Opini | Selat Hormuz dan Takdir Posisi: Pelajaran Geopolitik untuk Indonesia

  • Whatsapp
Ilustrasi Selat Hormuz oleh AI

Muliadi Saleh – Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

PELAKITA.ID – Nama Selat Hormuz menjadi global bukan karena luasnya, melainkan karena dunia menggantungkan nasib pada sebuah celah sempit.

Sejak eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, Hormuz tak lagi sekadar entitas geografis—ia telah menjelma menjadi metafora rapuhnya peradaban modern. Di sanalah dunia menambatkan denyut energinya.

Sekitar 20 juta barel minyak per hari—hampir seperlima konsumsi global—melintas di jalur ini. Ditambah sekitar 20% perdagangan LNG dunia, dengan mayoritas mengalir ke Asia seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan. Namun, angka-angka itu hanyalah permukaan. Di baliknya, Hormuz adalah simpul tempat ekonomi global bertemu dengan konflik geopolitik.

Perang telah mengubahnya dari jalur dagang menjadi arena tekanan strategis. Ancaman penutupan selat mampu mengguncang pasar global, bahkan berpotensi menghilangkan 13–14 juta barel pasokan per hari.

Harga melonjak, inflasi meningkat, jalur dagang terganggu—globalisasi menampakkan wajah aslinya: saling terhubung, sekaligus saling rentan.

Hormuz adalah chokepoint—titik sempit yang menentukan nasib yang luas. Siapa menguasainya, menguasai arus. Karena itu, konflik di sekitarnya bukan sekadar perang militer, melainkan perang kendali: atas energi, harga, dan stabilitas dunia. Bahkan sekadar rumor penutupan mampu memicu kepanikan global.

Ironisnya, dunia modern yang membanggakan kemajuan teknologi tetap bergantung pada lorong rapuh ini. Alternatif memang tersedia, tetapi terbatas. Artinya, masa depan ekonomi global masih bertumpu pada stabilitas sebuah ruang sempit bernama Hormuz.

Dari sini, pelajaran mendasar menjadi jelas: kekuatan tidak selalu lahir dari luas wilayah, melainkan dari posisi.

Dan di garis khatulistiwa, Indonesia sesungguhnya memegang takdir yang serupa. Terletak di antara Asia dan Australia, serta diapit Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, Indonesia adalah simpul dunia. Jalur-jalur seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok menyimpan potensi strategis yang tak kalah besar.

Jika Selat Hormuz menjadikan kawasan Teluk sebagai pusat perhatian dunia, Indonesia pun memiliki posisi yang sama pentingnya. Selat Malaka, misalnya, dilalui lebih dari seperempat perdagangan dunia. Itu bukan sekadar angka—melainkan potensi peradaban.

Data menunjukkan bahwa Selat Malaka merupakan koridor utama pengiriman minyak dari Timur Tengah menuju negara-negara Asia seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.

Pada paruh pertama 2025, sekitar 23,2 juta barel minyak per hari melintasi selat ini—setara dengan sekitar 29,1% perdagangan minyak dunia melalui jalur laut, menjadikannya salah satu chokepoint tersibuk di dunia.

Selat Malaka menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, menjadikannya urat nadi perdagangan global, terutama bagi kawasan Asia. Sekitar 80.000–90.000 kapal melintas setiap tahun, menempatkannya sebagai salah satu jalur laut terpadat di dunia. Lebarnya yang sempit—sekitar 2,7 km di titik tersempit—membuatnya sangat sensitif terhadap gangguan.

Lebih dari sekadar jalur energi, Selat Malaka juga menjadi jalur vital distribusi barang manufaktur, pangan, dan logistik global. Setiap gangguan di jalur ini berpotensi mengganggu rantai pasok dunia dan meningkatkan biaya ekonomi internasional.

Singkatnya, Selat Malaka bukan sekadar jalur laut—ia adalah simpul peradaban modern, tempat posisi geografis menjelma menjadi kekuatan geopolitik dan ekonomi.

Dalam lanskap global yang semakin kompetitif, posisi bukan lagi sekadar anugerah, melainkan amanah.

Ia menuntut visi, keberanian, dan kesadaran geopolitik. Indonesia dapat menjadi poros maritim dunia—bukan sebagai slogan, tetapi sebagai kenyataan—jika mampu mengelola jalur-jalurnya, memperkuat keamanan laut, dan menjadikan laut sebagai halaman depan peradaban.

Dari Hormuz, kita belajar tentang kekuatan sebuah titik. Dari Indonesia, kita diuji: mampukah kita mengubah titik itu menjadi daya?

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak berpihak pada yang terbesar, melainkan pada mereka yang paling mampu membaca posisinya. Dan Indonesia—jika belajar dari Hormuz—tidak hanya akan mengikuti arus dunia, tetapi berpeluang menentukan arahnya.


Muliadi Saleh
“Menulis Makna, Membangun Peradaban”