Andi Baso, melalui tindakan sederhana, telah menunjukkan bahwa kejujuran bukan soal besar atau kecilnya nilai suatu barang, melainkan tentang prinsip yang tidak boleh ditawar.
PELAKITA.ID – Kenangan tentang seseorang yang telah berpulang kerap hadir dalam potongan-potongan kecil peristiwa.
Dari peristiwa sederhana itulah, karakter dan kemuliaan seseorang kerap tampak begitu jelas.
Demikian pula yang dirasakan alumni Unhas, Rusdi Talha, saat mengenang sosok almarhum Andi Baso—sahabat yang telah menemaninya lebih dari tiga dekade.
Rusli membagikan pengalamannya di WAG Alumni Unhas. Penulis mencoba memetik kisah dan makna di baliknya.
“Saya berkawan baik selama lebih dari 30 tahun. Banyak sekali kenangan bersama almarhum,” ungkap Rusdi.
Dari sekian banyak kisah, ada satu peristiwa yang begitu membekas dan tidak mungkin ia lupakan sepanjang hidupnya.
Peristiwa itu terjadi pada tahun 2002, saat mereka bersama-sama mengikuti ujian advokat di Gedung Universitas Negeri Makassar (UNM).

Saat itu, Rusdi diliputi kekhawatiran yang mungkin terasa sepele bagi sebagian orang—ia takut meja ujian yang digunakan tidak rata atau bermasalah.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia membawa sebuah papan clipboard dari rumah.
Papan itu bukan sembarang papan. Ia telah menggunakannya sejak ujian Sipenmaru bertahun-tahun sebelumnya, bahkan kemudian dipakai oleh adik-adiknya lintas generasi. Sebuah benda sederhana yang sarat nilai kenangan dan kepercayaan.
Setibanya di lokasi ujian, pemandangan berbeda ia temui. Banyak pedagang menjajakan papan clipboard, dan para peserta ujian berbondong-bondong membelinya.
Kebutuhan yang ia khawatirkan ternyata telah menjadi peluang bagi banyak orang.
Usai ujian, pemandangan lain kembali menarik perhatiannya. Papan-papan clipboard itu berserakan di lantai, ditinggalkan begitu saja oleh para pemiliknya.

Rusdi pun sempat berpikir bahwa papan miliknya yang telah berusia lebih dari sepuluh tahun itu sudah waktunya diganti.
Ia berniat membuang papan lamanya dan mengambil salah satu papan yang tergeletak.
Niat itu seketika terhenti.
Kata Rusdi, almarhum Andi Baso dengan sigap menarik papan yang hendak diambil Rusdi, lalu membuangnya kembali.
Sambil itu, ia mengucapkan kalimat sederhana namun sarat makna: “Ini bukan milik kita.”
Kalimat singkat itu menjadi pelajaran hidup yang tak terlupakan. Bagi Rusdi, sikap almarhum menunjukkan prinsip yang begitu teguh tentang kejujuran dan integritas.
Bahkan terhadap barang yang sudah ditinggalkan pemiliknya, yang secara kasat mata tampak “tidak bertuan”, almarhum tetap menolak untuk mengambilnya.

“Jika barang yang dibuang pemiliknya saja tidak boleh dipungut, bisa dibayangkan bagaimana sikap almarhum terhadap barang milik orang lain atau milik publik,” kenang Rusdi.
Dalam dunia yang kerap kali memberi ruang kompromi terhadap hal-hal kecil, sikap seperti itu menjadi cermin kemuliaan akhlak yang jarang ditemukan.
Andi Baso, melalui tindakan sederhana, telah menunjukkan bahwa kejujuran bukan soal besar atau kecilnya nilai suatu barang, melainkan tentang prinsip yang tidak boleh ditawar.
Kini, almarhum telah tiada. Namun nilai-nilai yang ia tinggalkan tetap hidup dalam ingatan dan hati orang-orang yang pernah mengenalnya.
Al-Fatihah untuk almarhum. Semoga Allah SWT menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya, dan menjadikan setiap jejak kebaikannya sebagai amal jariyah yang terus mengalir.
___
Sorowako, 13 April 2026
Penulis Denun









