PELAKITA.ID – Ada negara yang punya satu bakat nasional yang jarang diakui secara resmi: keinginan besar untuk meniru kesuksesan negara lain—tanpa niat yang sama besarnya untuk meniru prosesnya.
Dalam hal teknologi informasi, warga negara itu sering memandang China dengan kagum, seperti melihat tetangga yang punya WiFi 1 Gbps sementara mereka masih rebutan hotspot di warung kopi.
China membangun ekosistem digitalnya dengan serius: mereka bicara tentang kedaulatan data, infrastruktur, dan strategi jangka panjang.
Sementara itu, di negara itu, negara yang lain tentu saja, mereka juga bicara hal yang sama—bedanya, mereka membicarakannya di seminar, webinar, dan grup WhatsApp, lalu selesai dengan foto bersama.
China menutup platform asing, lalu membangun alternatifnya sendiri.
Mereka? Di negara lain itu, warga atas ketetapan negara tentu saja membuka semua platform asing, lalu berharap suatu hari unicorn lokal muncul dengan sendirinya, seperti mie instan yang tinggal diseduh.
Ironisnya, ketika unicorn itu muncul, mereka malah sibuk debat: “Ini benar-benar inovasi, atau cuma diskon yang diperpanjang?”
Kalau China punya WeChat—aplikasi super yang bisa dipakai untuk chatting, bayar, pesan makanan, bahkan mengurus administrasi negara—negara itu, negara yang lain tentu saja, juga punya “super app”.
Bedanya, versi mereka adalah kombinasi dari 10 aplikasi berbeda, 9 password yang lupa, dan 5 OTP yang masuknya telat. Integrasi digital di negara itu bukan soal teknologi, tapi soal kesabaran.
Dalam hal infrastruktur, China membangun 5G seperti membangun jalan tol: cepat, luas, dan terencana.
Di negara itu, negara yang lain tentu saja, mereka juga punya 5G—tapi sifatnya lebih seperti mitos. Semua orang pernah dengar, tapi tidak semua orang pernah merasakan.
Sinyal mereka, di negara itu, seringkali mengajarkan filosofi hidup: bahwa dalam ketidakpastian, mereka harus tetap bersabar… sambil mencari posisi HP yang tepat di sudut rumah. Belum lagi harga paket wifi yang semakin mencekik leher.
Lalu soal kedaulatan data. China sangat protektif—data warganya dijaga seperti resep rahasia keluarga.
Di negara itu, negara yang lain tentu saja, mereka juga tampak patriotik, mereka peduli soal data, tapi data diberikan ke negara Paman Syam… bagaimana kalau data itu bocor?
Mereka, di negara yang bukan China itu, mereka punya siklus digital yang khas: kebocoran data → viral → klarifikasi → lupa → ulangi. Ini bukan bug, ini sudah jadi fitur sosial.
Mungkin perbedaan terbesar ada pada konsistensi. China membangun sistem digital dengan satu arah yang jelas: negara, industri, dan masyarakat relatif sejalan.
Mereka, eh negara itu? Mereka punya banyak arah—begitu banyak, sampai kadang kita sendiri bingung sedang menuju ke mana. Tapi tenang, mereka tetap optimis.
Karena di negeri ini, optimisme seringkali lebih stabil daripada jaringan internet.
Bukan berarti mereka tidak bisa seperti China. Mereka punya talenta, pasar besar, dan kreativitas yang luar biasa.
Masalahnya bukan pada kemampuan, tapi pada kebiasaan: mereka ingin hasil yang sama, tapi dengan usaha yang “nanti dulu”. Mereka ingin teknologi kelas dunia, tapi masih nyaman dengan pola pikir “yang penting jalan”.
Akhirnya, mungkin mereka perlu jujur pada diri sendiri. Meniru China bukan sekadar soal membangun aplikasi atau membatasi platform asing.
Itu soal disiplin, konsistensi, dan keberanian membuat keputusan besar—hal-hal yang di negara itu, negara lain tentu saja, seringkali kalah oleh satu kekuatan maha dahsyat: rapat koordinasi tanpa akhir.
Jadi, apakah negara itu bisa seperti China dalam adopsi teknologi informasi?
Jawabannya: bisa. Tapi dengan satu syarat—mereka harus berhenti hanya meng-upgrade aplikasi, dan mulai meng-upgrade cara berpikir.
Sementara itu, kini mereka menikmati dulu kenyataan: di saat China sudah bicara tentang masa depan AI dan ekosistem digital terintegrasi, mereka masih berjuang dengan satu pertanyaan paling mendasar—
“Oiiii kenapa ini, sinyalnya hilang.” Seru warga pulau terluar sana, di negara mereka itu.









