H A M Zulkarnain | Wajo 627 Tahun, dari Latenri Bali, La Maddukkelleng, hingga Kini

  • Whatsapp
H.A.M Zulkarnain, alumni Ilmudan Teknologi Kelautan Unhas, aktivis sosial politik (dok: Pelakita.ID)

Pada dirgahayu Wajo ke 627, Andi Muhammad Zulkarnain, pria ber-DNA Wajo, alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas, berpengalaman di dunia CSR LSM dan sosial politik membagikan pokok-pokok pikirannya tentang Wajo dulu, kini dan nanti. Mari simak.

PELAKITA.ID — Angin pagi di wilayah Tosora seolah membawa jejak ingatan panjang tentang asal-usul sebuah peradaban. Di tempat yang kini dikenal sebagai Wajo, sebuah peristiwa penting terjadi pada tahun 1399.

Di bawah pohon Bajo, Latenri Bali dilantik. Dari momentum itulah, arah sejarah Wajo mulai terbentuk dan dikenang hingga hari ini.

Penetapan Hari Jadi Wajo berakar pada peristiwa tersebut. Dalam perjalanan kepemimpinan awal, Latenri Bali pernah menghadapi situasi sulit saat memerintah bersama saudaranya, Latenri Tippe, sebagai Arung Cinnongtabi. Ketegangan muncul akibat tindakan sewenang-wenang terhadap rakyat, yang kemudian mendorong Latenri Bali mengambil langkah berbeda.

Ia memilih meninggalkan pusat kekuasaan dan menetap di Penrang, wilayah di sebelah timur Tosora.

Di sana, ia hidup sebagai Arung Penrang. Keputusan itu justru menjadi titik balik. Rakyat yang mendambakan keadilan datang menjemputnya, hingga ia kemudian diangkat sebagai Arung Mata Esso di Kerajaan Boli.

Pada pelantikan di bawah pohon Bajo, lahirlah sebuah kesepakatan antara pemimpin dan rakyat—sebuah ikrar yang menjadikan langit dan bumi sebagai saksi. Sejak saat itu, gelar Batara mulai digunakan, dan Kerajaan Boli berkembang menjadi Kerajaan Wajo. Latenri Bali pun dikenang sebagai Batara Wajo pertama. Dari titik inilah, penanggalan Hari Jadi Wajo bermula.

Tanggal 29 Maret memiliki makna historis lainnya. Ia terkait dengan peristiwa tahun 1741, ketika La Maddukkelleng memimpin perlawanan terhadap Belanda serta kerajaan-kerajaan Bugis yang menjadi sekutunya. Peristiwa ini menjadi simbol keberanian dan harga diri masyarakat Wajo.

La Maddukkelleng dikenang sebagai penjaga nilai kemerdekaan, atau Petta Pamaradekangengi Wajo. Semangat itu terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Dari perpaduan dua peristiwa besar tersebut, disepakati bahwa Hari Jadi Wajo diperingati setiap 29 Maret 1399.

Memasuki era pemerintahan modern, Wajo terus melanjutkan perjalanan panjangnya. Andi Rosman mulai menjabat sebagai Bupati Wajo sejak Februari 2025. Dengan demikian, peringatan Hari Jadi Wajo ke-627 tahun ini bertepatan dengan kurang lebih satu tahun masa kepemimpinannya.

Memasuki tahun 2026, Kabupaten Wajo genap berusia 627 tahun—sebuah perjalanan panjang yang tidak selalu mudah. Ada masa pertumbuhan, fase penurunan, hingga kebangkitan kembali.

Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika ekonomi Wajo menunjukkan arah yang semakin positif. Pertumbuhan ekonomi yang sempat berada di angka 2,38 persen pada 2022 dan turun menjadi 1,43 persen pada 2023, mulai membaik pada 2024 dengan capaian 4,17 persen.

Tahun 2025 menjadi titik penting. Pertumbuhan ekonomi melonjak hingga 7,16 persen dan menempatkan Wajo di peringkat ketiga tertinggi di Sulawesi Selatan.

Capaian ini mencerminkan akselerasi yang kuat, terutama pada sektor-sektor berbasis produksi.

Sektor pertanian menjadi tulang punggung utama. Produksi padi mencapai 829.111 ton, meningkat sekitar 140.000 ton dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini mengantarkan Wajo sebagai salah satu daerah dengan kontribusi signifikan terhadap produksi beras nasional.

Secara nasional, Wajo menempati peringkat kedelapan dalam peningkatan produksi beras pada tahun 2025.

Prestasi ini mendapat pengakuan dari pemerintah pusat, di mana Prabowo Subianto secara langsung menyerahkan penghargaan dalam sebuah acara di Kabupaten Karawang pada 7 Januari 2026.

Penghargaan tersebut menjadi penanda bahwa kerja keras sektor pertanian Wajo mendapat perhatian di tingkat nasional.

Perjalanan panjang ini menunjukkan kesinambungan antara sejarah dan masa kini. Nilai-nilai yang diikrarkan di bawah pohon Bajo masih terasa dalam kehidupan sosial masyarakat—tentang keadilan, kepercayaan, dan hubungan antara pemimpin dan rakyat.

Semangat yang diwariskan La Maddukkelleng pun tetap hidup. Ia hadir dalam cara masyarakat menjaga harga diri sekaligus membangun daerahnya dengan penuh tekad.

Tema Hari Jadi Wajo tahun ini mengusung semangat kebersamaan menuju kemajuan dan kemerdekaan. Tema ini terasa selaras dengan perjalanan panjang Wajo—dari masa kerajaan hingga era modern, di mana kebersamaan selalu menjadi kunci.

Di usia 627 tahun, Wajo terus bergerak. Ada warisan yang dijaga, ada langkah yang disesuaikan dengan zaman. Dari Tosora, cerita itu bermula—dan hingga kini, terus berlanjut.

___
Editor Denun