Urgensi debat intelektual dan peran ulama dalam menemukan kebenaran, untuk itu, mereka perlu terus hadir dalam ruang-ruang dialog, berhujah dengan argumentasi yang kuat, namun tetap dalam bingkai ukhuwah—persaudaraan—dan dengan niat yang ikhlas untuk mencari kebenaran, bukan memenangkan ego.
Prof Tasrief Surungan, Guru Besar Fisika MIPA Unhas
PELAKITA.ID – Perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H pada tahun 2026 sekali lagi, untuk kesekian kalinya, menunjukkan perbedaan penetapan antara organisasi besar Muhammadiyah dan versi Pemerintah.
Pekan ini, Muhammadiyah menetapkan secara resmi bahwa Idul Fitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan metode hisab atau perhitungan astronomi.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama setelah menunggu hasil sidang isbat yang menggabungkan metode hisab dan rukyat (pengamatan hilal), menetapkan Idul Fitri akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.03.25
Perbedaan ini merupakan hal yang lazim terjadi karena perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah, dan pada dasarnya mencerminkan dinamika ijtihad dalam tradisi keilmuan Islam.
Meski demikian, alumni University of Tokyo yang juga Guru Besar Fisika Fakultas Matematikan dan llmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin, Prof Tasrief Surungan, fenomena itu membuatnya gamang.
Setidaknya dia kemukakan itu saat dihubungi oleh Pelakita.ID terkait pandangannya pada perbedaan repetitif dan seolah takkan bisa bersesuaian itu.
Prof Tasrief yang sedang dalam perjalanan menuju Sulawesi Barat, mengaku mengalami kegamangan yang sama, tentang ’bagaimana baiknya agar tidak ada lagi perbedaan’ atau dengan kata lain, hanya ada satu ketetapan di tangan Pemerintah.
”Saya merenung tentang satu hal yang menurut saya semakin mendesak untuk diangkat kembali: pentingnya ruang dialog, bahkan debat intelektual, khususnya di kalangan para ulama dan kaum intelektual,” ucapnya, Rabu, 25 Maret 2026.
Menurutnya, hal itu bukan untuk memperuncing perbedaan, tetapi justru untuk menemukan jalan keluar yang terang dan dapat dipertanggungjawabkan.
”Jika perbedaan dibiarkan tanpa upaya klarifikasi yang jernih, ia berpotensi terus berulang dan bahkan menguat menjadi sekadar pembenaran atas posisi masing-masing,” sebutnya.
Padahal, kata Tasrief, dalam banyak hal, solusi sebenarnya sudah tersedia—hanya saja belum dikomunikasikan dengan baik atau belum diuji secara terbuka melalui dialog yang sehat.
Dia menyebut bahwa dalam tradisi Islam sendiri, ditemukan teladan debat yang bermartabat.
”Kisah Nabi Ibrahim yang berdebat dengan Namrud, atau dialog antara Nabi Musa dan para pengikut Firaun, menunjukkan bahwa perdebatan bukanlah sesuatu yang harus dihindari,” sebutnya.
Sebaliknya, kata Tasrief,, ia merupakan sarana untuk menyingkap kebenaran.
”Prinsipnya jelas: ketika kebenaran telah dikenali dan argumentasi telah disampaikan secara utuh, maka pihak yang tidak lagi memiliki dasar yang kuat seharusnya bersedia menerima dan mengikuti kebenaran tersebut,” tambahnya.
Bagi Tasrief, yang menjadi kekhawatiran adalah ketika perbedaan dibiarkan tanpa proses pencarian kebenaran yang tulus.
”Dalam kondisi seperti itu, perbedaan dapat berubah menjadi identitas yang kaku, bahkan berpotensi melahirkan sekte-sekte yang semakin menjauh dari substansi ajaran itu sendiri,” tegasnya.
Selama ini, lanjutnya, upaya yang saya lakukan adalah mendorong pencerahan di tengah masyarakat—agar publik memahami persoalan secara utuh, mengenali solusi yang ada, dan pada akhirnya mampu memilih serta mengikuti yang benar.
”Tantangan yang muncul adalah adanya pandangan yang membiarkan kekeliruan tetap hidup atas nama kebebasan, termasuk dalam kerangka demokrasi,” imbuhnya.
Dia mengaku bahwa dalam negara demokrasi, setiap kelompok dijamin untuk hidup dan mengekspresikan pandangannya. Namun, di sinilah peran penting para ulama dan intelektual: mereka tidak boleh diam.
”Mereka perlu terus hadir dalam ruang-ruang dialog, berhujah dengan argumentasi yang kuat, namun tetap dalam bingkai ukhuwah—persaudaraan—dan dengan niat yang ikhlas untuk mencari kebenaran, bukan memenangkan ego,” tandasnya.
Dia menyebut ungkapan seperti itu sejatinya masih berada pada tahap medioker, yakni tahap tengah dalam proses pencarian kebenaran.
Disebutkan, perlu dipahami bahwa ketika dua pandangan saling kontradiktif—terlebih jika perbedaannya sangat mendasar—maka tidak mungkin keduanya benar secara bersamaan.
“Namun, karena masing-masing pihak mengklaim kebenaran, seharusnya perbedaan itu dihadirkan dalam bentuk debat intelektual yang sehat, melibatkan para ulama dan pemikir yang kompeten. Jika tidak, yang terjadi hanyalah saling menyalahkan atau bahkan saling membenarkan secara dangkal, seolah-olah keduanya benar, atau sebaliknya, keduanya keliru,” ujarnya.
Kondisi seperti ini, sebut Tasrief, mencerminkan stagnasi pada level intelektual medioker.
Padahal, idealnya proses intelektual harus sampai pada ketegasan: yang benar dinyatakan benar, dan yang salah diakui sebagai salah.
“Esensinya, jika semua pihak benar-benar kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah, maka kekeliruan yang muncul sejatinya berasal dari perbedaan penafsiran. Karena itu, sebagaimana pesan Nabi, selama berpegang pada Al-Qur’an dan sunnah, seseorang tidak akan tersesat—dalam arti tidak terjebak dalam kebingungan atau relativisme pada level medioker tersebut,” terangnya.
Oleh karena itu, kata Tasrief, tidak boleh ada upaya melanggengkan perbedaan yang bersifat kontradiktif, baik dalam bentuk saling menyalahkan maupun saling membenarkan tanpa dasar yang kuat.
“Dalam konteks negara demokrasi, negara memang harus memberikan ruang bagi berbagai pandangan. Namun, tanggung jawab utama tetap berada pada kesadaran internal umat beragama, khususnya melalui peran para intelektualnya, untuk secara jujur dan terbuka menemukan kebenaran,” imbuhnya.
Jika tidak, perbedaan yang dibiarkan tanpa penyelesaian justru akan semakin meruncing. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi melahirkan fragmentasi, bahkan sekte-sekte baru dalam kehidupan beragama.
“Padahal, jika ditelaah secara jernih, seringkali ada pihak yang keliru, hanya saja belum memiliki keberanian untuk mengakui letak kekeliruannya dan masih terus mempertahankan klaim kebenaran tersebut,” lanjutnya.
Pada akhirnya, ujar Tasrief, debat yang sehat bukanlah tentang siapa yang menang atau kalah, tetapi tentang bagaimana kebenaran itu dapat ditemukan, dipahami, dan diikuti bersama.
”InsyaAllah, refleksi ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga tradisi intelektual yang jernih dan bertanggung jawab,” kuncinya.
Editor Denun









