Takbir Bergema di Taman Dataran Indah, Hakikat Penciptaan Manusia dan Bakti kepada Orang Tua

  • Whatsapp
Idul Fitri tahun ini terasa lebih bermakna bagi warga. Banyak jamaah tertunduk haru, menyadari bahwa setiap sujud yang dilakukan melibatkan peran biologis ayah dan ibu.
  • Sebelum pelaksanaan shalat dimulai, suasana hangat dan penuh apresiasi mewarnai lapangan. Ketua Dewan Kehormatan Masjid Amirah Al-Aqsa, Prof. Nukhrawi Nawir, dalam sambutannya menyampaikan bahwa hari fitri merupakan momentum kemenangan bagi umat Muslim.
  • Ia menekankan bahwa esensi kemenangan sejati adalah kemampuan mempertahankan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari—kejujuran, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama.

PELAKITA.ID – Sabtu pagi, 21 Maret 2026 (1 Syawal 1447 H), langit seolah memberikan restu terbaiknya. Cahaya mentari yang hangat menyambut langkah warga Perumahan Taman Dataran Indah yang berbondong-bondong memadati halaman kompleks.

Beralaskan sajadah dan dengan hati yang bersih, warga menunaikan shalat Idul Fitri dalam suasana khidmat dan penuh kemenangan.

Gema takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd,” bersahutan memecah keheningan pagi, menandai berakhirnya bulan suci Ramadan.

Sebelum pelaksanaan shalat dimulai, suasana hangat dan penuh apresiasi mewarnai lapangan. Ketua Dewan Kehormatan Masjid Amirah Al-Aqsa, Prof. Nukhrawi Nawir, dalam sambutannya menyampaikan bahwa hari fitri merupakan momentum kemenangan bagi umat Muslim.

Ia menekankan bahwa esensi kemenangan sejati adalah kemampuan mempertahankan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari—kejujuran, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama.

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengajak seluruh jamaah untuk terus menjaga ukhuwah Islamiyah, memperkuat semangat gotong royong, serta memakmurkan masjid sebagai pusat kebersamaan warga.

Ia turut menyampaikan terima kasih atas kepercayaan warga dalam menyalurkan zakat fitrah melalui Masjid Amirah Al-Aqsa.

Dalam laporannya, seluruh zakat telah didistribusikan tepat sasaran kepada para mustahik (asnaf). Bahkan, tahun ini masjid mampu menyantuni 11 orang mualaf di sekitar lingkungan tersebut.

“Zakat yang Bapak dan Ibu berikan bukan sekadar kewajiban, melainkan jembatan kasih bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujarnya.

Memasuki khutbah Idul Fitri, Khatib Ustaz Salahuddin Rahman Al Ayyubi, S.Pd.I., menyampaikan pesan mendalam mengenai alasan mendasar kewajiban seorang anak berbakti kepada orang tua. Ia mengaitkan rukun shalat yang berjumlah 13 dengan hakikat penciptaan manusia.

“Tubuh yang kita bawa bersujud hari ini adalah pinjaman yang tersusun dari rukun 13,” ungkapnya di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan bahwa manusia merupakan perpaduan antara anugerah langsung dari Allah SWT dan unsur yang diwariskan oleh kedua orang tua.

Memasuki khutbah Idul Fitri, Khatib Ustaz Salahuddin Rahman Al Ayyubi, S.Pd.I., menyampaikan pesan mendalam mengenai alasan mendasar kewajiban seorang anak berbakti kepada orang tua. Ia mengaitkan rukun shalat yang berjumlah 13 dengan hakikat penciptaan manusia.

Dari Allah SWT, manusia menerima unsur kehidupan berupa pancaindra—pendengaran, penglihatan, penciuman, dan perasa—serta ruh sebagai sumber kehidupan.

Dari ayah, manusia memperoleh struktur tubuh seperti tulang, sumsum, urat, dan kuku. Sementara dari ibu, mengalir unsur yang membentuk kelembutan dan sistem saraf, seperti darah, daging, kulit, dan otak.

“Setiap rukun shalat yang kita lakukan sejatinya adalah bentuk pengembalian seluruh unsur tersebut kepada Sang Pencipta,” tambahnya.

Dalam suasana yang semakin hening, Ustaz Salahuddin mengajukan pertanyaan reflektif yang menyentuh hati jamaah:

“Mengapa Allah belum mengampuni dosa-dosa kita, padahal Ramadan adalah bulan ampunan? Bisa jadi karena kita lalai terhadap orang tua.”

Ia menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk kembali dan bersimpuh di hadapan Allah SWT. Setiap air mata tobat akan menjadi saksi yang meringankan di hari kemudian.

Ia juga mengingatkan bahwa setelah Ramadan berlalu, ujian sesungguhnya adalah bagaimana seseorang memperlakukan kedua orang tuanya.

“Beruntunglah kalian yang masih memiliki orang tua. Sapa dan muliakan mereka, karena keridaan Allah terletak pada keridaan mereka,” pesannya dengan suara bergetar.

Pesan tersebut menggugah suasana haru. Sejumlah jamaah, terutama ibu-ibu, tampak terisak dan mengusap air mata, larut dalam perenungan yang mendalam.

Idul Fitri tahun ini terasa lebih bermakna bagi warga. Banyak jamaah tertunduk haru, menyadari bahwa setiap sujud yang dilakukan melibatkan peran biologis ayah dan ibu.

Bagi mereka yang telah mengkhatamkan Al-Qur’an dan menjaga shalat tarawih sepanjang Ramadan, momen ini menjadi penguat tekad untuk mempersembahkan pahala ibadah sebagai hadiah bagi orang tua.

Rangkaian ibadah ditutup dengan doa yang khusyuk dan menyentuh. Khatib membimbing jamaah memohon ampunan secara menyeluruh, menyebutkan satu per satu anggota tubuh—mata, telinga, lisan, tangan, hingga kaki—agar disucikan dari segala khilaf dan dosa.

Kebersamaan pagi itu semakin lengkap dengan jamuan hangat dari keluarga Ibu Hj. Andi Chandra yang mengundang khatib dan sebagian jamaah untuk bersilaturahmi. Suasana tersebut menjadi wujud syukur sekaligus mempererat hubungan antarwarga.

Kemenangan ini menjadi pengingat akan hakikat diri: bahwa manusia ada karena cinta orang tua dan hidup karena napas yang dipinjamkan oleh Allah SWT.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya kariim. Mohon maaf lahir dan batin.

Penulis: Fadiah Machmud