Rustan Rewa dan Ajakan Menumbuhkembangkan UMKM di Sulawesi Tengah

  • Whatsapp
Rustan Rewa di Toko Tenun Al Hikmah Palu (dok: Istimewa)

UMKM seperti ini perlu terus kita dorong, karena mereka bukan hanya menciptakan lapangan kerja bagi 20-an warga, tetapi juga menjaga identitas daerah.

PELAKITA.ID – Di tengah geliat pembangunan daerah dan tantangan ekonomi yang terus berubah, peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi lokal.

Hal itulah yang mendorong Rustan Rewa, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Tolitoli, untuk terus mengajak berbagai pihak memberi perhatian lebih pada pengembangan UMKM, khususnya yang berbasis kearifan lokal di Sulawesi Tengah.

Salah satu contoh nyata yang ia soroti adalah keberadaan Toko Pengrajin Sarung Donggala “Al Hikmah” di Kota Palu.

“Usaha ini bukan sekadar tempat produksi dan penjualan kain tenun, tetapi juga menjadi simbol ketekunan, warisan budaya, dan daya tahan ekonomi masyarakat,” ujar Rustan saat ditemui di Toko Al Hikmah.

Dikatakan, usaha ini didirikan pada tahun 2015, Al Hikmah beralamat di Jalan Basuki Rahmat No. 190, Palu. Sementara itu, aktivitas produksinya berlangsung di Jalan Angkasa No. 27, Kelurahan Birobuli Utara—sebuah kawasan yang menjadi denyut nadi industri rumahan (home industry) tenun asli Donggala.

“Di tempat inilah, nilai tradisi dan ekonomi berpadu dalam setiap helai kain yang dihasilkan,” puji Rustan.

Pemilik usaha, Ibu Wiwi Hasan, mengelola sekitar 20 orang karyawan yang terlibat langsung dalam proses produksi.

“Mereka bukan sekadar pekerja, tetapi juga penjaga tradisi. Setiap hari, tangan-tangan terampil ini menggerakkan alat tenun dengan ketelatenan tinggi, menjaga kualitas dan keaslian produk yang telah dikenal luas,” sebut Rustan.

Proses produksi di Al Hikmah masih mempertahankan metode tradisional yang menjadi ciri khas tenun Donggala. Terdapat dua jenis alat tenun yang digunakan. Pertama, Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), yang memungkinkan produksi dengan kualitas tinggi melalui proses manual. Kedua, teknik tenun gerakan atau yang dikenal sebagai “subi”, yang menuntut keterampilan khusus dan pengalaman panjang dari para penenun.

Warna lembut menggugah minat (dok: Rustan Rewa)

Bagi Rustan Rewa, keberadaan usaha seperti Al Hikmah bukan hanya penting dari sisi ekonomi, tetapi juga sebagai benteng budaya.

Ia melihat bahwa tenun Donggala memiliki potensi besar untuk berkembang, tidak hanya di pasar lokal tetapi juga nasional bahkan internasional. Kualitas produk yang dihasilkan pun telah mendapat pengakuan dari para pembeli, yang memberikan kesan sangat memuaskan terhadap hasil tenunan tersebut.

“UMKM seperti ini perlu terus kita dorong, karena mereka bukan hanya menciptakan lapangan kerja bagi 20-an warga, tetapi juga menjaga identitas daerah,” kira-kira demikian semangat yang ingin disampaikan Rustan dalam berbagai kesempatan.

Perhatian Rustan terhadap UMKM tidak berhenti pada pengakuan semata. Ia aktif mempromosikan produk-produk lokal dalam berbagai forum, baik formal maupun informal.

Baginya, promosi adalah langkah penting untuk membuka akses pasar yang lebih luas, sekaligus memperkuat posisi tawar pelaku usaha kecil di tengah persaingan yang semakin ketat.

Lebih jauh, ia juga mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun ekosistem UMKM yang sehat.

“Sebagai Asisten Ekbang di Tolitoli, kami berpandangan pengembangan UMKM tidak bisa berjalan sendiri—dibutuhkan dukungan kebijakan, akses pembiayaan, pelatihan, serta pemasaran yang berkelanjutan, termasuk perluasan jejaring ke daerah seperti Tolitoli, dan wilayah lain di Sulteng,” ucapnya.

Kisah Al Hikmah menjadi contoh konkret bagaimana sebuah usaha lokal dapat tumbuh dan bertahan dengan mengandalkan kualitas, ketekunan, dan akar budaya yang kuat.

Di balik setiap sarung yang dihasilkan, tersimpan cerita tentang kerja keras, ketahanan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Rustan Rewa melihat bahwa potensi seperti ini masih banyak tersebar di berbagai wilayah Sulawesi Tengah. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak—mulai dari pemerintah, swasta, hingga masyarakat luas—untuk lebih peduli dan terlibat dalam pengembangan UMKM.

Ajakan ini bukan tanpa alasan. Dalam konteks ekonomi global yang penuh ketidakpastian, UMKM terbukti menjadi sektor yang paling adaptif dan mampu bertahan.

“Dengan dukungan yang tepat, UMKM tidak hanya menjadi penopang ekonomi lokal, tetapi juga dapat menjadi motor pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” sebutnya.

Di tengah arus modernisasi, menjaga dan mengembangkan usaha berbasis tradisi seperti tenun Donggala adalah langkah strategis. Ia tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Pada akhirnya, upaya yang dilakukan Rustan Rewa adalah bagian dari gerakan yang lebih besar—mengembalikan kepercayaan pada kekuatan lokal.

Bahwa dari tangan-tangan sederhana di rumah-rumah produksi, lahir karya-karya yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga bermakna bagi identitas dan masa depan daerah.

Dan dari Al Hikmah di sudut Kota Palu, pesan itu menjadi nyata: bahwa UMKM, jika dirawat dan didukung, mampu menenun harapan menjadi kenyataan.