Usai Bersolek, Eatery BCC Desa Baruga Kembali Memukau, Bukukan Tren Positif

  • Whatsapp
Pelakita.ID bersama Ibu Hilda (kedua dari kiri), Andi Narwis, ujung kiri dan pemuda asal Wotu, Hendrik Amir (dok: Pelakita.ID)

Spot kuliner BCC kini menggeliat di tangan Manajemen Bumdes LS2 Sentosa, Desa Baruga. Ada optimisme di tengah semakin menggeliatnya Luwu Timur sebagai daerah juaranya ‘Sejuta Investasi’. 

PELAKITA.ID – Awal tahun 2024, publik di Luwu Timur, terutama di Kecamatan Malili, intens membincang nasib fasilitas BCC yang redup setelah sejumlah cobaan mendera.

Ada hantaman pandemi Covid-19 hingga minat warga yang menurun drastis untuk datang ke spot kuliner dan destinasi wisata ini.

“Iya, sempat memang mengalami kemunduran setelah sebelumnya ramai dikunjungi warga. Pandemi Covid-19 penyebabnya,” ungkap Sangkala atau akrab disapa Puang Ewa saat ditemui di BCC yang kini lebih dikenal dengan nama Eatery BCC – Bumdes LS2 Sentosa.

Puang Ewa menyebut BCC atau Baruga Collaboration Center saat dirintis memang tujuannya untuk menjadi ajang kreativitas warga, terutama kaum muda, yang dilengkapi ruang kuliner dan rekreasi persis di sempadan Sungai Malili atau berjarak sekitar 2 kilometer dari ruas Jalan Malili – Sorowako.

“Ada taman bermain anak dan sejumlah gazebo yang didesain memikat awalnya, lalu ada destinasi wisata pembuatan perahu di bagian sana,” ucap Ewa sembari menunjuk titik dimaksud.

“Kala itu, pernah dalam semalam lebih dari seratus orang datang. Dan itu berlangsung lama, terutama saat akhir pekan,” kata Puang Ewa saat ditemui Pelakita, 10 April 2026 di BCC.

Hadir pula kolega Ewa seperti Andi Narwis, Abdul Gani, hingga pemuda asal Wotu, Hendrik Amir.

Menurut Ewa, awal tahun 2024 menjadi momentum titik balik saat destinasi ini mendapat dukungan PT Vale melalui skema PPM SDGs bidang infrastruktur ekonomi desa melalui pola pengembangan UMKM berbasis perkotaan.

Fasilitas di BCC melingkupi taman bermain, ada ruang lantai dua yang bisa digunakan untuk sejumlah kegiatan, ada sayap lokasi kuliner, gazebo dan ruang santai sembari melepas pandangan ke batang sungai.

“Intinya, BCC ini kembali beroperasi sejak tahun 2024, saat ada anggaran PPM Sustainable Development Goals PT Vale untuk renovasi dan pengadaan sejumlah fasilitas,” ucap Ewa.

“Ada beberapa perbaikan, pembenahan, termasuk pengadaan sejumlah fasilitas seperti meja, kursi, dan perbaikan tata letaknya, termasuk yang kita tempati ini,” ujar pria asal Desa Baruga yang juga merupakan Ketua Badan Perwakilan Desa ini.

Dikatakan Ewa, konsep pengelolaan BCC awalnya oleh tiga desa atau kelurahan yang tergabung dalam perencanaan dan pengelolaannya, yaitu Kelurahan Malili, Desa Baruga, dan Desa Puncak Indah. Setelah lama vakum, kini atas dukungan Pemda Luwu Timur, BCC kembali menggeliat.

“Besar peluangnya ini BCC berkembang, apalagi kalau beberapa kawasan seperti IHIP Huadi beroperasi,” ucap Sangkala, Ketua BPD Baruga.

Desa Baruga yang kini dipimpin oleh Kades Yahya Abdullah, menurut Sangkala sebagai Ketua BPD, berada pada posisi strategis dan menjanjikan di masa depan.

“Kehadiran BCC kembali ini, dengan melibatkan Bumdes, menurut saya menjadi inspirasi yang baik. Ada daya tahan, ada semangat yang terus berkobar dari pengurus,” puji Sangkala.

Menjadi ‘Eatery BCC – Bumdes LS2 Sentosa’

Setelah sempat berkibar sebagai destinasi wisata sebelum pandemi Covid-19, lalu vakum selama dua tahun, kini BCC kembali bergairah. Setidaknya setelah Pelakita.ID melakukan observasi dan wawancara dengan sejumlah pihak.

Andi Narwis, fasilitator Program Pengembangan Kawasan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale – The COMMIT Foundation, bercerita bahwa dari sisi gagasan, program BCC yang dirintis oleh dua desa dan satu kelurahan ini sangat cocok untuk menjadikan Kecamatan Malili sebagai lokasi pengembangan bisnis berbasis kawasan seperti Sungai Malili yang fenomenal.

Sungai yang membagi beberapa desa potensial dan kaya sumber daya alam seperti Wewangriu, Baruga, hingga Balantang.

“Saat itu, saat desain program, awalnya memang tidak mudah, tetapi akhirnya sejumlah pihak bersepakat untuk memanfaatkan keunggulan strategis Malili sebagai ibu kota Luwu Timur. Ada atensi untuk pengembangan potensi kawasan perkotaan seperti yang dirintis melalui BCC ini,” ucap Andi Narwis saat ditemui di kawasan Eatery BCC – LS2 Sentosa, Desa Baruga, Jumat, 9 April 2026.

Narwis menyebut ada kolaborasi yang kuat antara Pemda, PT Vale, dan masyarakat di kawasan Malili terkait dukungan pengembangan kawasan. “Saat itu ada Tim Koordinasi Kabupaten, Badan Koordinasi Antar Desa, hingga Tim Sekretariat PKPM,” kenang Narwis.

Saat Pelakita.ID berkunjung ke LS2 Sentosa, tampak jejeran kursi, meja, gazebo, dan sejumlah bagian BCC yang diisi pengunjung.

Ada sekurangnya lima meja dijejali pengunjung. Bahkan tampak dua pria yang disebut pengunjung asal China bersama dua warga lokal.

Pelakita beruntung sebab malam itu hadir Hilda, pengelola Eatery BCC – LS2 Sentosa. Ia bercerita bahwa sejak pertengahan tahun lalu, BCC kembali beroperasi. “Kami mulai menghidupkan BCC atau usaha ini sejak Agustus 2025,” ucapnya.

Hilda menyebut, selain menjadi ajang rekreasi, tempat menikmati sunset, hingga malam minggu, BCC kini dilengkapi dengan aneka kuliner.

Tak hanya itu, ia mengungkapkan bahwa tahun lalu Bumdes pengelola lokasi ini telah menghasilkan laba hingga ratusan juta rupiah. “Itu laba Bumdes,” ucapnya meyakinkan.

“Apa arti LS2, mengapa disebut LS2?” tanya Pelakita. “L itu Lagaroang, S itu Samudera, dan L itu Langaru,” jawab Hilda.

Hilda, perempuan dengan tiga anak ini, mengaku menyandarkan mata pencaharian dari UMKM seperti LS2 Sentosa.

“Saya mulai aktif di Bumdes Baruga sejak 2019, posisi sebagai bendahara. Di rumah tinggal dengan suami dan tiga anak. Suami bekerja sebagai penjahit, sementara saya di sini,” kata perempuan yang mengaku lahir dan besar di Wotu, sementara suaminya asal Malili.

Di LS2 Sentosa, Pelakita disuguhkan menu khas bandeng bakar tanpa tulang.

Tersedia pula bandeng goreng tanpa tulang. Bandeng berasal dari desa-desa pesisir sekitar Malili seperti Wewangriu dan Baruga.

“Bukan hanya bandeng, kami juga ada sajian nasi ayam, pisang peppe, kopi, teh, jus, dan banyak lagi,” kata Hilda, jebolan SMA di Wotu ini.

Malam itu, suasana meriah terasa di sempadan Sungai Malili, di sayap BCC. Beberapa pria bernyanyi riang gembira.

Tidak kurang dari dua puluh pengunjung hadir di venue sesuai hitungan Pelakita.ID. Ada yang menikmati bandeng tanpa tulang, pisang peppe, nasi goreng, hingga jus jeruk.

“Kopinya juga enak,” kata Sangkala Ewa.

Abdul Gani, general affair staff The COMMIT Foundation, tampak menikmati suasana sungai yang bermandikan cahaya lampu warna-warni, juga perahu-perahu bermesin tempel yang melaju membelah malam menuju muara.

Sejumlah warga rupanya sedang bersiap memasang pukat di muara Sungai Malili, sungai yang disebut memiliki potensi besar ikan kakap hingga kerapu terbaik.

Pemandangan itu menjadi bonus bagi mereka yang menyiapkan waktu menyesap makna alam, keindahan ruas sungai purba Malili, dan juga denyut nadi ekonomi kawasan di Luwu Timur.

Jika kondisi BCC atau LS2 Sentosa Desa Baruga sedemikian mengasyikkan setelah sempat vakum dan kini telah bersolek, lalu kapan saudara berkunjung ke sana?

Sampai di sini kita disuguhkan bagaimana orang-orang berjibaku membangun desanya, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, dan membangun jejaring dengan mitra potensial seperti PT Vale.

Tentu, layaknya sebuah aliran semangat untuk tumbuh dan berkembang, tantangan pasti ada. Namun, tantangan menjadi peluang saat orang-orang terus menjaga api optimisme untuk berdiri di atas kaki sendiri, kini dan nanti.


Pontada, 12 April 2026
Penulis Kamaruddin Azis, Founder Pelakita.ID