Disebutkan Ashar, tahun 1500-an kira-kira (hasil penelusuran penulis, tahun 1582) menjadi tonggak penting dengan terbentuknya persekutuan Tellumpoccoe—Bone, Wajo, dan Soppeng—sebagai upaya menahan ekspansi Gowa yang mulai menguat dari arah barat. Gowa yang bahkan menyasar wilayah di luar Sulawesi bahkan sampai Maluku dan Nusa Tenggara.
PELAKITA.ID – Di portal berita maritim Pelakita.ID dan maritimeposts.com, penulis rajin membagikan kisah-kisah terkait dimensi sejarah dan situs maritim. Rujukan atau sumber kisah itu dengan menonton Youtube.
Nah, salah satu yang menyita perhatian adalah jejak kota-kota tua, atau besar di masanya namun benam dalam dasar lautan.
Kesimpulan dari menonton Youtube itu adalah memang terdapat reruntuhan bawah laut yang nyata serta bukti ilmiah kuat mengenai permukiman manusia yang tenggelam, namun sebagian besar bukanlah “peradaban super” mitologis seperti Atlantis.
Sebaliknya, mereka adalah bekas kota pesisir, pelabuhan, dan desa yang perlahan tenggelam akibat proses alam seperti kenaikan permukaan laut, gempa bumi, penurunan tanah, dan erosi pantai.
Arkeologi telah mengonfirmasi banyak situs ini, termasuk Dwarka, Heracleion, Pavlopetri, dan Atlit Yam. Ini bukan legenda, melainkan temuan yang terdokumentasi dengan baik dan dipelajari melalui arkeologi bawah laut, didukung oleh teknologi seperti pemetaan sonar dan penyelaman scuba.
Intinya sederhana: banyak permukiman manusia awal dibangun di sepanjang garis pantai, sehingga ketika permukaan laut naik—terutama setelah Zaman Es terakhir—mereka akhirnya tenggelam.
Penemuan-penemuan terbaru semakin memperkuat pemahaman ini.
Misalnya, struktur bawah laut berusia sekitar 7.000 tahun ditemukan di lepas pantai Prancis, termasuk dinding batu yang menunjukkan adanya adaptasi manusia purba terhadap perubahan permukaan laut.
Tentang pengalaman menonton itu, penulis sampaikan saat bertemu Direktur Eksekutiif The COMMIT Foundation, Ashar Karateng, pada 26 Maret 2026, di Kampung Pattallassang, Gowa, domisili pria yang kami sebut sebagai ‘Kepala Sekolah’ itu.
Mungkinkan Tempe, Saddang, dan Teluk Bone pernah terhubung?
Itu pertanyaan yang penulis sampaikan ke Ashar saat kami berbincang di kolong rumah panggungnya yang aduhai. Bersama saya hadir Jumardi Lanta, manajer program The COMMIT Foundation.
”Bisa saja,” balas Ashar.
Dikatakan, secara ilmiah, ada bukti kuat bahwa Danau Tempe, Sungai Walanae, Sungai Cenranae hingga Teluk Bone berada dalam satu sistem hidrologi yang saling terhubung.
“Danau Tempe merupakan danau limpasan yang menerima aliran dari berbagai sungai di sekitarnya, termasuk Walanae, lalu mengalir keluar melalui Cenranae menuju Teluk Bone,” sebutnya.
Pola aliran air, sedimentasi, dan bentuk topografi kawasan ini menunjukkan bahwa sejak lama wilayah tersebut merupakan satu koridor alami yang menghubungkan pedalaman dengan laut timur Sulawesi Selatan.
Kondisi ini nampak tidak berlaku untuk Sungai Saddang River. ”Kan Sungai Saddang mengalir ke arah barat menuju Selat Makassar, dan tidak memiliki hubungan langsung dengan sistem Danau Tempe–Walanae–Cenranae,” tambah Ashar.
Secara geologis, Saddang berada pada cekungan yang berbeda, terpisah oleh struktur topografi dan tektonik di bagian tengah Sulawesi Selatan. Hal ini menjadikan Saddang sebagai bagian dari sistem hidrologi barat, sementara Tempe dan Walanae berada dalam sistem timur.
Bagi penulis, pertanyaan apakah ketiganya pernah terhubung di masa lalu memang menarik, namun hingga saat ini belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa Saddang pernah menyatu langsung dengan sistem Danau Tempe atau Teluk Bone.
Hemat penulis, di Youtube ditemukan banyak kota-kota pesisir tenggelam ke dasar lautan, beragam penyebab.
”Mungkinkah juga pernah terhubung misalnya, kampung-kampung di sekitar Sungai Lamasi, atau bahkan Saddang?” penulis masih bertanya.
Menurut Ashar, kemungkinan yang ada lebih bersifat terbatas, seperti konektivitas sementara akibat banjir besar atau perubahan aliran sungai dalam skala geologis yang sangat panjang.
Meski, skenario ini tidak menunjukkan adanya hubungan permanen antar sistem tersebut.
Itinya, dari sini dapat dipahami bahwa Sulawesi Selatan pada dasarnya terbagi dalam dua dunia air besar: sistem timur yang mengalir dari Danau Tempe ke Teluk Bone, dan sistem barat yang diwakili oleh Sungai Saddang menuju Selat Makassar.
Hanya saja, dari sisi sosio kultural, keagamaan, ekonomi, menurut Ashar tentu sangat erat kaitannya.
Disebutkan, pembagian ini bukan sekadar geografi, tetapi juga membentuk pola sejarah, ekonomi, dan interaksi sosial di wilayah tersebut.
Perbincangan kami berpindah ke bagian yang sangat menarik. Bagaimana dengan pusat kuasa, tumbuh kembangnya Islam, dan diaspora di Bosowa?
Sejarah Sulawesi Selatan, jika ditarik ke akarnya yang paling dalam, bukan pertama-tama tentang kerajaan atau perang. Ia dimulai dari air—dari sungai yang mengalir, dari danau yang meluas dan menyusut, dari cekungan yang perlahan membentuk peradaban.
Di antara semua itu, terbentang satu sistem besar yang menjadi rahim sejarah: Walanae, Danau Tempe, dan Cenranae.
Menurut Ashar, secara geologis dan ekologis, ketiganya bukan entitas yang terpisah. Danau Tempe berada dalam satu kesatuan cekungan Walanae–Cenranae.
”Puluhan sungai kecil mengalir masuk ke danau ini, sementara hanya satu aliran besar yang keluar—menuju timur, melalui Cenranae, hingga ke Teluk Bone,” sebutnya.
Bahkan, kata Ashar, jejak penelitian menunjukkan bahwa dalam masa lampau, Walanae sendiri berkontribusi membentuk Danau Tempe.
Ini menandakan bahwa kawasan ini dulunya mungkin merupakan satu bentang air yang lebih luas—sejenis koridor ekologis, bahkan kemungkinan teluk purba—yang kemudian berevolusi menjadi danau banjir musiman dan jaringan sungai.
Dari sinilah semuanya bermula.
Zaman Purba hingga Awal Peradaban (±30.000 tahun lalu – sebelum 1200)
Lembah Walanae menyimpan jejak manusia yang sangat tua—puluhan ribu tahun lalu, manusia telah hidup, berburu, dan beradaptasi dengan lanskap air ini.
Memasuki milenium pertama, kawasan Danau Tempe mulai menjadi pusat hunian yang lebih permanen. Ia menyediakan air, ikan, dan lahan subur—syarat utama lahirnya peradaban.
Dalam konteks inilah, wilayah ini dapat disebut sebagai tanah asal (cradle) peradaban Bugis.
Lalu bergerak ke abad ke-14 hingga ke-15. Ini bisa disebut sebagai konsolidasi agraria dan lahirnya kerajaan
Memasuki abad ke-14, lanskap ini mulai terorganisasi dalam bentuk politik. Sekitar tahun 1300–1500, muncul kerajaan-kerajaan besar: Bone, Wajo, Soppeng, dan Gowa. Di sekitar Danau Tempe dan aliran Walanae, masyarakat membangun sistem agraria berbasis padi yang sangat produktif.
Dikatakan Ashar, sungai tidak hanya mengairi sawah, tetapi juga menjadi jalur mobilitas. Perahu-perahu kecil mengangkut hasil bumi, menghubungkan komunitas, dan perlahan membentuk jaringan ekonomi.
Ini yang diduga atau dikatakan sebagai jalur yang bisa saja tembus ke Teluk Bone, saat belum sedangkal saat ini.
Di tengah konteks ini, Wajo lahir sebagai entitas yang unik. Ia tidak sepenuhnya feodal, melainkan berbasis kesepakatan kolektif. Sementara Bone dan Soppeng berkembang sebagai kekuatan daratan, semuanya tetap terikat oleh satu hal: sistem air yang sama.
Pada abad ke-16, kami menyebut sebagai ajang politik persekutuan dan perebutan koridor air.
Disebutkan Ashar, tahun 1500-an kira-kira (hasil penelusuran penulis, tahun 1582) menjadi tonggak penting dengan terbentuknya persekutuan Tellumpoccoe—Bone, Wajo, dan Soppeng—sebagai upaya menahan ekspansi Gowa yang mulai menguat dari arah barat. Gowa yang bahkan menyasar wilayah di luar Sulawesi bahkan sampai Maluku dan Nusa Tenggara.
Pada fase ini, air berubah fungsi dari sekadar sumber kehidupan menjadi instrumen kekuasaan. Menguasai aliran Walanae dan akses ke Cenranae berarti membuka jalan ke Teluk Bone—dan dari sana, ke jaringan perdagangan laut yang lebih luas.
”Jelas, sungai menjadi jalur perdagangan, koridor militer, batas politik.”
Dinamika tidak pernah statis. Aliansi berubah. ”Wajo kan kemudian berpihak ke Gowa,” sebut Ashar.
Bone kemudian dapat bersekutu dengan kekuatan luar seperti VOC. Dalam konteks ini, sejarah Sulawesi Selatan menunjukkan fleksibilitas politik yang tinggi—di mana strategi lebih penting daripada kesetiaan permanen.
Perbincangan kami masuk linimasa awal abad ke-17.
Islamisasi dan Transformasi Kekuasaan (1605–1611)
Periode 1605–1607 menandai titik balik besar. Penguasa Tallo memeluk Islam dan menjadi Sultan Abdullah, disusul oleh penguasa Gowa yang menjadi Sultan Alauddin. Dari sini, Gowa–Tallo bertransformasi menjadi kekuatan Islam yang ekspansif.
Ashar menyebut pada masa ini, ada perkampungan Wajo. Tentang nama Amanna Gappa. “Dia itu dari Wajo, yang menulis tentang sistem perniagaan kan,” ucapnya.
Kala itu, Islam menyebar melalui dua jalur damai: melalui perdagangan dan dakwah ulama Melayu dan Minangkabau (Tiga Datuk), politik: melalui ekspansi militer
Maka dalam waktu singkat Soppeng masuk Islam (1609), Wajo (1610) dan Bone (1611). Terkait ini ada kisah yang dilekatkan dengan eksistensi Kampung Tosora yang disebut bahkan sudah eksis jauh sebelum Islam bersama 3 Datuk merebak di seantero Sulawesi bagian selatan.
Di Tosora, ada penganjur Islam yang disebut sudah ada sejak Islam pertama kali masuk, namun tidak pada praksis atau pelaksanaan ibadahnya, tetapi lebih pada peyakinan tentang Tuhan Maha Esa, meski saat itu beberapa ajaran juga mengenal keesaan Batara.
Sebelum mengenal Islam, masyarakat Wajo menganut animisme dan dinamisme yang berakar dari kepercayaan Bugis kuno. Dalam lontara disebutkan bahwa mereka mengenal Dewata Seuwae sebagai Tuhan yang tunggal. Tradisi kremasi juga pernah berlangsung, dibuktikan dengan temuan keramik yang berisi abu dan tulang di situs Wajo.
Penulis menemukan sumber tentang ekskavasi di situs Patunuang menunjukkan adanya kompleks pembakaran mayat berbentuk teras berundak yang digunakan untuk prosesi pemakaman.
Memasuki awal abad ke-17, pengaruh Islam semakin kuat, terlihat dari perubahan orientasi makam dari timur-barat menjadi utara-selatan, serta penggunaan nisan tipe pipih.
Pengaruh Islam juga tampak dari pembangunan Masjid Tua Tosora sekitar tahun 1621 dengan arsitektur khas atap tumpang dan dinding batu.
Pada tahun 1996, seorang peziarah dari Jawa mengklaim bahwa salah satu makam di kompleks tersebut adalah makam Syekh Jumadil Kubro. Namun klaim ini masih diperdebatkan karena tidak didukung bukti tertulis yang kuat maupun ingatan kolektif masyarakat setempat.
Kata Ashar, menurut beberapa pendapat, termasuk dari budayawan lokal, Islam mungkin telah hadir lebih awal di Wajo. Disebutkan bahwa Syekh Jumadil Kubro atau Sayyid Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini datang sekitar tahun 1320.
Selain itu, ada tokoh lain seperti nakhoda Bonang yang disebut tiba di Wajo pada tahun 1567. Namun, pada fase ini Islam masih bersifat individual dan belum diterima sebagai agama kerajaan. Ini yang disebutkan Ashar sebagai semata menganjurkan keesaan Tuhan.
”Baru pada abad ke-17, melalui dakwah Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk ri Pattimang, Islam diterima secara resmi oleh kerajaan,” sebutnya.
Periode ini dikenal sebagai Musu Selleng, atau perang Islamisasi. Namun lebih dari sekadar agama, Islam membawa perubahan pada struktur legitimasi kekuasaan—menghubungkan adat dengan hukum yang lebih luas.
Abad ke-17: Puncak Gowa dan Dunia Maritim Makassar
Di bawah Gowa–Tallo, khususnya pada abad ke-17, Makassar tumbuh menjadi salah satu pelabuhan internasional terpenting di Asia Tenggara. Dari sini, rempah-rempah dari Maluku mengalir, pedagang dari berbagai bangsa bertemu, dan jaringan perdagangan global terbentuk.
Puncaknya terjadi pada masa Sultan Hasanuddin (1653–1669). Gowa menjadi kekuatan maritim dominan, menyaingi bahkan menantang VOC.
Di titik ini, terlihat jelas dua dunia besar, dunia Makassar: maritim, pelabuhan, perdagangan global dan dunia Bugis: agraria, sungai, federasi politik Keduanya saling berinteraksi, tetapi juga saling bersaing.
Tahun antara 1667–1679 adalah tahun perang, juga kekalahan, dan runtuhnya tatanan lama. Perjanjian Bungaya tahun 1667 menjadi titik runtuhnya dominasi Gowa. VOC, dengan dukungan Arung Palakka dari Bone, berhasil memaksa Gowa tunduk. Namun konflik tidak berhenti.
Wajo menolak dominasi baru, dan perang berlanjut hingga sekitar 1679. Dalam proses ini, Tosora—pusat Wajo—dikepung dan dilemahkan. Akibatnya kehancuran struktur politik lama, pengusiran penduduk dan trauma kolektif
Ini adalah salah satu titik paling gelap dalam sejarah kawasan ini.
Pada abad ke-18 dan seterusnya terjadi diaspora dan ekspansi ke dunia luar. Dari kehancuran itu lahir gelombang besar diaspora. Orang-orang Bugis, terutama dari Wajo, memilih meninggalkan tanah asal daripada tunduk.
Mereka berlayar ke Siak, Indragiri, Johor dan Kalimantan. Di sana, mereka membangun jaringan baru—sebagai pedagang, pelaut, dan bahkan elite politik.
Identitas Bugis tidak hilang; ia justru meluas, menjadikan diaspora sebagai kekuatan baru.
Pembaca sekalian, jika seluruh linimasa ini ditarik dalam satu garis besar, terlihat satu pola yang konsisten: air adalah struktur tersembunyi dari kekuasaan. Danau Tempe adalah pusat agraria (mengontrol pangan), sementara Walanae sebagai jalur mobilitas (mengontrol pergerakan),lalu Cenranae untuk akses laut (mengontrol perdagangan)
Siapa yang menguasai sungai, menguasai makanan.
Siapa yang menguasai danau, menguasai manusia.
Siapa yang menguasai pantai, menguasai dunia luar.
Lebih jauh, di sisi lain, Sungai Saddang di barat membentuk sistem yang berbeda—mengalir ke Selat Makassar dan tidak terhubung dengan Tempe–Walanae.
Ini menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan sejak awal terbagi dalam dua dunia hidrologis: barat dan timur. Hanya saja, sejarah Bugis, dengan segala kompleksitasnya, berakar kuat pada dunia timur—pada cekungan air yang sunyi, tetapi menentukan.
Sejarah yang mengalir
Sosodara, sejarah Sulawesi Selatan bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah. Ia adalah tentang bagaimana manusia membaca lanskap, memanfaatkan air, membangun kekuasaan, lalu beradaptasi ketika semuanya runtuh.
Dari Danau Tempe ke Teluk Bone, dari Walanae ke perairan Nusantara, sejarah itu terus mengalir—seperti sungai yang tak pernah benar-benar berhenti.
Seperti yang pernah terucap dalam percakapan itu, kemuliaan sejati tidak terletak pada kejayaan yang abadi, melainkan pada kemampuan untuk terus bergerak, berubah, dan bertahan—mengikuti arus waktu.
_____
Narasi Referensi
Kajian mengenai sejarah dan kebudayaan Bugis dan Makassar didukung oleh sejumlah karya akademik dan sumber lokal yang cukup otoritatif.
Salah satu rujukan utama adalah The Bugis karya Christian Pelras, yang memberikan gambaran komprehensif mengenai asal-usul, sistem sosial, diaspora, serta budaya dan kepercayaan masyarakat Bugis. Buku ini sering dijadikan pintu masuk utama dalam memahami dunia Bugis secara menyeluruh.
Untuk memahami masyarakat Makassar, karya The Makassarese oleh William Cummings menjadi rujukan penting. Buku ini menyoroti struktur kekuasaan, tradisi tulis lontara, serta pembentukan identitas Makassar.
Sementara itu, A History of Modern Indonesia Since c. 1200 karya M.C. Ricklefs memberikan konteks yang lebih luas, termasuk dinamika Gowa–Tallo, proses Islamisasi, serta keterlibatan VOC dalam sejarah kawasan.
Selain sumber akademik, sumber lokal seperti Lontara Bugis memegang peranan penting sebagai sumber primer. Naskah ini memuat silsilah raja, hukum adat, serta mitologi Bugis, termasuk epos Sureq Galigo yang menggambarkan kosmologi, asal-usul manusia Bugis, dan konsep ketuhanan Dewata Seuwae.
Meskipun demikian, sumber ini memerlukan pendekatan kritis dalam interpretasinya.
Dalam konteks sejarah politik dan Islamisasi, karya The Heritage of Arung Palakka oleh Leonard Andaya menjadi referensi penting, khususnya dalam membahas peran Arung Palakka, konflik Bugis–Makassar, serta hubungan dengan VOC.
Kajian tentang proses Islamisasi juga diperkuat oleh tulisan Islamization and Its Opponents in Java and South Sulawesi yang mengulas peran tokoh-tokoh seperti Datuk ri Bandang dalam penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.
Dari perspektif maritim dan diaspora, Leaves of the Same Tree karya Roxana Waterson memberikan pemahaman tentang jaringan kekerabatan dan mobilitas orang Bugis lintas wilayah. Selain itu, berbagai studi tentang The Bugis Diaspora menyoroti penyebaran komunitas Bugis ke wilayah seperti Johor, Kalimantan, dan Sumatra.
Secara umum, karya Pelras dan Andaya dianggap paling kuat dalam pendekatan akademik, sementara lontara dan La Galigo penting sebagai representasi perspektif lokal, meskipun membutuhkan interpretasi kritis.
Di sisi lain, karya Cummings memberikan kontribusi penting dalam memahami historiografi dan identitas Makassar.
Daftar Pustaka
- Christian Pelras. The Bugis. Oxford: Blackwell, 1996.
- William Cummings. The Makassarese. Oxford: Blackwell, 2002.
- M.C. Ricklefs. A History of Modern Indonesia Since c. 1200. Stanford: Stanford University Press, 2008.
- Leonard Andaya. The Heritage of Arung Palakka. The Hague: Martinus Nijhoff, 1981.
- J. Noorduyn. Islamization and Its Opponents in Java and South Sulawesi. Leiden: KITLV Press.
- Roxana Waterson. Leaves of the Same Tree. Honolulu: University of Hawai‘i Press, 2009.
- Lontara Bugis (berbagai naskah dan transliterasi).
- Sureq Galigo (berbagai versi dan kajian).
- The Bugis Diaspora (berbagai penulis).









