Kekuasaan, Ketakutan, dan Narasi dalam Retorika Donald J. Trump

  • Whatsapp
Ilustrasi (Source: MTR)

PELAKITA.ID – Coba baca dan maknai ilustrasi di atas. Bagaimana pendapat sosodara? Gambar ini diambil dari salah satu perbincangan di grup paling fenomenal di kalangan alumni Unhas. Yang mana? Mo tau aja!

Jadi begini.

Di era politik digital, satu unggahan saja dapat memuat lapisan makna yang jauh melampaui permukaannya.

Sebuah pesan yang dikaitkan dengan Donald J. Trump menunjukkan bagaimana komunikasi politik saat ini bukan sekadar soal kebijakan—melainkan tentang membentuk persepsi, identitas, dan respons emosional.

Sekilas, pernyataan tersebut tampak membahas isu operasional yang melibatkan U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE), khususnya penggunaan masker oleh petugas.

Di balik topik yang tampak sempit ini, tersimpan narasi yang lebih luas tentang kekuasaan, kontrol, dan posisi politik.

Inti dari pesan tersebut adalah penggambaran imigrasi sebagai krisis keamanan. Dengan menyebut individu yang ditemui ICE sebagai “penjahat kelas berat,” retorika ini memperkuat strategi lama: membingkai imigrasi bukan sebagai isu kemanusiaan atau ekonomi, melainkan sebagai persoalan penegakan hukum dan ancaman terhadap negara.

Pembingkaian ini sangat kuat secara politik. Ia menyederhanakan isu kompleks menjadi pilihan biner—keamanan versus kekacauan—sehingga lebih mudah memobilisasi opini publik. Selain itu, fokus perdebatan pun bergeser dari nuansa kebijakan ke reaksi emosional.

Pesan tersebut tidak berhenti pada kebijakan. Ia secara langsung menyalahkan tokoh politik seperti Joe Biden dan Kamala Harris. Dengan penggunaan label seperti “Sleepy Joe” dan “Border Czar,” persoalan sistemik dipersonalisasi dan diubah menjadi simbol kegagalan.

Strategi ini memiliki dua tujuan penyederhanaan – Dinamika kompleks imigrasi direduksi menjadi keputusan kepemimpina dan polarisasi – Lawan politik tidak hanya dianggap salah, tetapi juga diposisikan sebagai penyebab kemunduran negara.

Penggunaan Kontradiksi Secara Strategis

Salah satu elemen paling mencolok adalah kontradiksi terkait masker. Di satu sisi, pesan tersebut mendukung penggunaan masker oleh agen ICE sebagai alat perlindungan dan kebutuhan operasional. Di sisi lain, ia menolak penggunaan masker dalam konteks publik yang lebih luas.

Ini bukan sekadar ketidakkonsistenan—melainkan strategi. Perbedaannya terletak pada siapa yang memegang kekuasaan. Masker bagi aparat penegak hukum melambangkan otoritas, anonimitas, dan kontrol dan masker bagi masyarakat umum dapat dipersepsikan sebagai pembatasan atau paksaan.

Dengan demikian, objek yang sama—masker—memiliki makna yang sepenuhnya berbeda tergantung konteks. Ia berubah menjadi simbol politik, bukan lagi alat netral.

Gaya retorikanya sangat khas: penggunaan huruf kapital, kata sifat yang kuat, dan nada pernyataan yang tegas. Istilah seperti “INSANE” dan “MESS” bukanlah argumen kebijakan, melainkan pemicu emosi.

Bahasa seperti ini dirancang untuk konsumsi cepat di media sosial. Ia mendorong orang untuk berbagi, bereaksi, dan berpihak, bukan untuk merenung.

Pendukung merasa tervalidasi; pengkritik merasa terprovokasi. Dalam kedua kasus, tingkat keterlibatan meningkat.

Bahkan identitas visual yang menyertai pesan tersebut—perpaduan wajah dengan bendera Amerika—memperkuat narasi yang lebih dalam. Ia tidak hanya merepresentasikan kepemimpinan, tetapi juga seolah menjadi perwujudan dari negara itu sendiri.

Ini adalah langkah simbolik yang kuat. Ia mengubah perbedaan politik menjadi sesuatu yang lebih eksistensial: ketidaksetujuan terhadap pemimpin secara implisit diposisikan sebagai ketidaksetujuan terhadap negara.

Dampak terhadap Wacana Publik

Pesan seperti ini tidak hanya membentuk opini, tetapi juga membentuk struktur perdebatan. Dengan menekankan ancaman, menyalahkan pihak tertentu, dan menggunakan bahasa emosional, ruang untuk diskusi yang bernuansa menjadi semakin sempit.

Hasilnya adalah lingkungan wacana di mana kompleksitas disederhanakan, lawan dideligitimasi, resonansi emosional mengalahkan kedalaman fakta

Namun pendekatan ini efektif. Ia selaras dengan dinamika media modern, di mana perhatian sangat terbatas dan kejelasan—meskipun disederhanakan—sering kali lebih unggul dibanding kompleksitas.

Apa yang tampak sebagai pernyataan sederhana tentang masker dan penegakan hukum, sebenarnya adalah pesan politik yang berlapis dan terstruktur dengan cermat.

Ia memadukan kebijakan, simbolisme, dan emosi menjadi sebuah narasi yang dirancang untuk beresonansi kuat dengan audiens tertentu.

Dalam lanskap politik saat ini, komunikasi bukan sekadar menyampaikan gagasan—melainkan membangun realitas. Dan di dalam arena itu, setiap kata, simbol, dan bahkan kontradiksi memiliki tujuan.

___
Tamarunang, 23 Maret 2026