Pesanan datang berlapis. Tiga porsi bebek goreng bagian paha, kulit ikan salmon berbalur telur asin, dua porsi kangkung cah, kerapu bakar besar, cumi iris kecil berlumur cabai, nasi goreng, sukun goreng sebagai penghantar, hingga irisan buah segar. Happy birthday, bro!
PELAKITA.ID – Petang itu, Rabu, 25 Maret 2026, langit di kawasan Daya perlahan meredup dalam nuansa merah tembaga nan syahdu. Sebentar lagi malam tiba saat kami parkir mobil dengan leluasa.
Kami yang berangkat dari Tamarunang Gowa perlahan mendekati tangga berundak bersama istri dan dua anak gadis.
Perjalanan via tol terasa ringan, lempang, seolah ada janji kecil di ujung jalan: sebuah pengalaman yang tak sekadar tentang makan malam.
Restoran yang kami tuju ini jika jaraknya dihitung dari Poros Perintis Kemerdekaan sekitar 7 kilometer.

Kami tiba. Di pelataran Plataran Summarecon Makassar, kesan pertama langsung berbicara. Halaman luas dan area parkir yang lega menyambut tanpa riuh, namun terasa hidup.

Dua anak gadis saya segera menemukan ruang bermainnya sendiri, berlarian kecil dalam batas yang tetap terasa aman.
Di depan bangunan yang menjulang tinggi dan tampak megah itu, tiga orang menyambut dengan ritme yang terlatih—satu mengarahkan kendaraan, dua lainnya berdiri di pintu masuk dengan senyum yang tak dibuat-buat.
Sebuah pembuka yang sederhana, tetapi memberi tanda: tempat ini serius dalam hal menyambut manusia.
Memasuki ruang dalam, kesan lapang langsung menyergap. Tidak berisik, tidak berlebihan. Tiga perempuan muda dengan balutan busana merah bata menyapa dengan sopan, mengarahkan dengan gestur yang ringan.
Di titik ini, keramahan terasa bukan sekadar prosedur, tetapi bagian dari suasana.
Tak lama, seorang pria menyapa dengan hangat. Felix Y. Wara, Assistant Manager, memperkenalkan diri. Dengan tenang ia menyebut satu frasa yang kemudian terasa menjelaskan banyak hal: True Indonesian Icon. Sebuah klaim yang akan diuji oleh pengalaman malam itu.
Kami diarahkan ke sebuah meja panjang untuk sembilan orang, posisinya unik—berada di beranda dapur, seolah memberi kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan denyut aktivitas di balik sajian.
Di sisi selatan, terbentang halaman belakang yang luas, tak kalah indah dari bagian depan.
Di sanalah, istri dan anak-anak saya larut dalam sesi foto, menangkap cahaya senja yang tersisa.
Ruang ini bukan hanya tentang makan. Ia tentang bagaimana orang merasa tinggal. Saya mendengar kalau restoran ini berdiri sudah cukup lama di Jakarta.


Tidak tanggung sudah ada 17 satuan restoran berdiri, ada di Plaza Senayan, dan beberapa lokasi strategis di Jakarta Selatan Konon, ada nama sosok terkenal Rosano Barack di belakangnya.
Kita kembali ke Plataran Summarecon Kota Daeng ini.
Di sisi lain, kami menyaksikan deretan meja dan kursi tertata seragam, menciptakan harmoni visual yang menenangkan.
Saya sempat berbelok ke sisi timur—dan menemukan satu detail penting: tempat salat yang sejuk, bersih, dengan sajadah tersusun rapi. Di kiri dan kanan, fasilitas toilet pria dan wanita terpisah, terjaga kebersihannya.
Sebuah cermin bundar besar, artistik, berdiri sebagai aksen yang tak hanya fungsional, tetapi juga estetis—tempat orang berhenti sejenak, memastikan diri sebelum kembali ke meja dan perbincangan.
Malam kemudian bergerak ke inti: makanan.
Pesanan datang berlapis. Tiga porsi bebek goreng bagian paha, kulit salmon berbalur telur asin, dua porsi kangkung cah, kerapu bakar ukuran besar, cumi iris kecil berlumur cabai, nasi putih, nasi goreng, sukun goreng sebagai pengantar, hingga irisan buah segar. Di ujungnya, es kelapa berpadu markisa—terdengar sederhana, namun menggoda.




Untuk anak lelaki yang ultah, kami dapat hadiah istimewa malam ini.
“Luar biasa sajiannya, enak, pas di lidah,” ujar saya, setengah pada diri sendiri, setengah pada keluarga.
Felix yang sempat kembali menghampiri hanya tersenyum. “Kami menyajikan khas Nusantara,” katanya singkat.
Dan memang, rasa menjadi bukti paling jujur. Bebek gorengnya tidak jatuh pada jebakan rasa asin berlebihan—ia pas, seimbang, dengan tekstur yang empuk. Kulit salmon berbalur telur asin tampil sebagai bintang malam itu: gurih, kaya, namun tetap halus di lidah.
“Biasanya goreng dibuat asin, tapi tidak tawwa, ini pas, enak tawwa,” kata saya kepada istri, yang hanya membalas dengan anggukan kecil—tanda setuju yang tak perlu banyak kata.
Anak-anak pun larut dalam dunia mereka sendiri: nasi goreng, cumi, dan nasi putih yang sederhana, tetapi menghadirkan kenyamanan yang mereka kenal.



Luas dan fasilitas lengkap
Di sela makan, kami diajak naik ke lantai dua. Ruang private yang disiapkan untuk acara khusus itu terasa eksklusif, namun tidak tertutup sepenuhnya.
Dinding kaca membuat pengunjung tetap terhubung dengan suasana di bawah. Kapasitasnya bisa mencapai seratus orang, meski idealnya separuhnya—sebuah ruang yang tampaknya dirancang untuk pertemuan, perayaan, dan mungkin juga keputusan-keputusan penting.
“Di lantai satu tersedia juga ruangan private, lebih kecil ukurannya pak,” imbuh Felix.
Kami kembali ke bawah, malam mulai menua. Minuman penutup datang sebagai penegas akhir: es kelapa dengan sentuhan markisa. Segar, ringan, dan—entah mengapa—memberi rasa bahagia yang sederhana.
Anak-anak meminta satu sesi foto lagi. Istri mengiyakan. Dan saya, diam-diam, menikmati pemandangan itu sebagai bagian paling utuh dari pengalaman malam ini.

Pembaca sekalian, Plataran, malam itu, bukan hanya tentang kemegahan bangunan atau banyaknya staf yang bekerja di balik layar—yang mungkin mencapai puluhan orang, dari dapur hingga layanan kebersihan.
Ia tentang bagaimana sebuah ruang dirancang untuk menghadirkan rasa: rasa nyaman, rasa dihargai, dan rasa ingin kembali.
Di kiri-kanan kawasan, kehidupan kota modern bergerak cepat—lampu, bangunan, dan jejaring komersial seperti McD yang berdiri tak jauh. Namun di dalam area ini, waktu terasa sedikit melambat.
Di situlah letak kekuatannya.
Bagi kami, ini adalah kunjungan pertama tetapi kesannya tidak terasa seperti yang pertama—lebih seperti menemukan tempat yang memang sudah lama menunggu untuk didatangi.
Juga khas Makassar
Dikutip dari laman mereka, disebutkan bahwa Plataran Makassar menghadirkan pengalaman bersantap yang berkelas, dengan inspirasi dari kekayaan kuliner Indonesia serta sejarah panjang yang mengakar di dalamnya.
Dengan profil rasa yang khas—menghadirkan kehangatan masakan rumahan dan kebahagiaan dalam kebersamaan—setiap hidangan menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi, sekaligus memeluk teknik modern dan pengaruh global.
Inilah sebuah perayaan warisan kuliner Nusantara, yang diwujudkan melalui penggunaan bahan-bahan premium serta komitmen terhadap kesehatan dan keseimbangan nutrisi, sebagai bagian dari nilai dasar filosofi kuliner Plataran.

Terinspirasi oleh kekayaan cita rasa khas Makassar yang penuh jiwa, serta kehalusan rasa dari berbagai penjuru Nusantara, tim kuliner Plataran melakukan riset mendalam terhadap resep tradisional, teknik memasak, hingga nilai gizi.
Semangat ini melahirkan kurasi menu yang mencerminkan keaslian budaya sekaligus inovasi kuliner, yang dilengkapi dengan pilihan hidangan internasional.
Baik untuk sarapan santai, makan siang yang rileks, makan malam yang elegan, maupun acara yang dirancang dengan penuh perhatian, Plataran Makassar mengundang setiap tamu untuk merasakan pengalaman bersantap Indonesia dalam kualitas terbaik—melalui jiwa dan esensi khas Plataran.
___
Penulis Kamaruddin Azis









