Mappadekko yang Mulai Asing, Gelar Zine Jadi Upaya Mengingat Kembali di Bulukumba

  • Whatsapp
Tradisi Mappadekko yang kian jarang terdengar di tengah perkembangan zaman justru menjadi titik tolak pelaksanaan kegiatan Gelar Zine di Bontonyeleng, Bulukumba, Jumat (3/4).

PELAKITA.ID – Tradisi Mappadekko yang kian jarang terdengar di tengah perkembangan zaman justru menjadi titik tolak pelaksanaan kegiatan Gelar Zine di Bontonyeleng, Bulukumba, Jumat (3/4).

Kegiatan ini digelar sebagai upaya mengarsipkan sekaligus menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap ritus budaya lokal tersebut.

Gelar Zine yang berlangsung sejak pukul 15.30 WITA hingga menjelang maghrib ini dikemas dalam format “bikin-bikin zine” dengan mengangkat tema Mappadekko. Peserta diajak mendokumentasikan cerita, pengalaman, serta nilai-nilai yang selama ini luput dari ruang-ruang besar pencatatan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif “April Bulukumba Membaca” yang mendorong masyarakat melihat daerah bukan hanya sebagai ruang geografis, tetapi juga sebagai ruang pengetahuan.

Dalam narasi yang dibangun, Bulukumba tidak hanya dikenal sebagai daerah kelahiran perahu Pinisi, tetapi juga sebagai tempat tumbuhnya kesadaran literasi dan produksi pengetahuan.

Peserta Gelar Zine, Alif, menyebut bahwa banyak cerita kecil yang tidak mendapatkan ruang untuk disampaikan. Menurutnya, pengalaman hidup yang berlangsung sehari-hari serta nilai-nilai lokal sering kali terlewat dari perhatian.

“Ada cerita-cerita kecil yang jarang mendapat ruang. Ada pengalaman hidup yang berlangsung tanpa sorotan.

Pun, ada nilai-nilai lokal yang tetap bertahan meski zaman terus bergerak cepat. Dan seharusnya tradisi Mappadekko bukan menjadi lupa,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Rumah Buku SaESA berupaya menjadikan zine sebagai medium alternatif untuk mengarsipkan sekaligus menyebarluaskan kembali praktik budaya yang mulai terlupakan.

Mappadekko dipandang bukan sekadar tradisi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas yang memiliki makna lebih dalam bagi masyarakat.

Alif, menegaskan bahwa Gelar Zine tidak dimaksudkan sebagai akhir dari sebuah proses, melainkan sebagai ruang awal untuk membaca kembali realitas sekitar.

“Ini bukan tentang mencapai pelabuhan terakhir. Ini ajakan untuk berlayar perlahan, menelusuri cerita demi cerita, serta menemukan kembali makna yang mungkin selama ini terlewat di sekitar kita,” tutupnya.

___
Sakkir Satu Pena