Sanitasi Aman di Makassar: Antara Tren Positif dan Tantangan Besar

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

PELAKITA.ID – Akses sanitasi aman merupakan salah satu layanan dasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat. Ia tidak sekadar berbicara tentang ketersediaan fasilitas, tetapi juga tentang bagaimana limbah manusia dikelola secara aman tanpa mencemari lingkungan.

Di Kota Makassar, isu ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, meski masih menyisakan pekerjaan rumah yang tidak kecil.

Dalam lima tahun terakhir, persentase rumah tangga dengan akses sanitasi aman di Makassar menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Pada tahun 2020, angkanya masih sangat rendah, hanya 0,64 persen. Namun secara bertahap meningkat menjadi 1,64 persen pada 2021, lalu 2,74 persen pada 2022, dan 4,56 persen di 2023.

Puncaknya terjadi pada 2024 dengan capaian 8,45 persen. Angka ini mencerminkan rumah tangga yang telah memiliki tangki septik sesuai standar, melakukan penyedotan secara berkala minimal tiga tahun sekali, atau telah terhubung dengan sambungan rumah ke IPAL komunal di tingkat lingkungan maupun kawasan.

Kenaikan ini tentu patut diapresiasi sebagai sinyal adanya perbaikan layanan dan kesadaran masyarakat. Namun di balik tren positif tersebut, tersimpan realitas yang jauh lebih kompleks.

Fakta bahwa 91,55 persen rumah tangga di Makassar belum memiliki akses sanitasi aman menunjukkan bahwa persoalan ini masih sangat krusial.

Jika dibandingkan dengan target nasional sebesar 30 persen dan target provinsi 15 persen pada tahun 2029, capaian saat ini masih berada cukup jauh dari harapan.

Rendahnya akses sanitasi aman tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor. Dari sisi masyarakat, keterbatasan ekonomi dan minimnya pengetahuan menjadi kendala utama.

Banyak rumah tangga belum mampu membangun infrastruktur sanitasi yang memenuhi standar, atau tidak melakukan penyedotan tangki septik secara berkala. Akibatnya, limbah domestik tidak dikelola secara optimal dan berpotensi mencemari lingkungan.

Di sisi lain, tantangan juga datang dari aspek infrastruktur dan kelembagaan. Dari total 161 unit IPAL komunal yang telah dibangun, hanya sekitar 68,3 persen yang berfungsi optimal. Ini menunjukkan adanya persoalan dalam pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas yang sudah tersedia.

Selain itu, kapasitas Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Nipa-Nipa juga masih terbatas. Dari kapasitas desain sebesar 100 meter kubik per hari, realisasi pengolahan pada tahun 2024 hanya mencapai sekitar 65 meter kubik per hari.

Harapan baru muncul dengan beroperasinya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Losari, yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengolahan limbah domestik secara signifikan.

Kehadiran fasilitas ini menjadi langkah strategis untuk memperluas cakupan layanan sanitasi aman sekaligus menjawab keterbatasan infrastruktur yang ada.

Pada akhirnya, sanitasi bukan sekadar isu teknis, melainkan fondasi bagi kesehatan, lingkungan, dan martabat manusia. Peningkatan akses sanitasi aman di Makassar memang menunjukkan arah yang benar, tetapi percepatan tetap menjadi kebutuhan mendesak.

Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk memastikan bahwa setiap rumah tangga memiliki akses terhadap sanitasi yang layak.

Sebab, di balik angka-angka statistik itu, terdapat kualitas hidup warga kota yang dipertaruhkan—serta masa depan lingkungan yang harus dijaga bersama.

Ilustrasi

Perbandingan