PELAKITA.ID – Sudah sekitar empat tahun terakhir saya memperhatikan dengan saksama geliat Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.
Perhatian itu tumbuh bukan karena kebetulan, melainkan karena ada sesuatu yang terasa berbeda—semacam denyut yang hidup, konsisten, dan tidak dibuat-buat. Dengan Kohen, ketuanya, sempat ngobrol pendek di Lantai 2 Rektorat Unhas, sosok yang murah senyum dan rendah hati.
Dengan Sekjennya, Suaib, saya berkomunikasi intens, selama bulan Ramadan, dia bahkan ikut menyukseskan Jumat Berkah untuk komunitas pesisir Makassar dalam Ramadan itu.
Pembaca sekalian, di saat sebagian organisasi alumni berjalan dalam ritme yang datar—sekadar hadir saat momentum tertentu lalu kembali sunyi—IKAFE justru bergerak sebaliknya. Ia hidup. Ia berdenyut. Dan yang paling terasa, ia punya arah.
Di bawah kepemimpinan Henra Noor Saleh atau akrab disapa Kohen dan Sekjen Suaib, IKAFE seperti menemukan bentuknya yang paling jujur: sebuah ruang yang tidak hanya mempertemukan orang, tetapi juga mempertautkan energi.
Ada semacam “api” yang terus dijaga—api solidaritas, api kreativitas—yang tidak pernah benar-benar padam. Hampir setiap bulan, selalu ada alasan untuk berkumpul: diskusi kecil, temu santai, kegiatan sosial, hingga percakapan lintas generasi yang kadang sederhana, tapi justru bermakna.

Saya melihatnya bukan sekadar sebagai rangkaian kegiatan. Lebih dari itu, ia adalah cara sebuah komunitas merawat dirinya sendiri.
Pelan-pelan, saya sampai pada satu kesimpulan: organisasi seperti IKAFE tidak bisa lagi dipahami hanya sebagai wadah nostalgia. Ia telah menjelma menjadi ekosistem.
Sebuah ruang hidup yang memperpanjang napas kampus ke luar pagar universitas—ke dunia kerja, ke masyarakat, ke realitas yang terus berubah.
Di dalamnya, alumni tidak sekadar “bertemu kembali”, tetapi juga “tumbuh bersama”. Di titik ini, silaturahmi menemukan maknanya yang paling dalam.
Gelaran bukan lagi semata seremoni. Bukan agenda formal yang dihadiri karena kewajiban. Silaturahmi di IKAFE terasa seperti energi—sesuatu yang mengalir, menghubungkan, dan diam-diam menggerakkan banyak hal.
Dari sana, jejaring terbentuk dengan sendirinya. Orang-orang yang dulu mungkin tak pernah saling kenal, kini terhubung dalam percakapan dan kerja sama.
Ada yang bertemu mitra bisnis, ada yang menemukan ruang kolaborasi, ada pula yang sekadar mendapatkan perspektif baru yang mengubah cara pandangnya.
Penulis menyimpulkan seperti ini karena beberapa nama yang meriung di atmosfer Ikafe adalah pengusaha, aktivis, peneliti, influencers yang ikut berbagi perspektif dan sumber daya.
Lebih dari itu, silaturahmi juga menjadi ruang belajar yang tidak kaku. Yang senior bercerita, yang muda menyimak—lalu peran itu bisa bergantian tanpa sekat.
Petang ini, di ujung hari Kota Sorowako yang dirubung bunyi guntur, Ketua IKATEK Unhas, Muhammad Sapri Andi Pamulu membagfikan kebersamaan Ikafe itu. Keren bukan? Ketua IKA Fakultas lain yang membagikan pesona kebersamaan mereka?
Yang terasa, tidak ada podium tinggi, tidak ada jarak yang dibuat-buat. Yang ada hanyalah pengalaman yang dibagikan, dan keinginan untuk saling menguatkan.
Di sana pula, identitas sebagai bagian dari FEB Unhas terasa tetap hidup. Bukan sebagai label masa lalu, tetapi sebagai ikatan yang terus tumbuh. Ada rasa memiliki yang tidak dipaksakan, melainkan tumbuh dari kebersamaan yang berulang.

Menariknya, dari relasi yang cair itu, sering lahir hal-hal yang konkret. Program, gerakan sosial, dukungan untuk sesama alumni, bahkan kontribusi untuk mahasiswa. Seolah-olah, dari percakapan ringan, tumbuh aksi nyata.
Tanpa disadari, semua itu membangun reputasi. Bukan reputasi yang dibuat melalui slogan, tetapi yang tumbuh dari konsistensi. Dari kehadiran yang terus dijaga. Dari rasa saling percaya yang tidak mudah dibentuk, tetapi sekali terbangun, menjadi kekuatan besar.
Bagi saya pribadi, Ikafe adalah pengingat bahwa sebuah organisasi tidak harus selalu besar untuk menjadi berarti. Ia hanya perlu hidup—dengan orang-orang yang percaya, yang mau terlibat, dan yang bersedia menjaga api itu bersama-sama.
Apa yang dilakukan Kohen dan Suaib mungkin terlihat sederhana: mempertemukan orang, menjaga ritme kegiatan, membuka ruang. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Mereka tidak sekadar mengelola organisasi; mereka merawat energi kolektif.
Dan energi seperti itu, jika sudah tumbuh, sulit untuk dipadamkan.
Pada akhirnya, kita percaya: silaturahmi yang dirawat dengan tulus adalah investasi yang paling sunyi, tapi paling berdampak.
Ia tidak selalu terlihat dalam angka atau laporan, tetapi terasa dalam perubahan—dalam hubungan, dalam peluang, dalam cara orang saling memandang. IKAFE telah menunjukkan itu.
Membaca giat Ikafe, terdengar seperti gita jasmani alumni yang terus bertalu saat IKA yang lain sedang terlelap di pendulum waktu. Sasah!
Bagi Ikafe, api itu terus menyala—hangat, konsisten, dan menghidupkan. Sejauh yang saya lihat, ia belum akan padam dalam waktu dekat.
___
Denun, Sorowako, 3 April 2026









