Oleh: Kamaruddin Azis, Founder Pelakita.ID
- Dengan pendekatan kuantitatif yang sistematis, ia menjangkau 138 responden melalui random sampling, menelusuri perilaku konsumen di sejumlah supermarket seperti Mitra, Satusama, dan Transmart.
- Di balik angka-angka tersebut, tersimpan potret kehidupan urban—ibu rumah tangga, pekerja, hingga keluarga kota—yang diam-diam menimbang kualitas, harga, dan ketersediaan dalam setiap keputusan pembelian.
- Hasilnya menunjukkan bahwa membeli beras bukanlah tindakan spontan, melainkan proses bertahap yang melewati lima fase: dari pengenalan kebutuhan hingga evaluasi pasca pembelian.
PELAKITA.ID – Nabilah Mumtaz Amani menutup perjalanan akademiknya di Universitas Hasanuddin dengan capaian gemilang: gelar Magister Agribisnis, predikat cum laude, dan IPK 3,96.
Lebih dari sekadar angka, prestasi ini mencerminkan ketekunan dan kejernihan dalam membaca realitas pangan—sesuatu yang sering luput dari perhatian kita sehari-hari.
Di tengah terang lampu dan hiruk-pikuk rak supermarket modern di Makassar, beras tak lagi sekadar komoditas. Ia telah bertransformasi menjadi simbol pilihan, selera, bahkan identitas.
Di ruang inilah Nabilah memulai penelitiannya—mengurai sesuatu yang tampak sederhana, tetapi sarat makna: bagaimana manusia memilih beras yang akan mereka masak dan konsumsi setiap hari.
Penelitian ini berangkat dari satu kesadaran mendasar: beras adalah jantung ketahanan pangan. Namun, jantung itu tidak berdetak sendiri.
Ia dipengaruhi oleh preferensi, persepsi, pengalaman, dan kondisi sosial-ekonomi. Karena itu, Nabilah tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang dibeli,” melainkan menggali lebih dalam: mengapa memilih, bagaimana proses memilih, dan sejauh mana pilihan itu memberi kepuasan.
Dengan pendekatan kuantitatif yang sistematis, ia menjangkau 138 responden melalui random sampling, menelusuri perilaku konsumen di sejumlah supermarket seperti Mitra, Satusama, dan Transmart.
Di balik angka-angka tersebut, tersimpan potret kehidupan urban—ibu rumah tangga, pekerja, hingga keluarga kota—yang diam-diam menimbang kualitas, harga, dan ketersediaan dalam setiap keputusan pembelian.
Hasilnya menunjukkan bahwa membeli beras bukanlah tindakan spontan, melainkan proses bertahap yang melewati lima fase: dari pengenalan kebutuhan hingga evaluasi pasca pembelian.
Menariknya, perjalanan ini banyak bermuara pada pilihan terhadap beras lokal premium Agronusantara. Seolah, di tengah arus globalisasi pangan, ada kerinduan yang tak terucap untuk kembali pada produk lokal—pada tanah sendiri.
Realitas tidak selalu seindah romantisme lokalitas. Analisis regresi logistik biner mengungkap fakta yang jujur: usia dan harga berpengaruh negatif terhadap keputusan pembelian.
Semakin tinggi usia atau semakin mahal harga, kecenderungan membeli menurun. Sebaliknya, pendapatan, kualitas produk, dan ketersediaan justru memberi pengaruh positif.
Di sinilah terlihat bahwa idealisme harus bernegosiasi dengan daya beli, dan kualitas harus berjalan seiring dengan aksesibilitas.
Tingkat kepuasan konsumen yang diukur melalui indeks CSI mencapai 77,3 persen—kategori “puas”. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan posisi konsumen yang berada di antara rasa cukup dan harapan akan perbaikan.
Artinya, produk telah memenuhi ekspektasi, tetapi belum sepenuhnya melampauinya.

Lebih jauh, analisis Importance-Performance Analysis (IPA) menempatkan kualitas produk dan harga pada Kuadran I—wilayah prioritas utama.
Ini berarti kedua aspek tersebut sangat penting bagi konsumen, namun kinerjanya masih perlu ditingkatkan.
Di titik ini, penelitian Nabilah tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi menjelma menjadi seruan strategis: peningkatan kualitas dan penyesuaian harga bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Dari seluruh temuan, terbentang satu benang merah yang kuat: konsumen modern tidak sekadar membeli beras, mereka membeli nilai. Nilai itu hadir dalam kualitas yang dapat dipercaya, harga yang terjangkau, dan ketersediaan yang konsisten. Ketiganya menjadi fondasi daya saing beras lokal premium, terutama di tengah tekanan beras impor yang kerap tampil lebih menarik secara citra dan harga.
Lebih dari sekadar analisis pasar, penelitian ini sesungguhnya adalah refleksi tentang relasi manusia dengan pangan. Pilihan sederhana di rak supermarket ternyata terhubung dengan petani di sawah, dengan tanah yang ditanami, dan dengan masa depan kedaulatan pangan bangsa. Dalam setiap butir beras, tersimpan keputusan kecil yang berdampak besar.
Di tangan Nabilah, angka-angka menjelma menjadi narasi. Statistik berubah menjadi cerita. Dan beras—yang sering kita anggap biasa—kembali dimuliakan sebagai simpul yang mengikat ekonomi, budaya, dan keberlanjutan.
Ia diwisuda bersama 1.656 lulusan Universitas Hasanuddin pada periode April 2026, dalam prosesi yang berlangsung di Baruga Andi Pangerang Petta Rani. Sebuah penanda akhir studi, sekaligus awal dari kontribusi yang lebih luas bagi masa depan pangan Indonesia.









