PELAKITA.ID – Jika menyebut Pulau Rajuni di Taka Bonerate maka kenangan saya mengembara ke sejumlah nama. Tentang artefak pengalaman di Kampung, Bugis, Bajo, Rajuni Bakka, hingga Selayar dan para pencari teripang serta simbula pallu ce’la asal Galesong.
Di antara elemen-elemen historis itu, ada beberapa nama yang saya amat akrab.
Sebelum menyebut nama-nama itu, saya ingin jelaskan bahwa Pulau Rajuni Kecil, jantung pemerintahan Desa Rajuni, Kecamatan Taka Bonerate terbagi tiga dusun itu yaitu Rajuni Bakka, Kampung Bugis dan Kampung Bajo itu adalah kenangan manis, peletak sejarah profesi, gambaran masa depan nasib.
Rajuni kerap kami rengkuh dengan naik kapal barang Paotere – Rajuni – Flores. Saat itu ada belasan kapal kargo kayu asal Rajuni, langganan kami hilir mudik Taka Bonerate.
Pertama kali ke pulau ini dalam tahun 1995, dalam bulan April yang kering. Saat musim Je’ne Kebo atau musim ombak musim timur sungguhlah dahsyat.
Di pulau ini, saya dan beberapa mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas melaksanakan riset dampak translokasi kima dari Pulau Barrang Lompo ke perairan Pulau Rajuni.
Nama-nama yang saya maksud itu adalah Pak Coang dan ibu Saenab sekeluarga.
Di rumah mereka kami tinggal selama tiga bulan. Lalu ada Sanawing, Saibung dan sejumlah ABK Kapal Cahaya Rahmat yang membawa kami dari Paotere. Ada Jismi, Muslim. Saya beruntung mengenal beberapa nakhoda kapal dari pulau ini seperti Haji Kaddas, Haji Muhajar, Haji Jawas. Masih banyak.
Dari sekian nama itu ada beberapa yang intens berkomunikasi, atau diistilahkan,kalau curhat atau ’merasa sebagai adik atau anak’ adalah pada Haji Mahmud di Kampung Bugis, lalu ada Haji Darwis di Kampung Bajo hingga Haji Burhan Mananring dan Haji Ita., Mursalim Laling, Nurjannah, Mbo Haya sekeluarga.
Dengan Haji Mahmud, saya sungguh dekat. Terkenang penerimaan, penghormatan, penyambutan saat kami mahasiswa Kelautan saat itu datang ke Kampung Bugis.
”Ada tong itu anakku di Unhas nak,” katanya saat kami bersua pada satu petang di sisi barat Kampung Bugis, Pulau Rajuni Kecil, tahun 1995. Anak yang dia maksud adalah seangkatan saya, namanya Hashimah atau Ima, mahasiswa FKM Unhas saat itu dan kini ASN Dinas Kesehatan Pemprov Sulsel.
Haji Mahmud adalah tipikal Bugis asal Sinjai yang berdagang tapi tak lupa pada pendidikan. Anaknya, Ita, adalah guru di SD Rajuni, lalu Ima yang ASN, lalu ada Siddik yang juga guru.
Di rumah Ita dan Haji Bur suaminya, saya sering menginap. Menyaksikan anaknya yang lincah Yola tumbuh di antara halaman berpasir, sumur payau dan air hujan dari pelepah nyiur.
Belum lagi, cucu, Haji Mahmud, Taufik yang alumni Ilmu Kelautan Unhas. Juga cucunya Yola yang lulusan Universitas Muhammadiyah Malang.
Iya, itu kesan saya tentang Haji Mahmud. Di tengah kondisi geografi Pulau Rajuni di Laut Flores yang jauh dari ibu kota Selayar Benteng, apatah lagi Kota Makassar, Haji Mahmud sukses menyiapkan masa depan anak-anak, cucu, dan sanak keluarganya melalui jalur pendidikan.
Pekan ini, timeline saya di Facebook diisi berita duka atas meninggallnya sosok yang saya ceritakan di atas. Innalillahi wa innailahi rajiun.
Umurnya barangkali 90-an. Tanda bahwa almarhum punya daya tahan yang luar biasa. Hal yang sangat jarang ditemui di suasana pulau yang semakin banyak generasi di bawahnya telah mendahului.
Mengenang Haji Mahmud, saya terkenang pula Haji Darwis, sosok yang saya sebut sebagai kakanda yang banyak merawat kami saat riset, bekerja dan datang ke Pulau Rajuni.
Jika Haji Mahmud tokoh Kampung Bugis, maka Darwis adalah tokoh Kampung Bajo. Mereka merepresentasi dua keluarga besar yang sangat ramah dan peduli.
Di lingkar keluarga Haji Mahmud, ada banyak sosok perhatian dan baik hati. Ambo Sakka, Ambo Rappe hingga Ambo Tang, anak-anaknya.
Pembaca sekalian, sungguh banyak hal yang saya bisa kenang dari Pulau Rajuni, hendak kuceritakan, tapi mungkin nanti. Semisal pengalaman kami naik kapal barang, naik jolor dan juga bersua di rumahnya di Kota Makassar. Juga petuah-petuahnya.
Untuk beberapa alasan, rasanya biarlah itu tersimpan di dalam kenangan untuk sementara ini, di dalam jejak-jejak pengembaraan diri, dan juga tentang kesan orang-orang baik di linimasa kita semua.
Yang pasti mengenang Haji Mahmud, saya menemukan hikmah tentang perjalanan sosok asal Sinjai yang berkelana ke pulau jauh dan sukses membawa pulau itu berhias buah-buah pendidikan. Dia pantas disebut tokoh literasi kepulauan asal Kampung Bugis, Pulau Rajuni.
Turut berduka untuk ayahanda, Haji Mahmud, sosok yang luar biasa dalam merawat generasi masyarakat pulau, para martabat sosial, ekonomi dan lingkungan hidup.
___
Daeng Nuntung
Tamarunang, 25 Maret 2026









