Mengubah Tradisi Menjadi Nilai Tambah: 5 Pelajaran Penting dari Kebangkitan Perempuan Nelayan di Maluku

  • Whatsapp
Melalui program CFI, Sasi mengalami transformasi dari sekadar larangan pasif menjadi instrumen ekonomi modern melalui ecolabeling. "Sasi itu yakni suatu cara dari Negeri Laha untuk memberikan waktu yang cukup di suatu lokasi atau di laut yang ada di negeri Laha ini untuk bisa melindungi biota-biota laut yang ada di pantai Negeri Laha."

Artikel ini mengulas bagaimana inisiatif Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia—sebuah kolaborasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), GEF, dan WWF—mengubah “bau amis keputusasaan” menjadi aroma kemandirian melalui konsep inovatif: Sasi Label.

PELAKITA.ID – Di Negeri Laha, Ambon, napas masyarakatnya adalah angin dan detak jantung mereka adalah ombak. Bagi mereka, laut bukan sekadar hamparan air biru, melainkan sebuah rahim yang memberi hidup sekaligus menyimpan rahasia masa depan.

Selama bergenerasi, peran perempuan pesisir sering kali terkurung dalam narasi “penjaga daratan”—mereka yang menjaga api di tungku dan menanti kepulangan suami di bibir pantai dengan penuh kecemasan.

Realitas pahit ini memuncak saat Musim Timur atau masa paceklik tiba. Biaya operasional melaut yang tinggi untuk membeli bahan bakar sering kali berakhir sia-sia ketika jaring ditarik dalam keadaan kosong.

Di momen inilah, potensi laut yang melimpah seolah menjadi “emas” yang berubah menjadi “timah” tak berharga sebelum sempat mereka genggam.

Artikel ini mengulas bagaimana inisiatif Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia—sebuah kolaborasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), GEF, dan WWF—mengubah “bau amis keputusasaan” menjadi aroma kemandirian melalui konsep inovatif: Sasi Label.

Sasi: Dari Larangan Adat Menjadi “Izin” untuk Berdaya

Selama berabad-abad, Sasi dikenal sebagai tradisi luhur masyarakat Maluku untuk melindungi ekosistem. Sasi adalah hukum adat yang melarang pengambilan hasil laut tertentu dalam jangka waktu tertentu.

Melalui program CFI, Sasi mengalami transformasi dari sekadar larangan pasif menjadi instrumen ekonomi modern melalui ecolabeling.

“Sasi itu yakni suatu cara dari Negeri Laha untuk memberikan waktu yang cukup di suatu lokasi atau di laut yang ada di negeri Laha ini untuk bisa melindungi biota-biota laut yang ada di pantai Negeri Laha.”

Kini, Sasi Label bukan lagi tentang “menunggu” alam pulih, melainkan menjadi pintu masuk bagi perempuan untuk terlibat aktif. Sasi hari ini terdengar seperti sebuah “izin”—izin bagi para perempuan untuk keluar dari bayang-bayang pilar rumah dan menjadi bagian utama dari solusi ekonomi perikanan yang berkelanjutan.

Melampaui Ikan: Penyelamat di Kala Musim Timur

Salah satu kejutan terbesar dari transformasi ini adalah diversifikasi produk non-perikanan, yaitu Batik Ecoprint. Inovasi ini menjadi “napas kedua” bagi ekonomi keluarga nelayan saat laut sedang terlalu ganas untuk diarungi.

Ketika suami tidak bisa melaut karena cuaca, para istri bergerak menciptakan nilai tambah dari daratan.

Mengapa Ecoprint selaras dengan prinsip Ekonomi Biru (Blue Economy)?

  • Ramah Lingkungan: Menggunakan pola dari dedaunan, bunga, dan batang alami tanpa campuran bahan kimia.
  • Produk High-End: Kain-kain ini diolah menjadi produk fesyen seperti hijab, scarf, tas, kemeja, hingga dompet.
  • Prestasi Nasional: Keahlian kelompok perempuan di Laha dalam memproduksi lebih dari 1.100 unit Ecoprint turut menghantarkan desa mereka meraih Juara 3 Nasional kategori Desa Berkembang dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).

Memutus Rantai Kemiskinan dengan Akses Pasar Modern

Persoalan utama nelayan di Maluku bukanlah rendahnya kapasitas menangkap ikan, melainkan lemahnya akses pasar. Tanpa rantai distribusi yang baik, hasil tangkapan melimpah hanya akan berakhir menjadi pakan ternak bernilai rendah.

Sasi Label menjembatani kesenjangan ini dengan memberikan “stiker kehormatan” pada kemasan produk yang menjamin kualitas dan keberlanjutan.

Melalui kemitraan yang difasilitasi proyek, produk olahan seperti abon ikan, ikan asap cair, hingga kerajinan tangan kini telah menembus 10 outlet ritel modern, dengan target ekspansi hingga 20–30 outlet pada akhir proyek. Beberapa lokasi strategis tersebut meliputi:

  • Supermarket Santos
  • Pusat Oleh-oleh Fully Souvenir
  • Corner Hotel Santika Ambon
  • Dian Pertiwi Supermarket Ambon
  • Manise Shop
  • Gerai PT Angkasapura di Bandara Pattimura Ambon

Kekuatan Angka: Dampak Nyata di Balik Stiker Label

Keberhasilan program CFI Indonesia terukur secara presisi melalui data yang menunjukkan dampak sosial-ekonomi yang masif bagi komunitas pesisir Maluku dan Papua:

  • 5.238 nelayan telah mendapatkan pembinaan intensif.
  • 1.637 orang (31%) di antaranya adalah perempuan nelayan yang kini menjadi penerima manfaat aktif.
  • Total pendapatan dari 10 kelompok binaan perempuan telah melampaui angka Rp180 juta.
  • Program ini telah menyentuh kehidupan lebih dari 1.600 wanita nelayan di 12 desa binaan.

Angka-angka ini membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan mesin penggerak utama kesejahteraan desa.

Sosok “Champion”: Martabat dari Keringat Sendiri

Untuk memastikan semangat ini tidak padam, lahirlah para “Champion”—sosok pemimpin lokal yang dipilih melalui kualifikasi ketat untuk menjadi pionir di desa masing-masing, seperti yang terjadi di desa Ohoiwat Kidat.

Para Champion ini bertugas mengestafetkan ilmu dan menjaga bara semangat komunitas.

Bagi mereka, keberhasilan ini lebih dari sekadar angka di buku tabungan. Ini adalah tentang kembalinya harga diri. Seorang Champion mengungkapkan refleksi yang mendalam:

“Bukan tentang jumlahnya, tapi tentang martabat yang menyertainya. Rasanya berbeda… ini adalah hasil keringat kami sendiri.”

Masa Depan yang Wangi, Bukan Lagi Amis

Transformasi di Maluku menunjukkan bahwa kearifan lokal seperti Sasi bisa menjadi basis bagi pengembangan Other Effective Area-based Conservation Measures (OECM)—sebuah model konservasi yang dikelola secara efektif oleh masyarakat di luar kawasan taman nasional resmi.

Tangan yang dulu hanya menadah, kini mulai mencipta. Aroma amis keputusasaan telah berganti menjadi wangi kemandirian. Integrasi antara tradisi leluhur dan manajemen modern terbukti mampu menjaga laut sekaligus menyejahterakan manusia.

Pembaca sekalian, jika tradisi Sasi di Maluku bisa diaktivasi menjadi kekuatan ekonomi modern yang ramah lingkungan, tradisi unik apa di daerah Anda yang sedang menunggu untuk dibangunkan dari tidurnya?

___
Editor K. Azis