Prestasi mahasiswa adalah cermin dari kultur yang lebih dalam berupa sistem pembinaan yang matang, ekosistem kompetisi yang sehat, dan keberanian institusi menanamkan rasa unggul sebagai kebiasaan.
Oleh Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Baruga Andi Pangerang Pettarani siang itu bukan sekadar ruang wisuda. Ia menjelma panggung sejarah, tempat ribuan toga, haru orang tua, dan gema masa depan bertemu dalam satu tarikan napas.
Pada prosesi wisuda 1April periode April 2026, Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Jamaluddin Jompa berdiri di hadapan para wisudawan dengan satu pesan yang terasa sederhana namun mengguncang kesadaran: alumni harus bangga pada almamaternya.
Kalimat itu seolah menjadi jawaban atas satu ungkapan lama yang pernah akrab di telinga banyak orang : “Unhas ji kodong.” Sebuah frasa yang lahir dari zaman ketika nama besar kampus belum sepenuhnya dibaca melalui capaian. Ia pernah menjadi bahasa pasrah, bahasa nostalgia, bahkan bahasa setengah iba. Seolah Unhas hanya takdir geografis bagi anak-anak Timur Indonesia.
Tetapi sejarah akademik tak pernah diam.
Hari ini, kalimat itu telah kehilangan konteksnya. Sebab yang berdiri sekarang adalah Unhas dengan mentalitas baru. Kampus prestasi, kampus percaya diri, kampus berdaya saing global.
Lihat saja prestasi Unhas sepanjang 2025. Sebanyak 694 medali berhasil diraih dalam berbagai ajang, terdiri atas 274 juara pertama, 219 juara kedua, dan 201 juara ketiga. Prestasi itu tersebar dari tingkat wilayah, nasional, hingga internasional. Bahkan 418 capaian berada di level nasional dan 23 di level internasional.
Puncaknya, Unhas kembali menjadi juara umum PIMNAS dua tahun berturut-turut, termasuk sebagai tuan rumah dengan raihan 27 medali: 15 emas, 9 perak, dan 3 perunggu.
Di titik inilah kita memahami bahwa universitas tidak tumbuh hanya dari beton gedung, laboratorium, dan ranking dunia. Universitas besar tumbuh dari psikologi kemenangan.
Prestasi mahasiswa adalah cermin dari kultur yang lebih dalam berupa sistem pembinaan yang matang, ekosistem kompetisi yang sehat, dan keberanian institusi menanamkan rasa unggul sebagai kebiasaan.
Ketika Prof JJ menargetkan 750 medali, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar angka, melainkan imajinasi kolektif tentang keunggulan. Dan imajinasi itu kini telah menjalar ke tubuh alumni.
Dulu, mungkin ada yang menyebut nama kampus ini dengan nada bercanda: “Unhas-ji kodong.”
Kini nada itu berubah menjadi kebanggaan yang nyaris heroik.
Alumni tidak lagi merasa sedang membawa nama kampus lokal, tetapi membawa identitas dari universitas yang telah menembus Top 1000 dunia, memperkuat jejaring internasional, dan membuktikan bahwa Timur Indonesia bukan pinggiran pengetahuan, melainkan pusat lahirnya keunggulan baru.
Wisuda lalu menjadi lebih dari seremoni. Ia adalah ritus peradaban.
Di sanalah kampus menyerahkan bukan hanya ijazah, tetapi juga warisan moral bahwa ilmu harus melahirkan martabat, dan almamater harus menjadi sumber harga diri. Karena itu, ungkapan lama itu layak kita simpan sebagai arsip sejarah sosial, bukan lagi realitas.
Unhas ji kodong? Itu dulu.
Hari ini yang lebih tepat adalah: “Saya bangga, Saya Unhas” Dari Baruga itu, setiap lulusan pulang membawa satu kesadaran baru bahwa mereka bukan sekadar alumni sebuah universitas, tetapi bagian dari gelombang besar kebangkitan intelektual Indonesia Timur.
____
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”









