PELAKITA.ID – Indonesia tidak lagi sekadar menjadi peserta dalam percakapan maritim global—Indonesia kini menulis ulang aturan mainnya.
Dalam 24th Annual Large Marine Ecosystem (LME) and Coastal Partners Conference di Athena, delegasi Indonesia melampaui retorika dengan menampilkan hasil nyata dari penerapan Ecosystem-Based Fisheries Management (EAFM).
Melalui capaian tersebut, Indonesia memanfaatkan statusnya sebagai negara mega-biodiversity untuk memperkuat soft power dalam negosiasi maritim internasional. Keberhasilan lokal kini diangkat menjadi standar global—menandai wajah baru diplomasi lingkungan Indonesia.
“Proyek ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia tidak hanya berkomitmen, tetapi juga mengambil langkah konkret untuk mewujudkan perikanan terukur dan pengelolaan laut berkelanjutan,” ujar Moh Abdi Suhufan.
Negeri Maritim di Persimpangan Sejarah
Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia menghadapi tantangan besar: bagaimana memanfaatkan kekayaan laut untuk memenuhi kebutuhan jutaan penduduk tanpa merusak keseimbangan ekosistem.
Selama puluhan tahun, laut diperlakukan sebagai sumber daya yang tak terbatas. Namun kini, paradigma itu berubah. Indonesia mulai bergerak menuju kedaulatan maritim yang berbasis ketahanan ekosistem.
Transformasi ini bukan sekadar perubahan kebijakan, melainkan revolusi senyap yang digerakkan oleh GEF6 Coastal Fisheries Initiative. Inisiatif ini menjembatani pengetahuan tradisional dengan tata kelola modern, menciptakan fondasi baru bagi ekonomi kelautan Indonesia.
Dari Kebijakan Domestik ke Kepemimpinan Global
Indonesia kini beralih dari eksploitasi sumber daya mentah menuju model pengelolaan berbasis ekosistem yang lebih canggih. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan domestik dapat menjadi referensi global.
Langkah ini mempertegas posisi Indonesia sebagai pemimpin baru dalam diplomasi lingkungan—di mana praktik lokal yang efektif menjadi inspirasi dunia.
Memberdayakan Nelayan Kecil dengan Teknologi
Konsep Blue Economy tidak hanya hidup di ruang rapat elit, tetapi nyata di atas kapal nelayan kecil. Di wilayah pengelolaan perikanan (WPP) 715, 717, dan 718, berbagai teknologi mulai diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan:
- GPS dan fish finder: bukan sekadar alat navigasi, tetapi meningkatkan keselamatan dan efisiensi melaut.
- Penghemat bahan bakar: menekan biaya operasional sekaligus mengurangi emisi karbon.
- e-logbook: digitalisasi pencatatan hasil tangkapan yang mengubah praktik tradisional menjadi berbasis data.
Khususnya e-logbook, inovasi ini membuka akses bagi nelayan kecil terhadap kredit dan asuransi formal—dua pilar penting ekonomi modern yang sebelumnya sulit dijangkau.
Pendekatan Ilmiah dalam Penetapan Kuota
Transformasi besar juga terlihat dalam kebijakan penangkapan ikan terukur berbasis kuota (PIT). Dalam langkah yang cukup berani untuk negara berkembang, Indonesia menetapkan kuota bukan berdasarkan pertimbangan politik, melainkan batas biologis.
Hal ini didukung oleh kerja sama dengan KOMNASKAJISKAN, yang memastikan setiap kebijakan berbasis data stok ikan yang terverifikasi.
Menurut Dirjen Perikanan Tangkap KKP, Lotharia Latif, kebijakan ini menjadi prioritas nasional dalam agenda ekonomi biru. Sementara itu, Syahril Abd. Raup, Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan DJPT KKP, menekankan pentingnya kerja sama global untuk mencapai SDG 14: laut yang bersih dan berkelanjutan.
Perubahan Cara Pandang: Laut sebagai Sumber Kehidupan
Perubahan paling mendasar dari transformasi ini bersifat filosofis. Indonesia mulai melihat laut bukan sekadar “sumber daya”, tetapi sebagai “sumber kehidupan”.
Cara pandang ini menjadi pagar penting agar ekonomi biru tidak berubah menjadi bentuk baru eksploitasi industri. Dengan melihat laut sebagai sistem hidup yang harus dijaga, Indonesia mampu merancang kebijakan yang lebih inklusif dan adil, terutama bagi kelompok rentan.
Narasi ini juga akan dibawa Indonesia dalam 3rd United Nations Ocean Conference di Prancis mendatang.
Menuju Masa Depan Biru
Seiring proyek GEF6 yang akan mencapai puncaknya pada 2026, Indonesia sudah bersiap memasuki fase berikutnya, yakni siklus GEF-9.
Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti peta jalan global—Indonesia sedang mengukir posisinya sebagai pemimpin di meja maritim dunia. Model yang ditawarkan jelas: teknologi dan tradisi tidak harus bertentangan, melainkan bisa tumbuh bersama.
Kini dunia dihadapkan pada pilihan besar: apakah akan mengikuti langkah Indonesia dalam memperlakukan laut sebagai sumber kehidupan, atau tetap melihatnya sebagai tambang yang tak pernah habis?
Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan warisan generasi kita.
___
Rujukan: https://uritanet.com/2025/05/26/lewat-proyek-gef6-indonesia-pimpin-transformasi-perikanan-global/”









