Dalam epidemiologi, kita mengenal konsep herd cohesion—keterpaduan populasi yang memungkinkan respons kolektif terhadap suatu peristiwa. Ketika kohesi ini melemah, bukan hanya penyakit yang lebih mudah menyebar, tetapi juga kondisi sosial seperti kesepian.
PELAKITA.ID – Setiap Hari Raya Idul Fitri, kita merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa—menahan diri dengan kesabaran demi mengharap ridha Allah SWT.
Seperti banyak fenomena sosial lainnya, kemenangan ini juga memiliki “efek samping” yang jarang kita sadari: kesepian.
Kesepian pasca-Lebaran bukan sekadar perasaan individual. Ia adalah gejala kolektif—diam-diam menyebar, sulit dideteksi, tetapi berdampak nyata.
Jika kita meminjam perspektif epidemiologi, kesepian ini memiliki tiga unsur utama: host, agent, dan environment yang saling berkelindan.
Host-nya adalah kita semua—masyarakat yang semakin terbiasa hidup dalam kecepatan, tetapi perlahan kehilangan kedalaman perjumpaan.
Agent-nya adalah kombinasi efisiensi digital, budaya kinerja, dan fragmentasi sosial yang kian dinormalisasi: ucapan massal di grup, interaksi berbasis unggahan, hingga perayaan yang tidak lagi serempak.
Environment-nya adalah lanskap sosial yang berubah: ruang tamu yang kosong, tetangga yang hadir hanya lewat layar, anak-anak yang tak lagi mengetuk pagar mengucap salam, hingga kampus yang menggantikan dialog dengan sistem.
Dalam satu rumah profesor senior, seluruh variabel itu berkumpul.
Di sinilah muncul gejala baru yang mempercepat “penularan”. Pada Idul Fitri 1447 H, salat Ied dilaksanakan dalam dua waktu—versi Muhammadiyah dan pemerintah. Warga terbelah dalam dua momentum khidmat. Tidak semua berdiri dalam satu saf, tidak semua berbagi pagi pembebasan yang sama.
Secara teologis, hal ini dapat dijelaskan. Namun secara sosial, ia menciptakan jarak yang halus—tetapi nyata.
Yang satu sudah merayakan, yang lain baru akan merayakan.
Yang satu telah saling berkunjung, yang lain belum memulai.
Ritme kolektif pun terpecah.
Di kompleks dosen Tamalanrea, kondisi ini terasa berlapis. Sejak dulu, Lebaran di sana memang tidak pernah sepenuhnya semarak. Lebih dari separuh dosen dan keluarganya memilih mudik. Kompleks telah “terbiasa sunyi”.
Sunyi yang sekarang terasa berbeda.
Dulu, ia adalah kesunyian sementara—sebuah jeda sebelum kehidupan kembali. Kini, ia menjadi sunyi yang berlapis: diperkuat oleh fragmentasi waktu, digitalisasi relasi, dan kebiasaan menunda silaturahmi.
Ruang tamu kosong—padahal telah dibersihkan berhari-hari sebelumnya.
Tetangga tidak datang.
Anak-anak tidak lagi mengetuk pagar. Kini, bahkan hari rayanya tidak sepenuhnya sama.
Dalam epidemiologi, kita mengenal konsep herd cohesion—keterpaduan populasi yang memungkinkan respons kolektif terhadap suatu peristiwa. Ketika kohesi ini melemah, bukan hanya penyakit yang lebih mudah menyebar, tetapi juga kondisi sosial seperti kesepian.
Lebaran, yang dahulu menjadi puncak kohesi sosial, kini mengalami “desinkronisasi”.
Kita tidak lagi merayakan dalam satu waktu, satu ritme, satu suasana silaturahmi. Kita merayakan dalam versi masing-masing—terhubung secara digital, tetapi terpisah secara pengalaman.
Setelah itu, datang fase berikutnya: Work From Home (WFH). Halal bi halal antar civitas academica tertunda. Momentum untuk menyatukan kembali yang terpecah tidak segera terjadi.
Dalam istilah epidemiologi, ini menyerupai kegagalan intervensi pada fase krusial. Alih-alih memulihkan koneksi sosial, kita justru membiarkannya menggantung.
Akibatnya, kesepian tidak hanya menyebar—ia mengendap.
Gejalanya mungkin tidak langsung terasa, tetapi perlahan muncul dalam bentuk relasi yang semakin tipis, percakapan yang semakin dangkal, dan kehidupan sosial yang semakin terfragmentasi.
Kita tetap berkomunikasi, tetapi kehilangan makna silaturahmi.
Kita tetap terhubung, tetapi tidak lagi serempak dan semerbak suasana Lebaran.
Di situlah letak persoalannya: manusia tidak hanya membutuhkan hubungan, tetapi juga membutuhkan ritme bersama. Tanpa itu, kebersamaan berubah menjadi ilusi yang tersusun dari fragmen-fragmen kecil.
Di layar ponsel, ucapan “Selamat Idul Fitri” mengalir deras—dari mereka yang sudah merayakan, yang baru merayakan, bahkan dari mereka yang sekadar merasa perlu mengunggah.
Semua tampak terhubung. Jika kita jujur, ada sesuatu yang tidak lagi utuh.
Kesepian pasca-Lebaran bukan sekadar ketiadaan orang lain. Ia adalah hasil dari relasi yang terpecah, waktu yang tidak lagi serempak, dan silaturahmi yang terus ditunda.
Jika kondisi ini berlanjut, kita tidak hanya menghadapi perubahan budaya—kita sedang menyaksikan transformasi diam-diam dalam kesehatan sosial masyarakat perkotaan.
Sebuah epidemi tanpa gejala mencolok, tanpa alarm keras, namun perlahan menggerus kemampuan kita
untuk benar-benar merasa bersama dalam magnit silaturahmi.
Dalam Surah An-Nisa ayat 36 ditegaskan betapa pentingnya menjalin silaturahmi—bahkan berdampingan dengan perintah untuk beribadah kepada Allah SWT.
Di sanalah letak hakikat Idul Fitri: bukan sekadar perayaan, tetapi pemulihan hubungan.
___
Tamalanrea, 22 Maret 2026
Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Kesehatan FKM Unhas









