Dari Candaan Netizen hingga Inovasi Dapur: Ketika Kayu Bakar Jadi Solusi Nyata

  • Whatsapp
Ilustrasi kompor sederhana demi menghemat penggunaan energi fossil (dok: saravanana84711 Saravanan Saravanan

PELAKITA.ID – Imbauan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, agar masyarakat dapat juga memanfaatkan kayu bakar di tengah keterbatasan pasokan energi, sempat ramai dibagikan warganet.

Di media sosial, seperti WAG, ajakan tersebut tak jarang menjadi bahan candaan—dianggap sebagai langkah mundur di era modern yang serba praktis.

Namun, bagi pria yang akrab disapa Datok Jufri itu, imbauan tersebut bukan sekadar wacana, apalagi guyonan.

Kepada Pelakita.ID, sosok yang dikenal sebagai pamong senior dengan pengalaman panjang di Sulawesi Selatan hingga tingkat pusat di Jakarta ini justru memberikan penjelasan yang lebih konkret.

Ia tidak hanya berbicara, tetapi juga menunjukkan—melalui serangkaian gambar dan deskripsi sederhana—sebuah solusi yang bisa langsung diterapkan.

Yang ditampilkan bukanlah teknologi rumit. Sebaliknya, sebuah kompor sederhana berbahan logam, dirancang dengan pendekatan praktis, memanfaatkan prinsip aliran udara dan efisiensi pembakaran.

Sekilas tampak seperti hasil kerja bengkel biasa, namun di balik bentuknya tersimpan gagasan besar: bagaimana dapur rumah tangga bisa tetap “menyala” tanpa sepenuhnya bergantung pada gas LPG.

Bagi Datok Jufri, penggunaan kayu bakar bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan bentuk adaptasi terhadap kondisi saat ini. Ketika distribusi gas terganggu atau harga melonjak, masyarakat perlu memiliki alternatif yang realistis dan terjangkau.

Di sinilah kompor berbasis biomassa menemukan relevansinya.

Dengan bahan bakar seperti kayu kering, tempurung kelapa, atau limbah pertanian, kompor ini menawarkan kemandirian energi di tingkat rumah tangga. Tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan luar, warga bisa memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.

Lebih dari itu, desain kompor yang diperlihatkan juga mengarah pada efisiensi. Ruang bakar tertutup, saluran udara yang terarah, serta bentuk konstruksi yang sederhana memungkinkan panas terkonsentrasi dan pembakaran lebih sempurna. Hasilnya, bahan bakar yang digunakan menjadi lebih hemat, sekaligus mengurangi asap dibandingkan metode tradisional.

Di tengah situasi ekonomi yang menantang, pendekatan seperti ini juga menyentuh aspek biaya. Bagi banyak keluarga, terutama di wilayah pedesaan atau pinggiran kota, pengeluaran untuk gas menjadi beban rutin.

“Sedikit ji kayu na pakai ini Denun tapi apinya kencang seperti pakai gas tawwa,” jelasnya via WA sembari mengirimkan prototype kompor dimaksud.

Sementara itu, bahan bakar alternatif seperti kayu atau limbah biomassa sering kali tersedia secara gratis atau dengan biaya sangat rendah.

Tak kalah penting, inovasi sederhana ini membuka ruang bagi pemberdayaan lokal. Kompor dapat dibuat oleh pengrajin setempat, diperbaiki dengan mudah, dan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

Artinya, solusi ini tidak bergantung pada teknologi tinggi atau impor alat, melainkan tumbuh dari kemampuan masyarakat sendiri.

Apa yang awalnya dianggap candaan oleh sebagian netizen, perlahan menunjukkan makna yang lebih dalam. Di balik imbauan sederhana itu, tersimpan pesan tentang ketahanan, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi.

Barangkali, di tengah ketidakpastian energi global, masa depan dapur tidak hanya ditentukan oleh teknologi canggih, tetapi juga oleh solusi-solusi sederhana yang lahir dari pemahaman akan kondisi lokal.

Sosodara, dari sebuah kompor sederhana, percakapan tentang energi, ekonomi, dan keberlanjutan pun dimulai kembali.

_
Denun di Sorowako, 8 April 2026