Alumni Kelautan Unhas Irma Sabriany, dari Marine Station Barrang Lompo ke Ladang Energi di Teluk Bintuni

  • Whatsapp
Irma Sabriany, ketiga dari kirim pada HBH ISLA Unhas di BOSKA Coffee (dok: M. Rizky Latjindung)

PELAKITA.ID – Momen Halalbihalal yang digelar Ikatan Sarjana Kelautan ISLA Unhas di Boska Coffee menjadi ajang mengulik pengalaman dan sepakterjang alumni Ilmu Kelautan Unhas yang eksis di sejumlah teluk pengembaraan ilmu.

Di balik hiruk-pikuk industri migas yang sarat teknologi dan kepentingan ekonomi, ada sosok-sosok yang bekerja dalam senyap menjaga keseimbangan alam. Salah satunya adalah seorang Irma Sabriany.

“Saya Irma, alumni Ilmu Kelautan Unhas angkatan 2004—meski teman-teman lebih sering memanggil saya “Cendol”,” ucapnya.

“Saat ini saya bekerja di sektor oil and gas, tepatnya di industri LNG di Papua. Perjalanan saya hingga bisa berada di titik ini tentu tidak instan. Karier saya dimulai dari proyek konstruksi tambang di Antam, kemudian berlanjut ke dunia konstruksi yang lebih luas. Di tengah perjalanan itu, saya memutuskan untuk melanjutkan studi S2 di bidang lingkungan di ITB, yang semakin memperkuat minat dan kompetensi saya di isu-isu lingkungan,” jelasnya.

Irma sempat bekerja di LSM selama kurang lebih dua tahun, sekitar 2015–2017, sebelum kemudian kembali ke dunia industri.

“Saya pernah terlibat dalam proyek di Halmahera, lalu bergabung dengan WIKA. Di sana, awalnya saya diminta untuk menangani aspek safety,” ujarnya.

“Dari situlah saya terus mengembangkan diri, mengikuti berbagai pelatihan hingga memperoleh sertifikasi di bidang keselamatan dan lingkungan pertambangan,” tambahnya.

Dia menyebut merasa tidak pernah jauh dari isu sampah dan lingkungan.

“Saya sempat terlibat dalam pengelolaan di kawasan Bantargebang, yang memberi pengalaman berharga dalam memahami kompleksitas limbah perkotaan. Dari sana, saya kemudian beralih ke sektor LNG, dan kini fokus sebagai spesialis yang menangani aspek lingkungan, khususnya pengelolaan limbah,” ungkapnya.

Tentang kompetensi dan kealumnian

Kalau ditanya apakah ada keterkaitan antara ilmu yang dipelajari di kampus dengan pekerjaan saat ini, jawabannya tentu ada, meskipun tidak selalu langsung. Lebih banyak dalam bentuk diskusi dan pendekatan.

“Misalnya, saat S2 saya meneliti tentang sanitasi di wilayah pesisir. Pengetahuan itu sering saya gunakan saat berdiskusi tentang pengelolaan limbah di area pesisir tempat saya bekerja sekarang,” ucapnya.

“Bekerja di proyek besar seperti ini tentu juga berarti harus bersaing dengan lulusan dari berbagai kampus ternama lainnya. Rasa minder itu pasti ada, apalagi di awal. Tapi seiring waktu, saya belajar bahwa selama kita punya kompetensi dan kemauan untuk terus belajar, kita tetap bisa bersaing,” katanya lagi

“Apalagi kondisi kerja di lapangan seperti ini cukup menantang. Lokasinya remote area, dengan sistem kerja roster—sekitar sembilan minggu kerja, lalu tiga minggu off. Ini bukan hanya soal kemampuan teknis, tapi juga soal ketahanan mental dan adaptasi,” sebutnya.

Menurut Irma, perjalanannya ini adalah bukti bahwa alumni kelautan bisa berkiprah di berbagai sektor, termasuk industri energi. Yang penting adalah terus belajar, beradaptasi, dan berani mengambil peluang.

Alumni Kelautan Unhas tidak afdol rasanya jika tak mengenal atau pernah mencicipi asin laut Barrang Lompo atau meriset di Marine Station milik Unhas di pulau milik Kota Makassar.

Perjalanan karier Irma bukan hanya tentang profesi, tetapi juga tentang konsistensi menjaga nilai: bahwa eksploitasi sumber daya harus selalu sejalan dengan tanggung jawab ekologis.

Latar belakangnya sebagai sarjana kelautan membentuk fondasi kuat dalam memahami dinamika ekosistem pesisir dan laut. Namun, ia tidak berhenti di situ.

“Saya melanjutkan studi magister di Institut Teknologi Bandung pada bidang ilmu lingkungan—sebuah langkah yang memperluas perspektifnya dari sekadar memahami laut, menjadi melihat lingkungan sebagai satu sistem yang utuh dan saling terhubung,” ucapnya saat ditanya penulis di Boska Coffee, Senin, 31 Maret 2026.

Kini, dalam perannya di perusahaan seperti LNG Tangguh – Bintuni Papua, perempuan yang telah mengunjungi hampir seluruh provinsi di Indonesia ini berdiri di garis depan sebagai penjaga kualitas lingkungan.

Tugasnya tidak sederhana. Setiap hari, ia memastikan bahwa aktivitas operasi—mulai dari produksi hingga pengolahan limbah—tidak melampaui batas baku mutu lingkungan.

Ia terlibat dalam pemantauan kualitas air laut, udara, hingga tanah, serta memastikan bahwa limbah berbahaya dikelola sesuai standar ketat.Namun lebih dari sekadar teknis, pekerjaannya juga menuntut kepekaan sosial. Ia harus mampu menjembatani kepentingan perusahaan dengan kekhawatiran masyarakat sekitar.

Dalam konteks ini, ia sering mengingat sosok Irma Sabriany—yang dikenal sebagai figur perempuan inspiratif di bidang lingkungan.

Irma bukan hanya simbol kepedulian ekologis, tetapi juga contoh bagaimana ilmu pengetahuan harus hadir dengan empati dan keberpihakan pada masyarakat.

“Lingkungan itu bukan hanya soal data dan angka. Tapi juga soal manusia yang hidup di dalamnya,” kira-kira prinsip yang ia pegang, sejalan dengan nilai-nilai yang sering disuarakan Irma Sabriany.

Dalam situasi darurat seperti potensi tumpahan minyak, perempuan yang juga pernah menjadi fasilitator Destructive Fishing Watch Indonesia ini menjadi bagian dari tim yang bergerak cepat.

Menyusun rencana tanggap darurat, melakukan simulasi, hingga turun langsung saat insiden terjadi adalah bagian dari tanggung jawabnya. Ketelitian dan kecepatan menjadi kunci, karena setiap keterlambatan bisa berarti kerusakan ekosistem yang lebih luas.

Menariknya, pengalaman di Bantargebang memberinya perspektif unik. Ia melihat bahwa persoalan lingkungan, baik di kota maupun di industri energi, memiliki benang merah yang sama: bagaimana manusia mengelola residu dari aktivitasnya. Baik itu sampah domestik maupun limbah industri, semuanya membutuhkan pendekatan sistematis, teknologi tepat guna, dan komitmen jangka panjang.

Dari ruang kelas di Tamalanrea Unhas, dilengkapi pengalaman kerja laboratorium di Bandung, hingga lapangan operasi industri migas, ia membuktikan satu hal: ilmu kelautan bukan hanya tentang laut, tetapi tentang cara memahami dan merawat bumi secara utuh.

Dekan FIKP Unhas, Prof Mahatma Lanuru yang hadir dalam HBH itu memberi pujian untuk alumni Kelautan seperti Irma. Hal yang disebutnya sebuah pembuktian bahwa alumni FIKP Unhas tangguh, kuat dan bisa bersaing dengan lulusan dari kampus manapun di Indonesia.

Penulis Denun