PELAKITA.ID – Fenomena El Niño sering kali disalahpahami secara sederhana sebagai kenaikan suhu udara semata. Namun, bagi kita yang mendalami dinamika kelautan, El Niño adalah sebuah gangguan masif pada sirkulasi atmosfer dan samudera yang mengubah tatanan fundamental ekosistem perairan.
Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, Muhammad Ilyas, tantangan ini bukan lagi sekadar prediksi cuaca di layar televisi, melainkan realitas mendesak yang menekan “denyut nadi” ekonomi biru Indonesia.
“Sebagai negara kepulauan, kita berada di garis depan; perubahan arus dan suhu ini memiliki kekuatan untuk melumpuhkan produktivitas laut jika kita gagal meresponsnya dengan mitigasi yang terukur,” ucapnya saat dihubungi Pelakita.ID, 7 April 2026.
Dampak Ekologis: Gangguan pada Ekosistem Laut
Pelakita.ID menyusuri sejumlah referensi terkait perubahan iklim dan kerentanan sosiologis. Ada realitas, perubahan karakteristik fisik air laut selama El Niño memicu efek domino yang merusak biota laut secara sistemik. Berdasarkan analisis data lapangan, berikut adalah gangguan ekologis utama yang sedang kita hadapi:
Kenaikan Suhu Permukaan Laut (SPL): Peningkatan suhu ekstrem memicu fenomena coral bleaching (pemutihan karang). Dalam kondisi stres termal, karang melepaskan alga simbiotiknya (zooxanthellae), yang menyebabkan karang kehilangan warna dan sumber energi utamanya.
Jika suhu tinggi bertahan dalam durasi lama, kematian karang massal akan menghancurkan habitat esensial bagi berbagai jenis ikan.
Melemahnya Upwelling: Di perairan Indonesia, El Niño cenderung melemahkan arus yang mendorong proses upwelling—yaitu naiknya massa air kaya nutrisi ke permukaan. Penurunan pasokan nutrisi ini menyebabkan populasi fitoplankton merosot tajam, yang secara otomatis memutus rantai makanan dari tingkat yang paling dasar.
Migrasi Ikan: Spesies pelagis strategis seperti tuna dan cakalang sangat peka terhadap termoklin. Mereka akan bermigrasi mencari perairan yang lebih dingin atau menyelam ke lapisan laut yang lebih dalam (vertikal), sehingga mengubah pola distribusi tradisional yang biasanya diprediksi oleh nelayan.
Ancaman Budidaya: Penurunan kualitas air dan penguapan tinggi meningkatkan salinitas secara drastis. Komoditas seperti rumput laut menjadi sangat rentan terhadap penyakit ice-ice, sebuah kondisi degeneratif yang dipicu oleh fluktuasi suhu dan salinitas ekstrem yang dapat menyapu bersih seluruh hasil panen dalam waktu singkat.
Dampak Ekonomi: Dari Palka Kosong hingga Inflasi Pangan
Gangguan ekologis tersebut bertransformasi secara langsung menjadi kerugian finansial yang signifikan, baik bagi nelayan kecil maupun industri skala besar.
| Masalah Ekologi | Dampak Ekonomi & Kesejahteraan |
| Penurunan Nutrisi & Perubahan Migrasi | Penurunan hasil tangkapan nelayan kecil secara drastis (palka kosong). |
| Perubahan Lokasi Fishing Ground | Lonjakan biaya operasional (BBM) dan waktu tempuh melaut yang lebih lama. |
| Kegagalan Panen Budidaya | Gangguan rantai pasok ekspor dan penurunan devisa non-migas negara. |
| Penurunan Suplai Pasar | Fluktuasi harga komoditas laut di pasar domestik dan pemicu inflasi pangan. |
Selain poin-poin di atas, El Niño menciptakan ketidakpastian investasi yang serius. Ketidakteraturan iklim memunculkan apa yang disebut sebagai “premi risiko iklim,” yang membuat investor enggan menanamkan modal pada industri pengolahan ikan atau akuakultur skala besar.
Tanpa kepastian bahan baku dan stabilitas lingkungan, investasi asing langsung (FDI) di sektor ekonomi biru akan terhambat, yang pada gilirannya memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Solusi Strategis dan Adaptasi ke Depan
Menurut Muhammad Ilyas, menghadapi tantangan ini memerlukan sintesis antara kearifan lokal, kebijakan yang berani, dan pemanfaatan teknologi tepat guna.
Meskipun El Niño menekan sektor perikanan tangkap, fenomena ini membawa berkah tersembunyi bagi sektor pergaraman.
Data menunjukkan bahwa produksi garam di Sulawesi Selatan melonjak signifikan selama tahun-tahun El Niño akibat durasi penyinaran matahari yang lebih panjang. Namun, potensi ini sering kali terbuang percuma karena hambatan pasar.
Kadis Ilyas menegaskan, diperlukan intervensi kebijakan untuk memastikan adanya pembeli (off-taker) industri yang siap menyerap dan mengolah hasil produksi tersebut menjadi garam industri. Diversifikasi pendapatan nelayan ke sektor pergaraman saat musim kering ekstrem adalah strategi adaptasi ekonomi yang sangat masuk akal.
Yang kedua adalah optimalisasi PPDPI. Nelayan harus difasilitasi dengan penggunaan Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI) berbasis satelit untuk memantau pergeseran fishing ground secara presisi.
Analisis Profil Perairan Vertikal: Sangat krusial untuk membuat peta analisis profil suhu dan salinitas secara horizontal maupun vertikal. Hal ini sangat vital bagi aktivitas Keramba Jaring Apung (KJA). Berbeda dengan kapal ikan yang bisa berpindah tempat, KJA bersifat statis; oleh karena itu, data profil kedalaman air diperlukan untuk menentukan posisi jaring yang aman atau menyesuaikan pola pemberian pakan agar ikan tidak stres.
Riset Komoditas Adaptif: Sebagai solusi jangka panjang terhadap penyakit ice-ice, riset harus difokuskan pada penggunaan bibit rumput laut unggul yang memiliki toleransi tinggi terhadap salinitas tinggi dan fluktuasi suhu ekstrem.
Pembaca sekalian, El Niño memang membawa tantangan berat, namun strategi adaptasi yang berbasis data dan diversifikasi adalah kunci untuk bertahan.
Kita tidak boleh membiarkan kesejahteraan masyarakat pesisir runtuh akibat perubahan iklim. Prinsip Ekonomi Biru harus tetap dijunjung tinggi melalui mitigasi yang terukur agar sumber daya laut kita tetap lestari dan memberikan manfaat ekonomi yang stabil.
Sepertinya yang diharapkan oleh Muhamad Ilyas, untuk menghadapi tantangan global ini, diperlukan sinergi yang kokoh antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri.
“Kita harus menyatukan langkah dan visi demi ketahanan pangan akuatik kita. Sebagaimana pepatah lokal mengingatkan kita,” kata dia.
“Seddi tong pendapat”—hanya dengan kesatuan pendapat dan visi yang sama, kita mampu menavigasi badai perubahan iklim ini menuju masa depan kelautan yang lebih tangguh,” kuncinya.









