HBH WAG Alumni Unhas nan Riang Gembira dan 9 Takeaways untuk Semua

  • Whatsapp
Peserta HBH WAG Alumni Unhas (dok: Istimewa)

Dari Red Corner, satu pesan menguat: masa depan kampus tidak hanya ditentukan oleh kebijakan institusi, tetapi oleh keberanian mahasiswa untuk bergerak dan kesadaran alumni untuk mengambil peran.

PELAKITA.ID – Suasana hangat, cair, dan penuh tawa mewarnai gelaran Halal Bihalal (HBH) WAG Alumni Universitas Hasanuddin yang berlangsung pada 30 Maret 2026 di Red Corner Cafe.

Di balik nuansa silaturahmi yang riang gembira, forum ini menjelma menjadi ruang dialektika yang hidup—bahkan sesekali menegang—membahas isu strategis kampus: urgensi pembentukan BEM Universitas dan arah masa depan Ikatan Alumni (IKA) Unhas.

Dipandu oleh Muhammad Arsan Fitri dan Kamaruddin Azis, serta diinisiasi oleh Muhammad Ramli Rahim bersama para admin WAG, pertemuan ini memperlihatkan satu hal penting: alumni lintas generasi tetap memiliki kepedulian yang sama terhadap masa depan kampus dan mahasiswa.

Diskusi berangkat dari kegelisahan mendasar—menyempitnya ruang mahasiswa untuk berorganisasi. Banyak peserta menilai mahasiswa hari ini lebih diarahkan untuk fokus menyelesaikan studi akademik, sementara ruang pembentukan kepemimpinan dan kesadaran sosial justru semakin terbatas.

Dalam konteks itu, absennya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di tingkat universitas dipandang sebagai kekosongan serius yang perlu segera diisi.

Perdebatan pun mengemuka. Sebagian mempertanyakan mengapa organisasi mahasiswa di tingkat fakultas tetap hidup, sementara di level universitas tidak hadir.

Sebagian lain mengingatkan agar pembentukan BEM tidak sekadar mengulang romantisme masa lalu. Mahasiswa hari ini harus menjadi penentu arah dan bentuk BEM yang mereka butuhkan.

Di sisi lain, forum juga menggarisbawahi bahwa BEM bukan identik dengan demonstrasi semata. BEM harus hadir sebagai mitra kritis kampus, pengawal kebijakan, sekaligus ruang produksi gagasan berbasis data. Ia harus menjadi jembatan antara dunia akademik dan realitas sosial.

Pembahasan kemudian meluas ke isu yang tak kalah penting: masa depan IKA Unhas. Para peserta sepakat bahwa alumni tidak boleh berhenti sebagai jejaring nostalgia. IKA harus bertransformasi menjadi kekuatan strategis—menghubungkan potensi, pengalaman, dan sumber daya alumni untuk memberi dampak nyata bagi kampus dan mahasiswa.

Refleksi atas WAG Alumni sendiri menguatkan hal tersebut. Sejak terbentuk pada 2015, forum ini tumbuh sebagai ruang komunikasi yang tertib namun dinamis. Aturan yang ketat justru melahirkan kualitas diskusi yang hidup dan produktif. Dari ruang inilah kesadaran kolektif alumni kembali terbangun.

Pada akhirnya, HBH ini tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga ruang konsolidasi gagasan. Dari pertemuan yang riang namun serius ini, lahirlah sejumlah poin penting yang layak menjadi perhatian bersama.

9 Takeaways dari HBH WAG Alumni Unhas

1. BEM Universitas adalah kebutuhan mendesak
Ketiadaannya bukan sekadar kekosongan organisasi, tetapi melemahkan posisi tawar mahasiswa dalam kebijakan kampus.

2. Mahasiswa butuh ruang berorganisasi yang nyata
Fokus akademik saja tidak cukup—kepemimpinan dan kesadaran sosial harus dibentuk melalui pengalaman organisasi.

3. BEM bukan romantisme masa lalu
Pembentukan BEM harus menjawab kebutuhan mahasiswa hari ini, bukan sekadar nostalgia gerakan sebelumnya.

4. BEM sebagai mitra kritis, bukan sekadar oposisi
Perannya adalah mengawal kebijakan kampus secara konstruktif, berbasis data, dan berorientasi solusi. Untuk itu perlu reorientasi, fasilitasi, dan perbaikan pendekatan epistemologi dan aksiologinya untuk penguatan citra kampus. 

5. BEM harus menjadi pusat gerakan intelektual
Diskusi, kajian, riset, dan produksi gagasan harus menjadi inti, bukan hanya kegiatan seremonial.

6. BEM sebagai jembatan kampus dan masyarakat
Program pengabdian seperti desa binaan dan pemberdayaan sosial menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa.

7. IKA Unhas perlu bertransformasi strategis
Bukan hanya wadah silaturahmi, tetapi platform kolaborasi yang berdampak bagi kampus dan mahasiswa.

8. WAG Alumni yang beranggotakan kuantitas warga sekecamatan, mencapai seribuan orang itu terbukti efektif sebagai ruang konsolidasi. Disiplin dan etika komunikasi justru melahirkan diskusi yang sehat, hidup, dan produktif.

9. Kolaborasi mahasiswa dan alumni adalah kunci masa depan kampus
Mahasiswa membutuhkan ruang gerak, sementara alumni memiliki kapasitas untuk memperkuat dan mengarahkan.

Dari Red Corner, satu pesan menguat: masa depan kampus tidak hanya ditentukan oleh kebijakan institusi, tetapi oleh keberanian mahasiswa untuk bergerak dan kesadaran alumni untuk mengambil peran.

Ucapan terima kasih

Ucapan terima kasih disampaikan perwakilan admin WAG yang juga ketua panitia Mubes IKA Unhas yang akan digelar 2 dan 3 Mei 2026, Muhammad Ramli Rahim untuk tidak kurang 70 alumni yang hadir di HBH ini.

Juga kepada tim kreatif pelaksanaan HBH yang terdiri dari Yasidin Puang Alitta, Rusmin Cumming dan Ode Tamarunang.  Juga kepada dua fasilitator dialog Muhammad Arsan Fitri dari Berita Kota Makassar dan founder Pelakita.ID dan maritimeposts.com, Kamaruddin Azis.

Ucapan terima kasih spesial untuk sejumlah senior alumni dan ‘moral keeper’ WAG seperti Bachrianto Bachtiar, Mohammad Hasymi Ibrahim, Salahuddin Alam Dettiro, Kahar Gani, Maqbul Halim, Ammang Suharman, Asdar Tukan Bang Chik, Syawaluddin Arif, Nawa Cassanova, Almukarram Ziulhaq Nawawi, Poppy Rusdi, Rusdi Mardan, Iqbal Samad, Nani Harlinda, Nasrun Hamzah, Hatta Tajang, Dedi, Yuyu Jafar, Arniaty Amin, Rohandy FKM, Rustan Rewa perwakilan IKA Unhas Tolitoli Sulteng yang merupakan pejabat Asisten Ekonomi Pembangunan Tolitoli, perwakilan IKA Poso, ketua IKA Unhas Samarinda, Mappabali, Muhammad ‘Didot’ Ridha dan Muhammad Hasby (IKA Unhas Soppeng).

Pokoknya iyakbus yang belum sempat disebut namanya satu-satu. Eh juga Mus Camidu, Ammang Abdurrahman, dan sejumlah peserta di area panggung.

___
Redaksi