Mengapa Sinergi Makassar-Barru Adalah Kunci Resiliensi Ekonomi Masa Depan Sulsel
PELAKITA.ID – Sebuah kota metropolitan tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Di balik gemerlap kemajuan infrastruktur dan denyut ekonomi Makassar, terdapat ketergantungan yang harmonis dengan daerah-daerah penyangganya—sebuah hubungan simbiotik yang menentukan stabilitas regional.
Kehadiran Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin (Appi), pada puncak peringatan Hari Jadi ke-66 Kabupaten Barru pada 13 April 2026, bukan sekadar pemenuhan protokol kenegaraan tetapi pesan untuk membaca tren relasi kedua daerah otonom itu di bawah payung Pemerintah Sulawesi Selatan.
Ini adalah sebuah pernyataan strategis tentang pentingnya integrasi ekonomi teritorial di Sulawesi Selatan, demiikian pula pada mozaik kepartaian Golkar di mana keduanya adalah pilar Partai Beringin di Sulsel itu.
Tapi tentang Golkar, kita skip saja dulu.
Mari baca momentum indah ini yang diawali dengan penerimaan hangat di Rumah Jabatan Bupati Barru, sebuah gestur diplomasi yang mencerminkan kedekatan personal dan visi politik yang selaras sebelum berlanjut ke upacara formal di Kantor Bupati Barru.
Di sana, di hadapan para pemangku kepentingan, narasi pembangunan tidak lagi dibicarakan dalam sekat-sekat administratif, melainkan sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling menguatkan.
Barru sebagai Hinterland Strategis: Melampaui Milestones 66 Tahun
Dalam diskursus pembangunan wilayah, Barru menempati posisi vital sebagai hinterland atau wilayah satelit utama bagi Makassar.
Penampilan Appi yang mengenakan Jas Tutu’ kuning, didampingi Melinda Aksa dengan baju bodo senada, bukan sekadar penghormatan budaya, melainkan simbol jembatan identitas yang mempererat kolaborasi antarwilayah.
Kehadiran tokoh sentral seperti Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, dan Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, mempertegas bahwa sinergi ini adalah agenda prioritas provinsi.
Gubernur secara eksplisit mendorong agar momentum HUT ini menjadi ruang penguatan kolaborasi pembangunan.
Bagi Makassar, Barru bukan sekadar tetangga; ia adalah mitra strategis yang memiliki potensi kekayaan alam dan ekonomi yang menjadi fondasi ketahanan pangan dan industri metropolitan.
Mengenai potensi luar biasa ini, Appi memberikan penekanan yang tajam:
“Hari ini kita berada di Kabupaten Barru, merayakan hari jadinya yang ke-66. Ini adalah daerah dengan potensi luar biasa, baik dari sisi kekayaan alam, keindahan, hingga potensi ekonomi. Atas nama Pemerintah Kota Makassar, kami berharap hubungan ini terus ditingkatkan melalui kerja sama lintas wilayah yang saling menguatkan.”
Menggerakkan Ekonomi dari Akar Rumput
Salah satu poin krusial dalam kunjungan ini adalah analisis Appi mengenai “daya serap pasar.”
Di sini kita melihat logika ekonomi Supply and Demand yang nyata: Barru bertindak sebagai pusat produksi, sementara Makassar adalah pusat konsumsi terbesar di Sulawesi Selatan.
Sorotan khusus diberikan pada produk UMKM lokal, terutama produk olahan buah seperti nanas. Sebagai seorang ahli strategi, Appi melihat bahwa nilai tambah (value-added) dari produk olahan Barru memiliki daya saing tinggi untuk menembus pasar urban Makassar yang lebih luas.
Transformasi dari sekadar hasil kebun menjadi produk olahan bermerek adalah kunci bagi Barru untuk meningkatkan posisi tawarnya dalam rantai pasok regional.
Jika dikelola dengan standarisasi yang tepat, produk-produk ini bukan hanya komoditas, melainkan aset ekonomi yang menjanjikan kesejahteraan berkelanjutan bagi pelaku usaha daerah.
Langkah Munafri Arifuddin dan Melinda Aksa saat menyambangi booth UMKM dari berbagai kecamatan di Barru menunjukkan model human-centric leadership. Interaksi langsung dengan warga dan pelaku usaha kecil bukan sekadar pencitraan, melainkan upaya memvalidasi potensi pasar secara langsung.
Dukungan konkret diberikan melalui aksi “memborong” produk lokal, yang secara simbolis berfungsi sebagai Proof of Concept bahwa produk daerah memiliki daya tarik bagi konsumen metropolitan. Beberapa produk yang mendapatkan apresiasi langsung meliputi:
- Produk Olahan Nanas: Komoditas unggulan yang siap naik kelas menuju pasar industri makanan di Makassar.
- Gula Lokal: Hasil olahan tradisional yang menjadi tulang punggung kebutuhan industri kreatif kuliner.
- Aneka Kue Kering Khas Bugis: Representasi identitas budaya yang memiliki nilai komersial tinggi sebagai produk oleh-oleh premium.
Aksi borong produk ini adalah bentuk diplomasi ekonomi yang paling jujur; sebuah pengakuan bahwa kualitas produk lokal Barru layak mendapatkan tempat di rak-rak toko di ibu kota.
Simbiosis Mutualisme
Perayaan HUT ke-66 Barru menjadi pengingat bahwa kemajuan Makassar adalah refleksi dari kemajuan daerah penyangganya. Tidak ada pertumbuhan yang inklusif jika pertumbuhan itu hanya terpusat di satu titik.
Sinergi antara kepemimpinan Munafri Arifuddin di Makassar dan Andi Ina Kartika Sari di Barru, di bawah payung kebijakan provinsi, adalah cetak biru bagi masa depan Sulawesi Selatan yang lebih tangguh.
Ke depan, tantangan kita adalah mentransformasi kehangatan seremonial ini menjadi integrasi sistemik—mulai dari kemudahan logistik hingga standardisasi produk UMKM.
Jika simbiosis antara kota dan hinterland ini terjalin erat, maka resiliensi ekonomi bukan lagi sekadar wacana. Sudahkah kita, sebagai bagian dari ekosistem ekonomi ini, memberikan kontribusi nyata untuk mendukung produk lokal yang tumbuh tepat di samping kita?









