Bukan Sekadar Tangkap di WPP 713: Rahasia Pulau Langkai Menuju Kiblat Gurita Dunia

  • Whatsapp

PELAKITA.ID – Di ufuk barat Makassar di hamparan Spermonde atau di jantung Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia 713 , Pulau Langkai dan Lanjukang berdiri sebagai saksi bisu harmoni antara manusia dan samudera.

Di balik keindahan gradasi air lautnya, tersimpan sebuah narasi besar tentang transformasi “Ekonomi Biru” yang sedang digulirkan.

Bukan lagi tentang seberapa banyak kita bisa menguras isi laut, melainkan tentang bagaimana kita mengelola aset masa depan ini agar tak habis dimakan ambisi sesaat.

Melalui program PROTEKSI GAMA (Penguatan Ekonomi dan Konservasi Gurita Berbasis Masyarakat), Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia mulai merajut asa baru: menjadikan gurita sebagai simbol kedaulatan nelayan kecil.

Menjadikan Makassar Sebagai Kiblat Gurita Berkelanjutan

Visi besar yang diusung oleh Nirwan Dessibali, Direktur Pelaksana YKL Indonesia, bukan sekadar menjaga populasi gurita di perairan Sulawesi Selatan.

Ia bermimpi menjadikan Langkai dan Lanjukang sebagai model percontohan nasional dalam tata kelola perikanan. Fokusnya jelas: integrasi “hulu hingga hilir.”

Program ini, yang didukung penuh oleh jaringan konservasi global seperti Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) dan Burung Indonesia, berupaya menyinkronkan cara tangkap yang ramah lingkungan di laut dengan kepastian harga di pasar.

Refleksi mendalam dari pendekatan ini adalah memutus rantai “proyek konservasi” yang seringkali gagal karena melupakan aspek kesejahteraan. Dengan mengelola rantai pasok secara utuh, konservasi tidak lagi menjadi beban bagi nelayan, melainkan menjadi investasi. Inilah antitesis dari eksploitasi tanpa rencana; sebuah transisi menuju manajemen perikanan yang cerdas dan bermartabat.

”Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia berkomitmen untuk menginisiasi sebuah upaya pengelolaan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam memanfaatkan sumber daya perikanan,” — Nirwan Dessibali.

Strategi “Buka-Tutup” Kawasan: Dari Pemburu Menjadi Manajer

Keberhasilan paling nyata dari pendampingan YKL Indonesia adalah implementasi sistem “buka-tutup” kawasan penangkapan gurita. Muhammad Zamrud dari Balai Karantina Ikan Makassar memberikan apresiasi tinggi terhadap metode ini.

Intinya sederhana namun berdampak masif: memberikan waktu bagi alam untuk bernapas. Selama periode penutupan, gurita memiliki kesempatan untuk tumbuh hingga ukuran maksimal dan bereproduksi sebelum akhirnya dipanen kembali dengan kualitas yang jauh lebih tinggi.

Poin krusial di sini bukan pada larangannya, melainkan pada siapa yang melarang. Berbeda dengan aturan kaku dari otoritas pusat, keputusan buka-tutup di Langkai dan Lanjukang lahir dari musyawarah warga.

Ada pergeseran psikologis yang fundamental di sini: nelayan tidak lagi melihat diri mereka sebagai pemburu yang saling berebut sisa, melainkan sebagai “manajer laut” yang memiliki kendali penuh atas wilayah kelolanya. Partisipasi aktif inilah yang menjamin keberlanjutan program melampaui masa jabatan pejabat manapun.

Paradox Permintaan Tinggi vs Jaminan Konsistensi

Potensi ekonomi gurita Makassar sebenarnya telah berada di radar pemangku kebijakan tertinggi. Muhammad Rheza, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Makassar, menceritakan sebuah anekdot menarik tentang ketertarikan Ibu Wali Kota terhadap produk olahan dari pulau-pulau tersebut. Namun, ketertarikan itu seringkali terbentur pada tembok realitas: stok yang tidak konsisten.

Ini adalah “krisis konsistensi” yang menjadi tantangan utama UMKM pesisir. Sebuah pasar yang profesional tidak hanya mencari produk yang enak, tetapi juga pasokan yang stabil.

Tanpa pengelolaan berbasis konservasi (seperti sistem buka-tutup), pasokan akan selalu fluktuatif mengikuti tren kepunahan lokal. Jaminan ketersediaan stok adalah kunci tunggal untuk menembus pasar premium. Jika nelayan mampu menjaga kelestarian stok di laut, maka pasar global lah yang akan datang menjemput mereka, bukan sebaliknya.

”Ibu Wali Kota suka dengan produk olahan asal pulau, hanya saja ketika diminta lagi untuk dipasok, rupanya belum tersedia,” — Muhammad Rheza.

Sinergi Sektor Publik, Swasta, dan Kekuatan Komunitas

Ekonomi biru tidak bisa berjalan dalam isolasi. PROTEKSI GAMA membuktikan bahwa “formula rahasia” keberhasilan terletak pada kolaborasi lintas sektor. Penandatanganan kerja sama antara nelayan Langkai-Lanjukang dengan Agus Saputra dari PT Kencana Bintang Terang (yang tergabung dalam Asosiasi Demersal Indonesia/ADI) adalah langkah konkret untuk menjamin akses pasar.

Namun, akses pasar saja tidak cukup tanpa modal. Di sinilah peran strategis Dedyansyah dari BLU LPMUKP Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai analis pengembangan bisnis. Sebagai contoh sukses,

Koperasi Alhamidi dari Galesong telah berhasil mengakses pembiayaan hingga miliaran rupiah untuk pengembangan perahu purse seine. Integrasi antara pendampingan LSM, jaminan serapan sektor swasta, dan dukungan modal pemerintah menciptakan ekosistem usaha yang tangguh bagi nelayan skala kecil agar mereka tidak lagi menjadi objek, melainkan pemain utama dalam industri perikanan.

Gurita Sebagai “Pintu Masuk” Konservasi yang Lebih Luas

Seringkali, untuk menyelamatkan hutan, kita harus fokus pada satu spesies ikonik. Hal yang sama berlaku di laut. Dalam PROTEKSI GAMA, gurita diposisikan sebagai “Trojan Horse” atau pintu masuk bagi agenda konservasi yang lebih besar.

Dengan melindungi habitat gurita—yaitu terumbu karang yang sehat—kita secara otomatis memagari rumah bagi berbagai spesies dilindungi dan terancam punah lainnya yang berbagi ruang di perairan Makassar.

Filosofi ini mengajarkan kita bahwa kesehatan satu komoditas adalah indikator kesehatan seluruh ekosistem. Gurita hanyalah awal; tujuannya adalah memulihkan kembali kejayaan laut Makassar secara menyeluruh. Satu gurita yang tumbuh besar di sela karang yang terjaga adalah bukti bahwa ekonomi dan ekologi bisa berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan.

Kesimpulan

Apa yang terjadi di Pulau Langkai dan Lanjukang adalah potret kecil dari masa depan perikanan Indonesia yang lebih cerah. Transformasi dari eksploitasi menuju tata kelola yang bijak memberikan optimisme bahwa Makassar siap menjadi kiblat baru bagi produk laut berkelanjutan.

Dengan kolaborasi yang solid, mimpi tentang laut yang sejahtera bukan lagi sekadar narasi di atas kertas, melainkan kenyataan yang bisa dirasakan langsung di meja makan kita.

Pertanyaan Renungan: Ketika Anda menikmati produk laut di restoran favorit Anda, pernahkah Anda berpikir: apakah ini hasil dari jarahan yang merusak, ataukah sebuah investasi dari pengelolaan yang bijak? Maukah Anda mulai mendukung produk yang menjamin masa depan laut kita tetap ada untuk generasi mendatang?

Penulis Denun