Upaya ini tidak hanya bertujuan konservasi, tetapi juga memastikan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Rotan, sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) unggulan di Sulawesi Tengah—khususnya di Kabupaten Sigi—menjadi tulang punggung penghidupan selain damar.
PELAKITA.ID – Di kedalaman hutan Sulawesi Tengah, tepatnya di wilayah penyangga Taman Nasional Lore Lindu, suara alam berpadu dengan langkah para pencari rotan.
Di sinilah, Arief Sutte—seorang pelaku usaha sekaligus pemerhati rotan—menuturkan kisah panjang tentang komoditas yang tak sekadar bernilai ekonomi, tetapi juga menyimpan denyut kehidupan masyarakat lokal.
“Hari ini kami berada di kawasan hutan tempat masyarakat Kulawi, dari Desa Namo dan Saluah, mencari rotan,” ujarnya.
Di hadapannya, hamparan rotan tumbuh rapat. Salah satu yang paling bernilai adalah jenis rotan yang dikenal sebagai Calamus monospermus (yang oleh masyarakat setempat disebut rotanok).
Inilah rotan yang memiliki nilai jual tinggi dan menjadi tumpuan ekonomi masyarakat.
Namun bagi Arief, rotan bukan sekadar komoditas. Ia adalah bagian dari ekosistem yang harus dijaga.
Bersama para penjaga hutan seperti Anwar—yang telah puluhan tahun mengabdikan diri menjaga kawasan hutan dan wilayah penyangga—Arief menyaksikan bagaimana hutan dan manusia hidup dalam relasi yang saling bergantung.
“Kalau rotan ini kita ambil tanpa aturan, maka yang hilang bukan hanya rotannya, tapi juga masa depan,” katanya.
Sejak 2012, melalui forum yang ia gagas, Arief aktif mendorong gerakan budidaya rotan.
Upaya ini tidak hanya bertujuan konservasi, tetapi juga memastikan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Rotan, sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) unggulan di Sulawesi Tengah—khususnya di Kabupaten Sigi—menjadi tulang punggung penghidupan selain damar.
Pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada penanaman. Arief dan timnya juga mengedukasi masyarakat tentang metode panen lestari—cara mengambil rotan tanpa merusak ekosistem.
“Kita ajarkan bagaimana rotan yang sudah tumbuh tetap dijaga, tidak dihabiskan sekaligus saat panen,” jelas alumni Ilmu Tanah Unhas angkatan 1988 yang pernah berdomisili di Jepang ini.
Dengan cara ini, lanjut Arief, siklus alam tetap berjalan, sementara masyarakat tetap mendapatkan manfaat ekonomi.
Di sisi lain, Arief juga berperan sebagai penghubung rantai pasok. Rotan yang dipanen masyarakat ia beli, kemudian diolah, dan dikirim ke sentra industri rotan di Cirebon—kota yang dikenal sebagai pusat industri furnitur rotan nasional.
Dari hutan-hutan Kulawi, rotan itu kemudian menjelma menjadi produk bernilai tinggi yang menembus pasar lebih luas.
Bagi Arief, inilah siklus ideal: konservasi berjalan, ekonomi tumbuh, dan masyarakat menjadi aktor utama. “Kita ingin rotan ini bukan hanya tanaman hutan, tapi juga sumber kehidupan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Perjalanan menuju lokasi ini sendiri bukan perkara mudah. Dari kaki bukit, Arief dan tim harus menempuh perjalanan lebih dari dua jam menggunakan kendaraan, bahkan bisa mencapai tiga jam berjalan kaki dari kampung. Namun, lelah itu terbayar dengan keyakinan bahwa hutan ini masih menyimpan harapan.
Di tengah rimba, pesan sederhana pun menggema—sebuah ajakan yang lahir dari pengalaman panjang para penjaga hutan: menjaga rotan berarti menjaga masa depan.
“Kalau bukan kita yang menjaga hutan Indonesia, siapa lagi?” ujar Anwar.
Dari Tanah Lore Lindu, kisah rotan bukan hanya tentang batang yang dipanen, tetapi tentang hubungan manusia dan alam yang terus dirawat. Sebuah cerita tentang bagaimana dari dalam hutan, lahir harapan untuk generasi yang akan datang.
___
Penulis Denun









