Prof Mahatma Lanuru Ungkap Kondisi Internal dan Ajak Alumni Kolaborasi FIKP Unhas

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

Banyak alumni kita yang sudah berada di posisi penting—kepala dinas, peneliti di kementerian, hingga di lembaga seperti BRIN. Ini adalah kekuatan besar yang harus kita konsolidasikan. Prof Mahatma Lanuru, Dekan FIKP Unhas

PELAKITA.ID – Suasana Halal Bihalal (HBH) alumni diwarnai refleksi mendalam ketika Prof. Mahatma Lanuru menyampaikan pandangannya tentang kondisi internal Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas).

Dalam forum yang hangat dan penuh keakraban itu yang dimoderator Founder Pelakita.ID, Kamaruddin Azis itu, ia tidak hanya bernostalgia, tetapi juga secara terbuka mengungkap tantangan nyata yang dihadapi kampus, sekaligus melempar ajakan serius kepada para alumni untuk berkolaborasi.

Menurutnya, kegiatan silaturahmi seperti ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum penting untuk memperkuat jejaring, rasa kebersamaan, dan solidaritas lintas generasi.

Ia mengapresiasi kehadiran para senior lintas angkatan—mulai dari angkatan 1988 hingga generasi setelahnya—yang sebagian besar kini telah menjadi akademisi, birokrat, hingga profesional di berbagai lembaga strategis.

“Alhamdulillah, banyak alumni kita yang sudah berada di posisi penting—kepala dinas, peneliti di kementerian, hingga di lembaga seperti BRIN. Ini adalah kekuatan besar yang harus kita konsolidasikan,” ungkap Doktor Oseanografi dari Bremen Jerman ini.

Namun di balik capaian tersebut, Prof. Mahatma tidak menutup mata terhadap perubahan besar yang sedang terjadi. Ia menjelaskan bahwa sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH), Unhas kini menghadapi tuntutan baru.

Tidak hanya menjalankan tridarma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian—tetapi juga dituntut mampu mandiri secara finansial.

Konsekuensinya, FIKP harus mulai bergerak ke arah hilirisasi, komersialisasi riset, serta membangun kerja sama yang kuat dengan industri, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat.

“Kita tidak bisa lagi hanya berhenti di riset. Harus ada output nyata, bahkan sampai pada level bisnis,” tegasnya.

Salah satu sorotan utama adalah belum optimalnya pemanfaatan fasilitas seperti tambak dan laboratorium lapangan. Padahal, di masa lalu, fasilitas tersebut pernah menjadi kebanggaan dengan capaian riset dan produksi yang signifikan.

Kini, menurutnya, perlu ada upaya serius untuk menghidupkan kembali potensi tersebut, tidak hanya sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga sebagai unit produktif yang menghasilkan.

Ia juga menyinggung peluang besar yang bisa diambil FIKP dalam mendukung program pemerintah, khususnya dalam penyediaan pangan bergizi berbasis hasil laut. Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan produk olahan ikan yang tidak hanya bernutrisi tinggi, tetapi juga praktis dan diterima masyarakat luas.

“Di sinilah peran teknologi. Bagaimana kita mengolah ikan menjadi produk siap konsumsi tanpa menghilangkan cita rasa, sekaligus aman dan efisien untuk produksi massal,” jelasnya.

Di sisi lain, Prof. Mahatma mengakui adanya tantangan dalam minat mahasiswa. Meski tidak sepenuhnya menurun, distribusi peminat kini semakin tersebar seiring bertambahnya kampus-kampus baru di daerah. Ia menekankan bahwa kualitas tetap menjadi kunci utama agar Unhas tetap menjadi pilihan pertama calon mahasiswa.

Kabar baiknya, tren terbaru menunjukkan peningkatan minat, bahkan banyak calon mahasiswa kini menjadikan program kelautan sebagai pilihan utama.

“Ini momentum yang harus kita jaga. Kalau kualitas lulusan kita kuat, maka efek berantainya akan besar,” katanya optimistis.

Isu lain yang menjadi perhatian adalah serapan kerja alumni. Ia menegaskan bahwa tingginya tingkat penyerapan kerja sangat memengaruhi minat calon mahasiswa.

Realitas di lapangan menunjukkan adanya tantangan, termasuk soal kesenjangan ekspektasi gaji, khususnya di sektor budidaya perikanan.

“Ada alumni yang enggan bekerja di tambak karena gajinya dianggap tidak sebanding dengan pendidikan yang ditempuh. Ini menjadi catatan penting bagi kita semua, termasuk alumni, untuk bersama-sama mencari solusi,” ujarnya.

Karena itu, ia secara khusus menantang para alumni yang tergabung dalam ISLA Unhas untuk lebih aktif berkontribusi—baik melalui jejaring kerja, peluang usaha, maupun masukan strategis bagi pengembangan kurikulum dan arah kebijakan fakultas.

“Kami di kampus butuh input dari alumni. Kami mencetak lulusan, tapi dunia kerja yang menilai. Jadi kolaborasi ini mutlak,” tegasnya.

Di akhir penyampaiannya, Prof. Mahatma kembali menegaskan bahwa masa depan FIKP Unhas sangat bergantung pada sinergi antara kampus dan alumni. HBH bukan hanya ajang temu kangen, tetapi ruang konsolidasi untuk menjawab tantangan zaman.

“Kalau kita bisa bergerak bersama, saya yakin FIKP Unhas tidak hanya bertahan, tetapi akan semakin kuat dan relevan,” pungkasnya.