Oleh Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Seorang sahabat mengirimkan sebuah pengalaman dari sekitar tahun 2021. Bukan kisah yang lahir dari ruang seminar, bukan pula dari laboratorium modern dengan alat-alat presisi, melainkan dari dataran tinggi, dari tanah yang dibalik dengan tangan, dari peluh yang jatuh di sela akar kacang hijau, dan dari tong sampah pasar yang dipandang sebelah mata.
Saya membacanya pelan, lalu terdiam. Di sana saya menemukan inti terdalam dari citizen journalism: kesaksian jujur warga biasa yang justru menyimpan pengetahuan luar biasa.
Ia memulai kisahnya dengan sederhana. Saat itu ia sedang belajar menjadi “pembongkar-bolak-balik tanah”, sebuah metafora yang begitu indah untuk manusia yang sedang bertumbuh.
Tanah bukan sekadar media tanam, melainkan kitab terbuka tempat manusia membaca hukum sebab-akibat semesta. Di Dataran Tinggi Puawang, Majene, Sulbar, sekitar 21 liter benih kacang hijau ditanam dengan harapan yang tak kecil. Namun seperti semua perjalanan hidup, harapan selalu diuji.
Tanamannya diserang hama walang sangit—atau yang oleh masyarakat setempat disebut anango—juga tikus dan burung-burung liar. Pada titik inilah banyak orang menyerah.
Tetapi sahabat ini memilih jalan yang berbeda.Ia bertahan, tabah, sabar, dan ikhlas. Kata yang dalam praktik pertanian sama nilainya dengan pupuk terbaik. Alam sering kali tidak segera memberi jawaban, tetapi ia selalu memberi pelajaran.
Di sinilah kisah itu berubah menjadi dialog yang memikat antara manusia dan lingkungan. “Kalau hama datang dari alam, bukankah obatnya juga mungkin ada di alam?” begitu kira-kira suara batin yang bisa kita dengar dari langkah-langkahnya menuju pasar.
Ia berjalan bukan hanya untuk membeli bahan, tetapi untuk mencari kemungkinan. Dan justru di tempat yang paling sering diabaikan manusia. Bak sampah pasar. Ia menemukan inspirasi. Limbah berserakan, busuk, tak bernilai di mata banyak orang, justru memanggil imajinasi seorang pembelajar.
Orang-orang memandang heran.
“Kenapa membongkar sampah?”
“Mungkin dia kurang sehat,” bisik sebagian orang.
Tetapi sejarah kemajuan selalu lahir dari keberanian orang-orang yang berani terlihat aneh di mata zamannya.
Sahabat saya itu mengumpulkan limbah yang dibutuhkannya ke dalam karung, membawanya pulang, mencuci, menjemur, lalu kembali lagi ke pasar untuk menggilingnya.
Bahkan ketika hampir semua pemilik mesin parut kelapa menolak menggiling bahan dari hasil “bongkaran sampah”, ia tidak mundur. Ada harga mahal yang harus dibayar, dan ia membayarnya. Sebab pengetahuan memang selalu meminta ongkos: tenaga, waktu, kesabaran, dan kadang keberanian menghadapi cemoohan.
Dari sana lahirlah sebuah eksperimen rakyat.
Di rumah, ia menyiapkan media fermentasi. Ia tidak menyebutnya riset, tetapi sesungguhnya itulah riset dalam bentuk paling murni: observasi, hipotesis, uji coba, evaluasi. Dua puluh hari kemudian, hasilnya hadir dalam enam jerigen cairan fermentasi yang ia formulasikan sebagai fungisida sekaligus pengendali hama.
Lalu tibalah babak pembuktian.
Cairan itu diaplikasikan ke tanaman kacang hijau yang terserang walang sangit. Hasilnya mengejutkan: hama hilang, tanaman pulih, panen terselamatkan. Lebih dari itu, ketika formula tersebut dibagikan kepada petani lain yang mengalami masalah serupa, hasilnya tetap sam. Mujarab dan efektif.
Di sinilah citizen journalism bertemu dengan ilmu pengetahuan populer.
Apa yang dilakukan sahabat ini sesungguhnya mencerminkan prinsip dasar inovasi pertanian berkelanjutan. Memanfaatkan sumber daya lokal, mendaur ulang limbah organik, mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis, dan membangun pengetahuan kolektif antarpetani.
Ia tidak sekadar menyelamatkan kebunnya, tetapi juga membuktikan bahwa kecerdasan ekologis masyarakat kita masih sangat hidup.
Kisah ini penting untuk ditulis di ruang publik karena ia mengingatkan kita bahwa inovasi tidak selalu lahir dari atas. Kadang ia tumbuh dari bawah, dari tangan petani yang akrab dengan lumpur, dari orang-orang yang diam-diam tekun belajar pada alam.
Negara yang besar adalah negara yang mampu mendengar suara-suara kecil seperti ini, lalu menjadikannya inspirasi kebijakan.
Ada pelajaran peradaban yang sangat kuat bahwa sesuatu yang dianggap sampah oleh banyak orang bisa menjadi solusi bagi kehidupan bila disentuh oleh akal, kesabaran, dan keberanian bereksperimen. Begitu pula manusia—sering kali yang diremehkan justru menyimpan daya cipta yang menyelamatkan banyak orang.
Sahabat saya tidak hanya menanam kacang hijau. Ia sedang menanam kesadaran bahwa ilmu tidak pernah jauh dari rakyat. Ia hidup di pasar, di kebun, di tong sampah, di mesin parut kelapa, dan di enam jerigen fermentasi yang lahir dari ketekunan.
Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang mengusir walang sangit. Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia berdialog dengan alam, menolak menyerah pada masalah, dan menemukan pengetahuan dari tempat yang tak terduga. Sebuah jurnalisme warga yang bukan sekadar melaporkan fakta, tetapi menghadirkan hikmah.
Dan mungkin, di tengah zaman yang terlalu sering memuja teknologi tinggi, kita justru perlu kembali belajar pada petani yang berani membongkar sampah demi menyelamatkan kehidupan.
Terima kasih bung Ikhsan Welly. Ilmu dan pengalaman yang dibagi insya Allah jadi amal jariyah. Amin.
_____
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”









