Wahyuddin Yunus | Mengapa Buku Ini Ditulis (Kembali)? Sebuah Catatan Pengantar

  • Whatsapp
Dari buku klasik ini menjadi sumber rujukan utama dan diracik kembali kepada pembaca dengan pendekatan kontekstual. Meski isi buku ditulis dalam penggunaan ejaan lama, sebagai buku klasik tetap menemukan relevansinya di masa kini dan masa akan datang. Dominasi catatan buku ini termanifestasi dalam bagian ketiga hingga bagian kedelapan isi buku.

PELAKITA.ID – Sudah lebih sebelas dekade perjalanan PSM menapaki waktu sejak berdiri 1915. Kini ikatan emosional dan fanatisme dukungan boleh disebut sebagai perpanjangan apa yang di masa lalu telah diukir oleh PSM.

Sejak masa embrio, periode awal keemasan tahun 50-an, dan era kemunculan Ramang cs, turut menjadi tonggak sejarah perjalanan PSM hingga saat ini.

Jejak keberadaan PSM sejak kelahirannya menjadi kisah yang patut dimunculkan kembali sebagai monumen memori dan ikatan kolektif.

Bagaimana kelahiran, masa-masa perjuangan, hingga tekanan atmosfer dalam setiap pertandingan. Manisnya kemenangan dan pahitnya kekalahan menjadi drama yang tidak hanya terjadi dilapangan, namun memberi efek emosional sesudah pertandingan.

Catatan buku ini adalah upaya sederhana dalam mengungkap kembali manuskrip perjalanan PSM Makassar sejak masa embrio hingga tahun 1961 yang dipenuhi kisah yang sarat makna.

Harapan buku ini tak sekadar ingin menonjolkan sisi gemerlap kemenangan, tapi juga tak ingin melewatkan masa-masa kekalahan lewat suara kesenyapan dalam endapan frase ‘kopi pahit’.

Belum lagi elemen khas warna merah dalam kostum PSM memberi spirit tersendiri. Penanda warna yang memunculkan asosiasi ganda: gairah dan getir.

Keduanya hadir secara simultan mengada dan tercipta di lapangan hijau. Jersey merah turut memberi pesan emosional yang menumbuhkan adrenalin saat PSM melakoni pertandingan kandang.

Cikal bakal penggunaan kostum merah memiliki jejak panjang sehingga tim PSM dijuluki “juku eja” ikut membawa lini masa perjuangan dan fanatisme dukungan.

Stigma merah turut mewarnai sejarah dan menisbahkan citra PSM. Meski disadari warna itu kini tak lagi membara namun tetap membekas.

Sejarah PSM penuh dinamika dan bukanlah kisah yang selalu mulus. Di sana ada kisah semburat lumpur, peluh keringat, dan amarah membuncah. Dari sanalah gelora pemain, suara pendukung fanatik, dan detak jantung penonton menampung identitas kolektif bernama PSM Makassar.

Buku ini hendak menghadirkan keseimbangan antara emosi dan sejarah. la tidak jatuh dalam glorifikasi dan tidak juga terjebak dalam romantisme yang dangkal. Bahwa sejarah PSM bukan sekadar soal kemenangan, tetapi juga tentang kegetiran, keteguhan dan identitas kolektif masyarakat Makassar yang keras namun hangat.

Jejak penanda manuskrip Ramang, talenta pemain yang dimiliki PSM ikut mewarnai isi buku ini.

Dengan kepopuleran dan berbagai julukan, bukanlah satu-satunya pemain PSM yang menonjol. Sajian profil dan nama-nama pemain PSM lainnya dihadirkan untuk menjadi jembatan emosional atas berbagai sosok dalam klub yang cukup disegani di Indonesia bahkan dunia.

Kiprah setiap pemain menjadi elemen kekuatan dalam tradisi sepakbola di Makassar yang telah lama terbentuk dalam pembinaan dan gemblengan.

Meski disadari sejak awal PSM lahir dari masa-masa sulit, ketidakstabilan politik, baik sebelum hingga fase awal kemerdekaan. Periode ini tidak hanya memberi rangkaian kejadian peristiwa, namun memiliki dampak dan bermakna dalam konteks historis dimasa mendatang.

Potret masa lalu saat Belanda angkat kaki dari Bumi Pertiwi dan setelah masuknya Jepang, maka tak ada yang tersisa. Bahkan, sangat sulit menemukan catatan asli atas kiprah sepakbola Sulsel, terutama PSM di era sebelum kemerdekaan.

Atas beberapa alasan di atas dan penting untuk kembali menghadirkan kepada pembaca kisah-kisah klasik atas klub kebanggaan Sulsel.

PSM dalam Masa Embrio, Riwayat Kopi Pahit, dan Kisah Bunga Manusia, hadir sebagai catatan peristiwa sejarah untuk generasi akan datang. Buku ini adalah manifestasi atas penemuan buku klasik karya sederhana A. Baso Amier, “PSM, Bintang Lapang Hidjau”.

Kisah PSM dimasa lalu menjadi manuskrip sejarah PSM yang tersisa dari endapan koleksi buku-buku tua yang tersisa dari buah koleksi peninggalan di rumah.

Secara fisik buku tersebut telah menjalani waktu yang panjang sejak terbitnya tahun 1961. Serpihan kertas tampak mulai usang dan lembaran halaman mulai lepas satu satu persatu.

Dari buku klasik ini menjadi sumber rujukan utama dan diracik kembali kepada pembaca dengan pendekatan kontekstual.

Meski isi buku ditulis dalam penggunaan ejaan lama, sebagai buku klasik tetap menemukan relevansinya di masa kini dan masa akan datang. Dominasi catatan buku ini termanifestasi dalam bagian ketiga hingga bagian kedelapan isi buku.

Dokumen sejarah PSM dari buku tersebut mengindikasikan bukan hanya bercerita tentang klub sepakbola, tetapi juga tentang cara sebuah kota menatap dirinya sendiri lewat warna merah, secangkir kopi pahit. dan euforia pendukung PSM yang terus bergerak meski masa lalu menahannya.

Karena itu bicara tentang sejarah PSM bukan sebagai beban, tapi sebagai energi laten.

Salam,
Wahyuddin Yunus