Investasi Perdana Biru Fund Perkuat Akses Benih Berkualitas dan Dorong Budi Daya Berkelanjutan di Kabupaten Berau

  • Whatsapp
Inisiatif ini menjawab tantangan utama sektor tambak di Kabupaten Berau, yaitu keterbatasan pasokan benih yang selama ini bergantung pada daerah lain di luar kota, seperti Surabaya dan Tarakan. (Dok: YKAN)

Revitalisasi Hatchery Lokal Tingkatkan Kualitas Benih dan Dukung Ekonomi Biru

PELAKITA.ID – Berau, Kalimantan Timur, 7 April 2026 — Investasi perdana program Biru Fund yang diinisiasi oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), mulai diimplementasikan melalui revitalisasi hatchery (fasilitas pembenihan) udang windu di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Tanjung Batu, Kab. Berau, Kalimantan Timur.

Langkah itu sebagai upaya memperkuat akses petambak terhadap benih berkualitas sekaligus mendorong praktik budi daya yang lebih berkelanjutan.

Inisiatif ini menjawab tantangan utama sektor tambak di Kabupaten Berau, yaitu keterbatasan pasokan benih yang selama ini bergantung pada daerah lain di luar kota, seperti Surabaya dan Tarakan.

Ketergantungan tersebut kerap menyebabkan ketidakpastian kualitas dan jumlah benih akibat risiko kematian benih selama pengiriman. Dengan hadirnya hatchery lokal, petambak kini dapat memperoleh benih dengan kualitas yang lebih terjaga serta penghitungan yang akurat sesuai kebutuhan produksi.

Selain memperkuat sisi produksi, program ini juga memperkenalkan skema pembiayaan yang lebih inklusif. Melalui Biru Fund, petambak dapat mengakses pembiayaan dengan bunga 0%, disertai masa tenggang pembayaran hingga 10 bulan.

Pengembalian dana dilakukan berdasarkan persentase keuntungan, sehingga menyesuaikan dengan hasil panen dan mengurangi tekanan finansial di awal siklus budi daya.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Abdul Majid menuturkan, peningkatan produksi benih udang windu di SMKN 3 merupakan contoh kolaborasi pemerintah, swasta, dan NGO yang sangat baik.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Abdul Majid menuturkan, peningkatan produksi benih udang windu di SMKN 3 merupakan contoh kolaborasi pemerintah, swasta, dan NGO yang sangat baik.

Dia menambahkan, kolaborasi ini merupakan terobosan dalam penyediaan benur unggul dan transformasi teknologi budi daya air payau.

“Ini bentuk inovasi dan upaya kreatif dari pemerintah dan para pihak untuk menjawab kebutuhan mendasar masyarakat petambak yang selama ini kesulitan mendapatkan benih udang windu berkualitas di Berau,” ujarnya.

Menurut Majid, program ini sejalan dengan visi dan misi Bupati Berau untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di sektor perikanan.

“Kami juga berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi yang selama ini mendukung kami dalam mengoptimalkan fungsi pelayanan kepada masyarakat Berau,” kata Abdul Majid..

Dia berharap program dari para mitra pembangunan seperti YKAN, dapat  terus menginspirasi pihak lain untuk mengembangkan terobosan bisnis berkelanjutan, untuk masa depan sumber penghidupan masyarakat Pesisir Kabupaten Berau dan dapat mendukung program inovasi yang sudah ada seperti KAWAN BAIK, SANG RATU, dan SIPURI.

“Ini model yang dapat kita replikasi. Bisnis berkelanjutan di sektor perikanan yang dapat berkontribusi terhadap konservasi dan peningkatan mata pencaharian masyarakat,” jelasnya.

Guru Agribisnis Perikanan Air Payau dan Laut SMKN 3 Tanjung Batu, Catur Sketsa Suroso, menyampaikan bahwa integrasi antara pendidikan dan industri menjadi nilai utama dari program ini.

Hatchery ini tidak hanya berfungsi sebagai unit produksi, tetapi juga sebagai sarana praktik bagi siswa agar memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Kami juga bekerja sama dengan pihak swasta untuk memastikan standar operasional dan penyusunan modul pembelajaran berjalan optimal,” jelas Catur.

Bagi petambak, keberadaan hatchery ini tidak hanya meningkatkan akses terhadap benih, tetapi juga memberikan kepastian usaha. Salah satu petambak di Kampung Suaran, Kabupaten Berau, Jumardi, menyebutkan bahwa selama ini ketidakpastian pasokan menjadi risiko utama dalam budi daya.

Selain itu, kata Catur, Hatchery ini juga dikembangkan sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik melalui model teaching factory di SMKN 3 Tanjung Batu. Fasilitas tersebut memungkinkan siswa terlibat langsung dalam proses produksi benih udang, mulai dari tahap teknis hingga pengelolaan usaha.

Dalam operasionalnya, hatchery dikelola bersama mitra teknis dari sektor swasta, yaitu PT Tri Karta Pratama (PT TKP), yang bertanggung jawab atas pengelolaan produksi sekaligus pengembangan kurikulum praktik bagi siswa.

Bagi petambak, keberadaan hatchery ini tidak hanya meningkatkan akses terhadap benih, tetapi juga memberikan kepastian usaha. Salah satu petambak di Kampung Suaran, Kabupaten Berau, Jumardi, menyebutkan bahwa selama ini ketidakpastian pasokan menjadi risiko utama dalam budi daya.

“Sering kali benur yang datang tidak sesuai jumlah atau menurun karena perjalanan jauh. Sekarang kami bisa mendapatkan benur dengan jumlah yang lebih pasti dan mudah, karena jarak lebih dekat sehingga mengurangi risiko kematian benur sampai di tambak,” katanya.

Dukungan terhadap Pengembangan Ekonomi Biru

Program Biru Fund merupakan bagian dari inisiasi Koralestari yang didukung oleh Global Fund for Coral Reefs (GFCR). Biru Fund mendorong pengembangan ekonomi biru yang mengintegrasikan peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan perlindungan ekosistem pesisir.

Melalui pendekatan ini, kegiatan budi daya diharapkan tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

YKAN mendukung implementasi Biru Fund sebagai instrumen pembiayaan inovatif untuk mendorong usaha ramah lingkungan di sektor perikanan. Dukungan ini mencakup penguatan kapasitas, pendampingan teknis, serta pengembangan model bisnis yang sejalan dengan prinsip konservasi.

“Melalui Biru Fund, kami mendorong terciptanya model usaha yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada perlindungan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Ini menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan sektor perikanan di Kabupaten Berau,” ujar Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman.

Ke depan, model bisnis berbasis kemitraan dan pembiayaan inovatif ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah pesisir lainnya, khususnya di daerah dengan tantangan serupa.

Dengan mengintegrasikan dukungan pembiayaan, peningkatan kapasitas, serta insentif berbasis konservasi, inisiatif ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dalam jangka panjang.

***

Tentang YKAN

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. YKAN memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan non konfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.ykan.or.id.

Narahubung
Adia Puja Pradana
Communications Specialist Ocean Program YKAN
adia.pradana@ykan.or.id