PELAKITA.ID – Bagi netizen, Ridwan Kamil mungkin sudah tamat. Sejumlah kasus menjeratnya termasuk dari dalam rumah tangganya. RK pergi, datang KDM, Kang Dedi Mulyadi.
Malam ini, di sempadan Sungai Jeneberang, saya menonton tidak kurang duapuluhan video yang menceritakan terobosan KDM dalam memoles jalan di pelosok Jawa Barat. Selain itu, juga mendengarkan tentang sejumlah kuot-kuot bertenaga tentang ledership dan pembuktianya.
Sesekali konten Gubernur Jawa Barat nongol di linimasa, lalu Gubernur Kalimantan Timur. Kontras, jauh beda.
Sebagai yang pernah bersua, atau berbincang sejenak dengan Ridwan Kamil saat datang ke Makassar beberapa 4 tahun lalu, dan juga mengagumi kemampuannya memanfaatkan media sosial dalam menggaet dukungan, rasanya tidak ada salahnya jika kita sandingkan antara RK dan KDM.
Tentang KDM
Di Jawa Barat, sosok Dedi Mulyadi identik dengan pemimpin yang terasa dekat dengan rakyat, ini saya bisa lihat dari banyak konten pujian, juga jalan-jalan mulus di sepanjang jalan di Jawa Barat.
Bagi penulis, popularitas KDM tidak semata dibangun lewat strategi komunikasi modern, melainkan tumbuh dari gaya hidup, pendekatan budaya, dan konsistensi sikap yang dipandang autentik.
Kombinasi ini melahirkan ikatan emosional yang kuat, terutama di kalangan masyarakat akar rumput.
Salah satu kunci kecintaan publik terhadap Dedi adalah kedekatannya dengan budaya Sunda.
Ia tidak hanya menjadikannya simbol politik, tetapi benar-benar menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari atau kata orang berbahasa Makassar, singkkammai bulu na kokona alias serupa bulu (iundah) dan kokoknya.
Mulai dari cara berpakaian, gaya bertutur, hingga kebijakan saat memimpin Purwakarta, KDM mencerminkan upaya menjaga nilai-nilai lokal. Ia kerap mengangkat pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan tradisi—gagasan yang sangat selaras dengan identitas masyarakat Jawa Barat.
Pendekatannya kepada rakyat pun terbilang berbeda. Dedi dikenal sering hadir langsung di tengah masyarakat, bahkan dalam situasi yang tidak formal.
Ia berdialog dengan warga kecil, membantu mereka yang membutuhkan, hingga turun tangan menyelesaikan persoalan sosial. Pola ini menciptakan citra pemimpin yang tanpa sekat.
Di tengah persepsi politik yang kerap elitis, gaya seperti ini terasa lebih hangat dan menyentuh.
Keunggulan lain Dedi terletak pada kemampuannya merangkai narasi moral. Ia berbicara tentang etika, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial dengan bahasa sederhana namun kuat.
Hal ini membuatnya tidak sekadar dipandang sebagai politisi, tetapi juga sebagai figur pembimbing bagi sebagian masyarakat. Di era media sosial, pesan-pesan semacam ini mudah menyebar dan memperkuat citra ketulusannya.
Untuk melihat gambaran yang lebih utuh, menarik membandingkannya dengan Ridwan Kamil, figur lain yang juga memiliki pengaruh besar di Jawa Barat. Meski sama-sama populer, keduanya menawarkan gaya kepemimpinan yang kontras.
Bagaimana dengan RK?
Ridwan Kamil dikenal sebagai teknokrat sekaligus inovator. Latar belakangnya sebagai arsitek membentuk pendekatan yang rasional, berbasis data, dan berorientasi pada solusi masa depan.
Selama memimpin Bandung hingga Jawa Barat, ia mendorong pembangunan infrastruktur, konsep kota pintar, serta digitalisasi layanan publik.
Gaya komunikasinya pun lebih urban dan kreatif, dengan pemanfaatan media sosial yang kuat dan menarik.
Perbedaan utama keduanya terletak pada sumber legitimasi.
Dedi Mulyadi bertumpu pada kedekatan kultural dan emosional, sementara Ridwan Kamil menonjolkan kinerja dan rasionalitas.
Dedi berbicara tentang akar dan tradisi, sedangkan Ridwan Kamil menekankan inovasi dan efisiensi. Keduanya tidak saling bertolak belakang, melainkan menghadirkan pendekatan yang berbeda.

Dari sisi komunikasi, Dedi tampil sederhana dan apa adanya, dengan pendekatan yang menyentuh hati.
Sebaliknya, Ridwan Kamil mengelola citra secara lebih terstruktur melalui visual, storytelling digital, dan strategi media yang matang. Ini membuatnya kuat di kalangan generasi muda dan masyarakat perkotaan.
Dalam kebijakan, Dedi lebih fokus pada aspek sosial-budaya—mulai dari pendidikan karakter hingga penanganan masalah sosial berbasis kearifan lokal.
Sementara itu, Ridwan Kamil menaruh perhatian pada pembangunan fisik dan sistem, seperti transportasi, tata kota, dan layanan berbasis teknologi. Perbedaan ini mencerminkan cara pandang masing-masing terhadap pembangunan.
Meski berbeda arah, keduanya memiliki kesamaan: kemampuan menjalin koneksi dengan publik.
Dedi melakukannya melalui empati dan kedekatan personal, sedangkan Ridwan Kamil melalui inspirasi dan inovasi. Dalam realitas Jawa Barat yang beragam, dua pendekatan ini justru saling melengkapi.
Pada akhirnya, kekuatan utama Dedi Mulyadi terletak pada persepsi keaslian dirinya. Ia dipandang tidak sekadar memainkan peran sebagai pemimpin, tetapi benar-benar hidup dalam nilai yang ia sampaikan—sebuah kualitas yang sulit direkayasa.
Di sisi lain, Ridwan Kamil menunjukkan bahwa kepemimpinan modern yang kreatif dan adaptif juga mampu meraih simpati luas.
Dua tokoh ini merepresentasikan dua wajah Jawa Barat: satu berakar pada tradisi, satu lagi bergerak menuju modernitas.
Di antara keduanya, masyarakat menemukan pilihan—sekaligus harapan—tentang arah masa depan kepemimpinan, tapi sekatang,
KDM di atas angin, RK – meski banyak dibantah orang dekat – dalam bayang-bayang gosip yang berkaitan Aura Kasih, coba pantau konten netizen atau medsos belakangan ini.
___
Tamarunang, 24 Maret 2026









