Aktivis Lingkungan dan Adat, Andi Baso Wafat, Sejumlah Kolega Beri Testimoni

  • Whatsapp
Mendiang Andi Baso, S.H (dok: Istimewa)

Andi Baso selain pejuang lingkungan, sebagai pendakwah keislaman, dia adalah benteng pertahanan komunitas adat dan masyarakat desa di Luwu Raya bahkan di Nusantara. Kiprahnya mendapat pujian sebagai pendorong semangat keswadayaan dan penguatan organisasi masyarakat sipil.

PELAKITA.ID – Innaalillahi wa innaa ilaihi rojiun, selamat jalan Ustadz Baso, engkau kakak sekaligus sahabat yang sangat baik.

Demikian tulis Jumardi Lanta, alumni FT Unhas yang juga Program Manager the COMMIT Foundation terkait wafatnya aktivis lingkungan yang juga Kades Bonelemo, Luwu, Andi Baso. S.H.

And Baso disebut sebagai alumni Fakultas Hukum Unhas dan juga pernah bekerja di organisasi Lembaga Mitra Lingkungan (LML) di Makassar.

“Dulu rumahmu di Bontomene tempat kami belajar Islam Muhammadi tahun 1990-an awal, lalu kita sama-sama bekerja untuk program pemberdayaan masyarakat di Lembaga Mitra Lingkungan sampai tahun 2000-an awal,” tulis Jumardi.

“Lalu engkau memilih pulang kampung mengabdi jadi anggota DPRD Luwu, selesai di DPRD lalu jadi Kades Bonelemo Bajo Barat untuk meneruskan posisi ayahanda yang telah menjadi kades lebih 30 tahun,” tambahnya.

Dikatakan Jumardi, kemarin, 11 Aprl 2026, saat menjenguk di ICU Rumah Sakit Tajuddin Chalid dia dikabari melalui pesan WA oleh dr. H. Sulaeman Rahman, Spesialist Anastesi, salah seorang dokter senior di RS. Tajuddin Chalid bahwa kondisi pasien an. Andi Baso, SH sedahg kritis.

“Dokter sudah berupaya yang terbaik, kita pasrahkan kepada Allah Swt yang terbaik baginya,” tulis Jumardi.

“Saya bersaksi engkau kakak sekligus sahabat yang sangat baik & banyak amal jariyahnya. Semoga menjadi penerang alam kuburnya. Al Fatiha maashalawat. Aamin Allahumma Aamin,” tambahnya.

Di WAG Alumni Unhas, Bachrianto Bachtiar yang akrab disapa Kak Anto membagikan berita meninggalnya Andi Baso.

Kak Anto punya kedekatan dan solidaritas yang kuat dengan almarhum karena pernah bersama atau berkegiatan di bawah payung Lembaga Mitra Lingkungan.  Keduanya asal Luwu Raya.

Selain Jumardi dan Kak Anto, Andi Agung, aktivis LSM yang aktif di Lembaga Mitra Lingkungan juga ikut memberi testimoni.

“Innalillahi Wainnailaihi Raji’un Selamat Jalan Saudaraku Ustaz Baso, kami bersedih kehilangan kamu salah seorang aktivis dan pejuang lingkungan yang konsisten. Insya Allah husnul khatimah. Al fatihah,” tulis Andi Agung di laman medsosnya.

Khudry Arsyad, pengurus PMI Kota Makassar yang juga pernah sebagai Koordinator FIK Ornop Sulawesi Selatan ikut menyampaikan belasungkawa.

“Innalillahi wainna ilahi rajiun, selamat jalan Dik Baso, salah seorang adik terbaik dan konsisten,” tulisnya.

“Beliau adalah narasumber nasional untuk BNPB atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana RI,” sebut Khudry.

Dr Maman, kedua dari kiri, bersama mendiang Andi Baso (dok: Dr Abdul Rahman Nur)

Wakil Rektor Universitas Andi Djemma Palopo, Dr Abdul Rahman Nur, menuliskan dengan indah kenangannya dengan Andi Baso.

“Senja menggantung pelan di Caffe Galung. Langit berwarna tembaga, dan di meja kayu sederhana itu, beberapa cangkir kopi hitam mengepul—satu di hadapanku, satu di hadapan almarhum Ustad Baso,  Irsal Maing dan Kamal Khatib,” tulisnya.

“Tak ada yang istimewa dari pertemuan itu, kecuali percakapan yang perlahan berubah menjadi jejak terakhir yang tak akan pernah terulang,” lanjutnya.

Dituliskan Maman, demikian sapaannya, Ustad Baso memandang jauh, seolah menembus dinding-dinding kafe menuju kampung-kampung adat yang selama ini ia perjuangkan.

“Tanah itu bukan sekadar tempat berpijak,” katanya pelan, “ia adalah harga diri.” Suaranya tenang, tapi mengandung keteguhan yang tak tergoyahkan.

“Kami berbicara tentang masyarakat adat—tentang mereka yang menjaga hutan tanpa pamrih, yang hidup selaras dengan alam, tetapi justru sering terpinggirkan oleh kebijakan dan kepentingan besar,” tambahnya.

Ia menyebut bagaimana banyak wilayah adat perlahan hilang, digantikan oleh tambang dan perkebunan. “Kalau tanah mereka hilang,” lanjutnya, “yang hilang bukan cuma ruang hidup, tapi juga sejarah dan masa depan.”.

Turut berduka. Bagi penulis, Andi Baso selain pejuang lingkungan, sebagai pendakwah keislaman, dia adalah benteng pertahanan komunitas adat dan masyarakat desa di Luwu Raya bahkan di Nusantara.

Kiprah dan sepakterjangnya mendapat pujian sebagai pendorong semangat keswadayaan dan penguatan organisasi masyarakat sipil.

___


Penulis Denun