Sekali lagi, cadangan 20–23 hari itu bukan berarti akan habis. Sistemnya dinamis—masuk dan keluar terus. Jadi jangan dipelintir, karena bisa menimbulkan kepanikan.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia
PELAKITA.ID – Berikut ini adalah transkrip wawancara antara Dwi Anggia dari Kementerian ESDM dengan Sang Menteri, Bahlil Lahadalia.
Berikut kutipannya:
Pengantar oleh host: Sobat Energi, kita tahu sekarang ini memang isu yang lagi panas adalah kondisi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak terhadap kondisi global, terutama pada pasokan minyak dunia. Banyak yang bertanya-tanya, bahkan banyak yang khawatir. Kemarin kita sudah lihat beragam yang viral…
Menteri Bahlil ditampilkan sedang bicara terkait minyak kita yang disebut hanya 20 hari—sekarang 23 hari—yang memang merupakan standar nasional kita. Storage kita memang harus dibangun dulu, karena sejak lama BBM kita hanya maksimal di 25 hari. Saat ini, cadangan BBM kita berada di angka 23 hari.
Jadi, ini sudah di atas standar minimal cadangan nasional.
Host
Nah, ini yang perlu diluruskan agar masyarakat tahu bahwa semua didengarkan oleh Pak Menteri dan ada jawabannya. Pertama, yang sempat membuat khawatir adalah pernyataan yang dipelintir—disebut 21 hari, padahal penjelasannya panjang, tapi dipotong sehingga publik takut: “Wah, jangan-jangan setelah 21 hari BBM kosong.”
Ini perlu pencerahan.
Bahlil Lahadalia
Jadi begini. Pertama, kondisi geopolitik akibat perang Ukraina–Rusia, konflik Palestina–Israel, ditambah ketegangan Iran–Israel dan keterlibatan Amerika, yang menghantam berbagai fasilitas produksi minyak di Timur Tengah, membuat tidak ada satu negara pun yang bisa meramal kondisi ke depan. Dampaknya? Hampir semua negara terimbas, tidak hanya Indonesia.
Bayangkan, Selat Hormuz dilalui kurang lebih 21 juta barel per hari—itu bagian besar dari konsumsi dunia.
Lalu bagaimana Indonesia? Produksi minyak kita saat ini sekitar 605.000 barel per hari, sementara konsumsi kita mencapai 1.600.000 barel per hari. Artinya, kita impor sekitar 1 juta barel per hari. Lalu yang kita impor apa?
Pertama, solar. Kebutuhan solar sekitar 39 juta KL per tahun. Namun, dengan kapasitas industri dalam negeri dan dorongan biodiesel B40 (ke depan B50), kita tidak lagi mengimpor solar. Jadi solar aman—semua bisa dipenuhi dalam negeri.
Kedua, bensin. Total kebutuhan sekitar 40 juta KL. Produksi sebelum RDMP Balikpapan sekitar 14,5 juta KL, dan dengan tambahan dari RDMP menjadi sekitar 20 juta KL. Artinya, kita masih impor sekitar 20 juta KL bensin.
Ketiga, crude oil (minyak mentah). Inilah impor terbesar. Kita impor dari Afrika (Angola), Timur Tengah, Amerika, Brasil, Australia, dan negara lainnya. Dari Timur Tengah sendiri sekitar 20–25% dari total kebutuhan nasional.
Artinya, apakah masyarakat perlu khawatir? Tidak. Karena yang kita impor dari Timur Tengah bukan BBM jadi, melainkan minyak mentah yang kemudian diolah di dalam negeri.
Lalu bagaimana jika Selat Hormuz terganggu? Pemerintah sudah mengantisipasi jauh-jauh hari atas arahan Presiden Prabowo, dengan menjajaki sumber impor dari negara lain seperti Amerika, Angola, dan negara Afrika serta Amerika Latin—sebagian bahkan sudah dimiliki oleh Pertamina. Jadi pasokan 20–25% tadi sudah dialihkan.
Bagaimana jika perang berlangsung lama? Pemerintah sudah menyiapkan kontrak jangka panjang dengan negara lain, termasuk Amerika. Memang jaraknya lebih jauh (hingga 40 hari dibanding 2–3 minggu dari Timur Tengah), tetapi logistik sudah diatur sejak awal. Ini sudah terbukti saat kita mengalihkan impor LPG—yang kini 70% berasal dari Amerika.
Jadi tidak perlu panik. Pemerintah terus bekerja mencari solusi.
Kembali ke isu storage. Yang dimaksud 21–23 hari itu adalah kapasitas tampung, bukan berarti setelah itu BBM habis. Ini seperti tandon air: ada yang keluar, ada yang masuk terus. Produksi dan impor berjalan berkesinambungan.
Sejak Indonesia merdeka, bahkan saat lifting kita mencapai 1,6 juta barel per hari (tahun 1996–1997), kita tidak pernah membangun storage lebih dari 25 hari. Jadi ini kondisi historis. Sekarang, atas arahan Presiden, kita akan membangun storage minimal untuk 3 bulan—standar nasional yang ideal.
Negara lain seperti Jepang bisa sampai ratusan hari, bahkan Belanda lebih dari setahun, karena investasi infrastruktur yang dilakukan sejak awal. Indonesia baru mulai sekarang karena investasi sudah tersedia, dan ini melibatkan swasta—bukan hanya APBN.
Ke depan, storage ini akan menjadi cadangan nasional, dan swasta bisa ikut membangun serta membeli crude dengan transaksi rupiah, sehingga mengurangi tekanan devisa.
Sekali lagi, cadangan 20–23 hari itu bukan berarti akan habis. Sistemnya dinamis—masuk dan keluar terus. Jadi jangan dipelintir, karena bisa menimbulkan kepanikan.
Terkait harga BBM menjelang Idul Fitri, dipastikan tidak akan ada kenaikan untuk BBM subsidi. Negara akan hadir dengan menambah anggaran subsidi, meskipun harga minyak dunia (ICP) naik dari asumsi APBN (70 dolar) menjadi sekitar 100 dolar. Selisihnya masih mampu ditanggung negara.
Untuk BBM non-subsidi, tentu mengikuti mekanisme pasar sesuai aturan sejak 2022. Namun yang mampu diharapkan tidak menggunakan BBM subsidi, karena subsidi harus tepat sasaran bagi masyarakat yang membutuhkan.
Pemerintah juga membutuhkan dukungan masyarakat dalam menjaga ketahanan energi. Gunakan energi secara bijak: hemat listrik, kurangi penggunaan kendaraan pribadi jika tidak perlu. Prinsipnya sederhana: hemat pangkal kaya, boros pangkal susah.
Mengapa storage baru dibangun sekarang? Karena pembangunan tidak sederhana—harus melalui studi kelayakan, desain, hingga konstruksi. Ini bukan sesuatu yang bisa instan.
Selain itu, pemerintah juga mendorong transisi energi. Saat ini masih banyak pembangkit menggunakan diesel, batu bara, dan gas.
Ke depan, akan dikembangkan energi baru terbarukan seperti PLTS 100 GW, geothermal, dan tenaga air, agar tidak bergantung pada energi fosil impor.
Transportasi juga akan didorong ke arah elektrifikasi. Dengan 120 juta motor di Indonesia, konsumsi BBM sangat besar. Konversi ke listrik akan menghemat subsidi dan mengurangi impor.
Program lain adalah pengembangan bioenergi, seperti biodiesel (B40 menuju B50) dan rencana E20 berbasis etanol dari tebu, jagung, dan singkong. Ini akan menekan impor bensin secara signifikan.
Intinya, strategi energi nasional tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menekan impor dan mengoptimalkan sumber daya dalam negeri.
Jadi, masyarakat tidak perlu panik. Negara hadir, kebijakan sudah disiapkan, dan sistem energi kita tetap berjalan.
Yang penting, informasi disampaikan dengan benar dan tidak dipelintir agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.









