ISLA Unhas Gelar HBH di Boska Coffee, Darwis Ismail Berbagi Tips Menguatkan Solidaritas Alumni

  • Whatsapp
Ketua ISLA Unhas H, Darwis Ismail, S.T, M.M.A saat menceritakan pengalaman sebagai alumni Kelautan Unhas (dok: Pelakita.ID)

Darwis Ismail kemukakan masa depan ISLA Unhas dan berharap ada sukses yang efektif untuk perjuangan kelautan di kancah nasional dan global.

PELAKITA.ID – Suasana hangat Halal Bihalal (HBH) Ikatan Sarjana Kelautan Alumni Universitas Hasanuddin (ISLA Unhas) di Boska Coffee Kawasan Tanjung Bunga Makassar, 31 Maret 2026.

Hujan deras sempat mengguyur kawasan timur kota Makassar tak menyurutkan puluhan alumni dan mahasiswa Ilmu Kelautan Unhas data memeriahkan Halal Bihalal yang difasilitasi oleh Ketua ISLA Unhas, Darwis Ismail, S.T, M.M.A.

Dipandu oleh Atjo Alamsyah (Kelautan Unhas 1997), forum ini tidak sekadar menjadi ajang temu kangen, tetapi juga ruang berbagi gagasan, pengalaman, dan inspirasi lintas generasi.

Dia menyampaikan terima kasih atas partisipasi sejumlah alumni, hal yang disebut Atjo sebagai representasi profesi dan afiliasi alumni Ilmu Kelautan di sejumlah bidang.

Hadir guru besar Ichtiologi FIKP, Prof Andi Muhammad Iqbal, S.T, M.Fish, juga pakar ekologi karang Dr Syafyudin Yusuf, pakar ekologi laut Dr Khairul Amril, pakar pariwisata bahari, Dr Ahmad Bahar. Tak hanya itu, hadir Hakim Perikanan Asriadi, S.Kel, M.Si, Dr Jusman, M.Si S.Kel, diver Akhmad Rhevaqi, Direktur Lemsa M. Rizkiy Latjindung dan sejumlah perwakilan angkatan.

Dalam suasana santai namun penuh makna, dialog mengalir dari isu sederhana hingga refleksi strategis.

“Salah satu topik yang mencuat adalah pentingnya memahami peran selat-selat strategis seperti Selat Makassar dan Selat Malaka, bahkan dikaitkan dengan dinamika global seperti yang terjadi di Selat Hormuz,” ucap Atjo saat memandu acara.

Suasana HBH ISLA Unhas di BOSKA Coffee (dok:Istimewa)

Cerita inspiratif Ketua ISLA Unhas

Darwis Ismail, Ketua ISLA Unhas yang juga CEO PT Teknocorp Jakarta serta pemilik Boska Coffee di Jakarta dan Makassar hadir membawa narasi yang menyentuh sekaligus membangkitkan semangat peserta HBH yang terdiri dari mahasiswa dan alumni.

Ia membuka dengan rasa syukur atas kesempatan berkumpul dalam suasana Idulfitri, sekaligus menyampaikan apresiasi kepada para senior yang telah lebih dulu berkontribusi di dunia akademik maupun profesional.

Baginya, silaturahmi seperti ini bukan sekadar tradisi, tetapi fondasi penting dalam menjaga ikatan emosional dan profesional antaralumni.

Ia mengenang masa-masa awal ketika jumlah alumni kelautan masih terbatas.

“Kala itu, hubungan antarangkatan begitu erat hingga hampir semua saling mengenal. Kini, jumlah alumni yang semakin besar menjadi tantangan tersendiri, namun juga peluang untuk memperluas jejaring dan pengaruh,” ungkapnya.

Darwis menekankan pentingnya saling menghormati antara senior dan junior, serta menjaga semangat saling membimbing dalam satu ikatan yang kuat. Lebih jauh, ia berbagi kisah perjuangan generasi awal dalam membangun eksistensi keilmuan kelautan.

“Salah satu tonggak penting adalah lahirnya Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO), yang menjadi wadah lebih luas bagi para profesional di bidang ini,” ucap Wakil Ketua Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia ini.

Ia juga menyinggung bagaimana jejaring alumni mampu menembus level nasional, regional bahkan global, termasuk ketika salah satu tokoh kelautan dipercaya menduduki posisi strategis di Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Bagi Darwis, kisah yang paling membekas adalah cerita perjuangan mahasiswa kelautan di era 1990-an. Saat itu, mereka tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga turun ke jalan memperjuangkan berdirinya institusi yang lebih kuat bagi sektor kelautan.

“Dengan segala keterbatasan, bahkan harus berangkat ke Jakarta menggunakan kapal laut dan bermalam di pelabuhan, semangat kami tak pernah surut. Dari aksi-aksi itulah, lahir kesadaran kolektif akan pentingnya Indonesia sebagai negara maritim yang berdaulat,” ucap pria yang belum lama ini telah mengoperasikan pabrik pakan di Takalar, Sulsel.

Menjelang akhir sambutannya, Darwis yang juga merupakan alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan angkatan 1993 ini menyampaikan harapan akan pentingnya regenerasi dalam organisasi.

Ia tidak ingin berlama-lama memegang estafet kepemimpinan, dan berharap akan lahir pemimpin baru yang mampu membawa ISLA Unhas ke arah yang lebih progresif.

Baginya, keberlanjutan organisasi terletak pada kesiapan generasi berikutnya untuk melanjutkan perjuangan.

Malam itu, HBH ISLA Unhas bukan hanya tentang saling bermaafan, tetapi juga tentang merawat ingatan, memperkuat jejaring, dan menyalakan kembali semangat maritim.

Dari Boska Coffee, cerita-cerita lama bertemu dengan harapan baru—menegaskan bahwa laut bukan sekadar ruang geografis, melainkan panggilan sejarah yang terus hidup dalam diri para alumni kelautan Unhas.

Saat berita ini ditulis, sedang berlangsung dialog antara perwakilan Dekanat FIKP Unhas dengan alumni dan mahasiswa perikanan.