaran akan dunia sebagai satu kesatuan, dan kesadaran ini akan menjadi timpang jika tidak dibarengi penghormatan pada akar lokal setiap simbol yang ditampilkan di ruang global.

Momentum Menata Ulang Strategi Wisata Bahari Indonesia

Fenomena viral tari Togak Luan pacu jalur adalah momentum untuk menata ulang strategi pengembangan wisata bahari Indonesia yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam bahari, tetapi juga harus terdesain berbasis tradisi maritim.

Pembangunan kebudayaan dan pariwisata nasional harus menekankan pentingnya pelestarian kebudayaan untuk mewujudkan jati diri bangsa yang tangguh, menjaga persatuan dalam keragaman, meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui konversi modal budaya menjadi modal ekonomi pariwisata, serta menciptakan persahabatan antarbangsa melalui pemahaman lintas budaya.

Namun, semua itu hanya dapat terwujud bila pembangunan wisata bahari berbasis budaya dilakukan secara terencana, inklusif, dan menempatkan masyarakat adat sebagai pelaku utama, bukan sekadar objek wisata.

Tradisi lokal bukan hanya aksesori festival tahunan, melainkan ideal kolektif yang membentuk peradaban bangsa. Pacu jalur dengan Togak Luannya menegaskan Indonesia sebagai bangsa maritim yang memiliki peradaban sungai dan laut yang tangguh, terhormat, dan berdaulat.

Emile Durkheim telah mengingatkan, sebuah masyarakat tidak dapat menciptakan dirinya tanpa pada saat yang sama menciptakan sebuah ideal.

Tradisi adalah ideal itu. Ketika tradisi diangkat dengan strategi kebudayaan dan pariwisata yang tepat, Indonesia bukan hanya memiliki wisata bahari terindah di dunia, tetapi juga wisata bahari yang bermakna, mendidik, dan menyejahterakan bangsanya sendiri.