Selamat Datang di Dunia Saling Memaafkan, Semoga Bukan Hanya Musim tapi Iklim

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

PELAKITA.ID – Ucapan maaf memaafkan berkeliaran saling bersahutan memenuhi dunia maya. HP tak berhenti  menerima  notifikasi ucapan selamat Idulfitri dan permohonan maaf yang tulus.

Dari pribadi ke pribadi, grup, komunitas, dan semua media sosial, tak ada yang absen mengucapkan. Ucapan ucapan  itu bervariasi dari kalimat biasa, indah, lucu dan menggoda. Tapi ada juga yang bernuasa menyindir suasana perang Iran AS Israel, misalnya :q semua dimaafkan kecuali Israel dan Donald Trump. Namun itu tak merusak suasana lebaran yang syahdu.

Hari istimewa bernama Idulfitri itu baru saja kita lewati atau mungkin belum sepenuhnya berlalu, sebab jejaknya masih hangat di dada.

Ia bukan sekadar tanggal dalam kalender, melainkan momentum psikologis dan spiritual yang memantik kesadaran kolektif
bahwa manusia, betapapun rapuhnya, selalu memiliki ruang untuk kembali menjadi bening.

Dalam perspektif ilmiah-populer, fenomena saling memaafkan ini menarik dibaca sebagai “ledakan empati sosial.” Sebuah kondisi di mana individu, yang sepanjang tahun terfragmentasi oleh ego, kepentingan, dan prasangka, tiba-tiba memasuki fase rekonsiliasi massal. Bahasa menjadi medium penyembuhan. Kata “maaf” bukan lagi sekadar diksi, melainkan energi yang mengalir, menembus sekat-sekat relasi.

Andai suasana dunia ini bisa diilustrasikan, maka ia akan tampak bersih, bening, putih, tak ternoda. Tidak ada kebencian. Tidak ada dendam yang mengendap. Yang tersisa hanyalah cinta, damai, dan ketenangan. Sebuah utopia yang, anehnya, justru terasa nyata. Meski hanya dalam hitungan hari.

Di situlah letak tantangannya.

Apakah dunia yang saling memaafkan ini hanya sebuah “musim,” atau ia bisa menjadi “iklim” yang menetap?

Sebab sejarah manusia menunjukkan, memaafkan itu mudah diucapkan, tetapi sulit dipertahankan. Ia seperti embun pagi: jernih, sejuk, namun cepat menguap ketika matahari ego mulai meninggi.

Kata maaf yang memenuhi semesta hari-hari ini seharusnya tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Ia perlu ditransformasikan menjadi etika hidup.

Dalam psikologi, memaafkan terbukti menurunkan stres, memperbaiki relasi sosial, bahkan meningkatkan kesehatan mental. Dalam spiritualitas, ia adalah jalan menuju kebersihan jiwa. Sementara dalam konteks sosial, ia menjadi fondasi bagi peradaban yang beradab.

Lebaran telah memberi kita simulasi tentang dunia yang damai. Dunia tanpa prasangka. Dunia yang saling merangkul, bukan saling menjatuhkan. Dunia di mana manusia lebih sibuk mengoreksi diri daripada menyalahkan orang lain.

Kini, pertanyaannya bukan lagi “siapa yang salah,” melainkan “siapa yang mau memulai untuk tetap memaafkan.”

Kondisi yang kita rasakan hari ini seharusnya terus dijaga dan dipelihara. Kata dan suasana maaf harus beranak pinak, tumbuh, dan menyebar melampaui batas waktu dan ruang.

Ia tidak boleh berhenti di ucapan, tetapi menjelma menjadi tindakan: dalam keluarga, di tempat kerja, di ruang publik, bahkan dalam percakapan-percakapan kecil yang sering kita abaikan.

Selamat datang di dunia yang saling memaafkan.

Sebuah dunia yang mungkin sederhana, tetapi justru di situlah letak kemegahannya.

Karena ketika manusia memilih untuk memaafkan, sesungguhnya ia sedang menyelamatkan dirinya sendiri. Dan yang pasti menyelamatkan dunia walau pelan.

_____

Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”