Oleh: Rusdin Tompo (Penggiat Sekolah Ramah Anak, dan Koordinator Satupena Sulawesi Selatan)
PELAKITA.ID – Fenomena anak-anak yang ke sekolah membawa mini fan, kelas yang menggunakan kipas angin atau air conditioner (AC), sekolah yang diliburkan akibat kebanjiran dan cuaca ekstrem, sesungguhnya bisa menjadi pintu masuk bagi pembelajaran terkait perubahan iklim.
Sebab, fenomena alam yang telah menjadi isu dan agenda global tersebut sudah dirasakan dampaknya dalam keseharian anak-anak. Sehingga kesadaran kritis mereka perlu ditumbuhkan supaya terbentuk perilaku ramah lingkungan sejak dini dan berkelanjutan.
Dalam kaitan ini, sekolah memainkan peran penting bagi terbentuknya karakter anak-anak yang bertanggung jawab bagi lingkungan sekitarnya.

Anak-anak bisa belajar ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, mengembangkan bakat dan kreativitasnya, tetapi sekaligus berpartisipasi sesuai usia dan kematangannya bagi alam semesta.
Itulah yang sedikit sempat saya kemukakan dalam kegiatan All Climate Change Reporting Project – Workshops and Field Visit, Supporting Climate Reporting in Indonesia Newsrooms, Selasa, 10 Maret 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Australia-Indonesia Center Lab UNHAS.
Tulisan ini merespons sambutan Rektor UNHAS, Prof Jamaluddin Jompa, via zoom meeting, kala itu, yang mendorong agar media terus menyuarakan isu perubahan iklim secara konsisten.
Pengembangan Program Inovasi
Pendidikan soal perubahan iklim, sejatinya telah terintegrasi dalam Kurikulum Merdeka.
Pembelajarannya dapat diintegrasikan melalui intrakurikuler dalam berbagai mata pelajaran. Misalnya, dalam mata pelajaran IPA/Sain, anak-anak mempelajari konsep klimatologi, pemanasan global, efek rumah kaca, siklus karbon, dan keanekaragaman hayati.
Pada mata pelajaran IPS/Geografi, anak-anak belajar tentang dampak fisik atmosfer, perubahan pola cuaca, serta akibat sosial ekonomi yang timbul dari adanya perubahan iklim.
Selain itu, pembelajaran dapat pula melalui kegiatan kokurikuler pada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), tema gaya hidup berkelanjutan, serta melalui ekstrakurikuler, dalam hal ini Pramuka, klub pecinta alam, atau kegiatan seni budaya.
Tujuannya jelas, yakni membangun climate literacy (literasi iklim), kesadaran kritis, serta kapasitas adaptasi dan mitigasi krisis iklim sejak dini.

Ruang eksplorasi dan kreativitas sudah diberikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk sekolah dengan membuat panduan bagi pendidik guna menerapkan pendidikan iklim yang relevan dan kontekstual di sekolah.
Sekolah dapat pula mengembangkan program-program inovasi berkaitan dengan Sekolah Adiwiyata, Sekolah Sehat, Gerakan Literasi Sekolah, dan lain sebagainya, yang kesemuanya dalam kerangka Sekolah Ramah Anak (SRA) sesuai prinsip the best interest of the child.
Keberhasilan sekolah dalam pembelajaran dan pengembangan program inovasi akan menjadi success story yang penting dibagikan untuk penguatan citra sekolah, sekaligus dapat menjadi inspirasi dan direplikasi di sekolah-sekolah lainnya.
Sungguh suatu catatan prestasi yang membanggakan, sekaligus berdampak pada anak-anak itu sendiri maupun lingkungan sosial dan alam raya.
Publikasi Lewat Positive Journalism
Praktik baik (best practice) yang dilakukan dengan pendekatan pengembangan program inovasi sebagai cara memecahkan masalah, tentu saja memiliki news value dan newsworthy.
Pada tahap ini, sekolah mesti didorong untuk proaktif memproduksi informasi yang edukatif sesuai apa yang telah dipraktikkan.
Publikasi yang dilakukan, dapat melalui platform media sosial dan website sekolah, atau melalui situs-situs berita yang dikelola secara profesional oleh kalangan jurnalis.
Media massa dan teman-teman jurnalis, sebagai jejaring sekolah, dapat menggunakan Positive Journalism (Jurnalisme Positif) dalam pemberitaan mereka menyangkut praktik baik pembelajaran dan program inovasi yang bertalian dengan krisis iklim di sekolah bersangkutan.
Positive Journalism adalah pendekatan berita yang berfokus pada solusi, kemajuan, dan kisah inspiratif.
Pendekatan jurnalisme ini bukan saja informatif, tetapi juga memberi edukasi, inspirasi, dan membangun optimisme melalui pelaporan yang berwawasan ke depan, konstruktif, dan berbasis bukti.
Positive Journalism, yang disebut pula dengan istilah Constructive Journalism, Solutions Journalism, atau Good News Reporting, dilihat sebagai paradigma baru yang berfokus pada pelaporan berita yang berimbang, tidak hanya mengedepankan konflik, tetapi juga mengangkat solusi dan sisi baik dari suatu peristiwa.

Ada optimisme dan kepercayaan yang meningkat, bukan hanya bagi sekolah, tetapi juga terhadap kerja-kerja jurnalisme.
Dalam banyak kasus, model pendekatan Positive Journalism memberi manfaat karena fokus pada respons terhadap masalah (solution oriented), serta meningkatkan keterlibatan (engagement).
Berita-berita positif dan konstruktif akan menarik minat untuk dibaca, apalagi di era media sosial.
Mengapa bisa? Karena sekolah dan mereka yang diberitakan akan dengan senang hati membagikan praktik baik tentang pembelajaran dan program inovasi yang dilakukan melalui akun-akun medsosnya (Facebook, TikTok, Instagram, X) serta grup-grup WhatsApp sekolah, orangtua, keluarga, alumni, komunitas dan lain-lain sehingga meningkatkan pembacaan algoritma.
Dengan begitu, akan meningkatkan visibilitas konten, membangun reputasi positif, dan mendorong interaksi organik yang sehat.
Pada gilirannya, berita dan konten Jurnalisme Positif akan memicu “deep engagement”, di mana berita/konten bukan sekadar diklik atau di-likes tetapi juga dibagikan dan disimpan sebagai arsip pengetahun, dokumentasi pengalaman, dan referensi yang inspiratif. (*)









