Di balik percepatan pembangunan 36 ruas jalan tersebut, terdapat motif yang cukup jelas: menghadirkan “hasil nyata” bagi masyarakat. Dalam banyak kasus, pembangunan sering kali terjebak dalam perencanaan jangka panjang yang tidak segera dirasakan dampaknya oleh publik.
PELAKITA.ID – Dalam lanskap pembangunan daerah yang kerap berjalan lambat dan penuh kompromi, capaian penyelesaian 36 ruas jalan dalam kurun waktu satu tahun di Kabupaten Wajo menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati.
Di bawah slogan Ar-Rahman, pemerintah daerah menunjukkan produktivitas yang tidak hanya tinggi, tetapi juga terukur dan terasa langsung oleh masyarakat. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar “bagaimana itu bisa terjadi,” tetapi juga “apa motif dan fondasi yang melatarbelakanginya.”
Salah satu kunci utama yang dapat dibaca dari capaian ini adalah filosofi “Merdeka Berinisiatif dan Berkarya.” Ungkapan ini bukan sekadar slogan normatif, melainkan menjadi energi penggerak dalam tata kelola pemerintahan.
Dalam konteks ini, “merdeka” dimaknai sebagai keberanian untuk keluar dari pola kerja birokrasi yang kaku, sementara “berinisiatif dan berkarya” menjadi dorongan untuk menghadirkan solusi nyata atas persoalan publik.
Hasilnya tampak pada pembangunan infrastruktur jalan yang tersebar di berbagai kecamatan seperti Bola, Takkalalla, Sajoanging, Pitumpanua, Belawa, Gilireng, Penrang, Majauleng, Tanasitolo, Sabbangparu, Pammana, hingga Tempe. Ini bukan sekadar proyek, tetapi representasi dari kerja yang bergerak.
Produktivitas tidak lahir dari ruang hampa. Ia membutuhkan modal yang kokoh.
Dalam konteks Wajo, modal tersebut terletak pada kekuatan sektor pertanian. Sebagai salah satu lumbung pangan nasional dengan capaian produksi beras yang menempatkannya pada posisi delapan besar secara nasional, Wajo memiliki basis ekonomi yang relatif stabil.
Sektor agraris ini tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga sumber daya strategis yang menopang keberlanjutan pembangunan. Stabilitas ekonomi dari sektor pertanian memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk fokus pada pembangunan infrastruktur tanpa terganggu oleh gejolak ekonomi yang berarti.
Di balik percepatan pembangunan 36 ruas jalan tersebut, terdapat motif yang cukup jelas: menghadirkan “hasil nyata” bagi masyarakat. Dalam banyak kasus, pembangunan sering kali terjebak dalam perencanaan jangka panjang yang tidak segera dirasakan dampaknya oleh publik.
Dalam konteks ini, pemerintah daerah tampak memilih pendekatan yang lebih pragmatis—mengerjakan hal-hal yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, khususnya akses transportasi. Jalan yang baik bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga tentang konektivitas ekonomi, distribusi hasil pertanian, hingga peningkatan kualitas hidup.
Semua itu terhubung dengan visi yang lebih besar: mewujudkan “Wajo Maradeka,” sebuah gagasan tentang kemandirian dan kebebasan ekonomi masyarakat.
Capaian ini juga tidak dapat dilepaskan dari dimensi kepemimpinan. Gaya kepemimpinan di bawah slogan Ar-Rahman memperlihatkan orientasi yang kuat pada eksekusi.
Menyelesaikan 36 ruas jalan dalam satu tahun menunjukkan adanya kemampuan manajerial yang efektif, disiplin dalam pencapaian target, serta efisiensi dalam penggunaan waktu dan sumber daya.
Lebih dari itu, kepemimpinan ini tampaknya memberi ruang bagi inisiatif di tingkat birokrasi dan pemangku kepentingan lainnya.
Dengan kata lain, ada upaya untuk membangun ekosistem kerja yang tidak semata top-down, tetapi juga membuka ruang kreativitas dalam penyelesaian masalah.
Selain itu, terlihat pula adanya visi yang terintegrasi antara pembangunan infrastruktur dan kekuatan ekonomi daerah.
Jalan tidak dibangun semata sebagai proyek fisik, tetapi sebagai instrumen untuk memperkuat posisi Wajo sebagai daerah penyokong pangan nasional. Ini menunjukkan adanya kesadaran strategis bahwa pembangunan harus saling terhubung, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Meski demikian, capaian ini tetap perlu dilihat secara kritis. Apakah keberhasilan ini dapat dipertahankan dalam jangka panjang? Apakah kualitas pembangunan sejalan dengan kecepatannya?
Juga tentang sejauh mana dampaknya terhadap pemerataan kesejahteraan masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk memastikan bahwa produktivitas yang tinggi tidak hanya bersifat sesaat, tetapi berkelanjutan. Penulis yakin dengan spirit di awal tahun yang sungguh dahsyat itu, orientasi pembangunan berikutnya bisa jadi akan menyasar penguatan SDM, adopsi teknologi atau jejaring bisnis lintas wilayah.
Tahun ini, di tahun-tahun krisis, kita menunggu daya lenting dan daya ubah pasangan Andi Rosman dan Dokter Baso – adik kelas penulis di Smansa Makassar.
Tentu kita harus optimis, bahwa pada situasi apapun pemimpin harus kreatif dengan sumber daya yang ada. “Bukankah pemimpin kuat hadir saat sejumlah tantangan dan persoalan datang silih berganti?”
Pada akhirnya, penyelesaian 36 ruas jalan dalam satu tahun di Kabupaten Wajo bukan hanya soal angka, tetapi tentang narasi kepemimpinan, keberanian mengambil inisiatif, serta upaya menghadirkan hasil nyata bagi masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan daerah di Indonesia, capaian ini menjadi contoh bahwa dengan visi yang jelas, modal yang tepat, dan eksekusi yang disiplin, perubahan yang cepat dan berdampak bukanlah sesuatu yang mustahil.
___
Kamaruddin Azis
Gowa, 29 Maret 2026









